Senin, Jun 17, 2019
radio
Sabtu, 04 Mei 2019 22:52

Warkop Buya Solusi Selera Kopi Anda Dengan Suguhan Menu Khas Tradisional

Ditulis oleh
Nilai butir ini
(1 Pilih)

Andi Hamka Palewai, Owner Warkop Buya Tolitoli

 
Alasannews.com, Tolitoli-Sulteng | Popularitas Warung Kopi (Warkop) menjadi tempat nongkrong masih yang teratas di Tolitoli. Para pecinta kopi, dari semua kalangan di kota ini menghabiskan waktu di warkop yang tersebar di beberapa titik. 
 
Setiap kota terasa tak lengkap jika tak memiliki 'stasiun' kopi. Ya, namanya Warkop.
 
Salah satu dari sekian banyak warung kopi itu adalah Warkop Buya. Warkop asuhan Andi Hamka Palewai ini beroperasi di Jl. Ismail Bantilan, Kelurahan Panasakan.
 
Disela-sela kesibukannya, Owner Warkop Buya, Andi Hamka Palewai, menyempatkan waktu menerima dan berbincang denga awak redaksi Alasannews.com di warkop miliknya, Sabtu, (4/5/2019)
 
Dalam perbincangan itu, penggagas Kopi Buya ini menceritakan mengenai inisiasi awal hingga filosofi yang terkandung dalam setiap suguhan dari racikan kopinya.
 
"Meracik kopi itu harus dengan rasa. Dari rasa itu yang melahirkan cinta. Dengan itu, kopi akan disambut dengan cinta pula oleh pecintanya," demikian Andi Hamka dengan nada agak serius.
 
Kopi suguhan Warkop Buya, diklaim Andi Hamka sebagai kopi generasi pertama jika mengacu dari cara meracikanya. 
 
Untuk menjaga keaslian citarasanya, Andi Hamka masih turun langsung meraciknya. Kalau pun dilakukan oleh anak asuhannya, maka Andi Hamka akan terus mengontrolnya.
 
Disamping kopinya yang khas, Warkop buya menyediakan berbagai jenis menu suguhan yang umumnya tersedia di cafe atau warkop pada umumnya. 
 
Namun demikian, dari semua menu yang ada, menu andalannya adalah Kaledo, Palubasa dan Palumara.
 
Tiga menu andalannya itu semua khas tadisional daerah yang dikenal di Sulawesi. Kaledo adalah khas tradisional Palu, Sulawesi Tengah. Sedangkan Pallumara dan Pallubasa adalah khas tradisional Sulawesi Selatan.
 
"Kita perlu mengangkat dan terus melestarikan makanan tradisional kita. Namun perlu dikombinasi dengan selera kekinian agar bisa diterima dengan baik oleh konsumen masa kini," terang Andi Hamka.
 
Warkop Buya sesungguhnya adalah warkop pendatang baru di Tolitoli. Namun dengan keunggulan cita rasa kopi serta Tiga menu andalannya, diyakini mampu menjadi Warkop yang kompetitif di Tolitoli.
 
Terbukti, baru lounching beberapa bulan lalu, warkop yang awalnya buka di Jalan Trans Sulawesi, Ginunggung itu, kini selalu ramai dengan pengunjung.
 
Menyinggung penataan dan penampilan ruang Warkop, Andi menjelaskan bahwa desain konsep tempat yang ditampilkan dalam penataan Warkop Buya, menggunakan konsep minimalis dan tradisional.
 
Suasana Pengunjung Warkop Buya Malam Minggu, 4 Mey 2019
 
Pantauan media ini, selama berada di warkop itu hingga malam hari, pengunjung memang agak ramai. Umumnya kalangan muda. Mungkin karena bertepatan malam Minggu.
 
Rahman salah seorang pengunjung, menuturkan bahwa hari-hari waktunya dihabiskan nongkrong di Warkop Buya.
 
"Kopinya enak dan pas di lidah saya. Belum lagi selalu ramai. Teman-teman saya selalu ngumpul disini," aku Rahman.
 
Senada dengan Rahman, Wahyu yang sehari-harinya adalah jurnalis, mengaku senang nongkrong sambil mencari inspirasi baru sebagai bahan tulisannya.
 
Disini banyak ketemu teman-teman. Bisa berdiskusi dan menemukan ide-ide baru," tutur Ketua PWRI Tolitoli ini.
 
Beberapa pengunjung lainnya yang ditemui mengaku merasa senang. Mereka terlihat enjoy menikmati malam akhir pekannya di Warkop Buya...... (Mrf).
 
 
Baca 190 kali Terakhir diubah pada Minggu, 05 Mei 2019 10:05

Berikan komentar

TULIS PESAN

Kontak Polisi

RESOR PALU