Senin, November 18, 2019
Jumat, 11 Oktober 2019 12:21

Penerjuan AURI Pertama Tutup Usia

Ditulis oleh
Nilai butir ini
(2 pemilihan)

Alasannews.com, Jakarta - Imanuel Nuhan telah berpulang pada usia 96 tahun. Pada 72 tahun lalu, Nuhan dan 12 prajurit lainnya melakukan aksi yang berani. Mereka terjun dari pesawat ke tanah Kalimantan tanpa pendidikan terjun yang memadai.

Peristiwa itu menjadi tonggak sejarah, menandai lahirnya Satuan Tempur Darat Matra Udara yang dimiliki TNI AU. Aksi penerjunan Nuhan dan kawan-kawan dilatarbelakangi blokade Belanda di Laut Jawa. Blokade Belanda membuat aliran bantuan dari Jawa ke Kalimantan terhambat.

Dilansir detikcom dari situs resmi TNI AU, Kamis (10/10/2019), warga Kalimantan tidak terima dengan pendudukan NICA (Pemerintahan Sipil Hindia-Belanda) karena Indonesia sudah merdeka sejak 17 Agustus 1945. Warga Kalimantan membentuk pemerintahan daerah sebagai bagian dari Indonesia. Mereka juga berharap ada pelatihan dari Jawa supaya dapat melawan penjajah Belanda.

Namun pelatihan dari Jawa tak bisa datang lantaran laut diblokade oleh Belanda. Satu-satunya jalan mendatangkan tentara dari Jawa ke Kalimantan adalah lewat udara. Gubernur Kalimantan Muhammad Noor meminta bantuan kepada Kepala Staf AU Komodor Udara Suryadi Suryadarma untuk melatih pemuda-pemuda Kalimantan. Pihak AU kemudian berencana membentuk tim penerjun payung.

Dalam waktu singkat, 60 pejuang dari Kalimantan, Sulawesi, Jawa, dan juga dari Madura berhasil dikumpulkan. Mereka semua bersedia diterjunkan ke Kalimantan. Pelatihan terjun payung dilakukan oleh AURI di Maguwo, Yogyakarta.

Sayangnya, waktu latihan sangat singkat. 60 Pejuang hanya mendapat pelatihan di darat selama sepekan. Latihannya berupa teori terjun dan cara melipat payung. Mereka tidak sempat dilatih terun dari pesawat. Akhirnya, tak semua dari 60 orang itu terpilih untuk diterjunkan di Kalimantan melainkan hanya 12 orang saja yang diambil.

12 Orang terpilih itu semua paham Bahasa Dayak Kahayan, bahasa yang dituturkan di titik penerjunan, ditambah dua orang non-Kalimantan yakni montir radio dan juru radio. Total ada 14 orang penerjun yang akan berangkat ke Kalimantan.

Salah satu dari mereka adalah Imanuel Nuhan, putra Dayak dari Kahayan Hulu. Misi Nuhan dan kawan-kawan adalah membentuk dan menyusun kekuatan inti gerilya di daerah asal Suku Dayak, membuka stasiun pemancar induk, serta menyiapkan daerah penerjunan untuk operasi selanjutnya. Diharapkan dengan adanya pemancar radio di Kalimantan, maka koordinasi dengan pejuang Jawa dan Sumatera bisa berjalan lebih mudah.

Hari penerjunan telah tiba, yakni 17 Oktober 1947. Dini hari, pilot Bob Earl Freeberg, co-pilot Opsir Udara III Makmur Suhodo, dan Operator Penerjun Opsir Muda Udara III Amir Hamzah telah bersiap di pesawat Dakota RI-002. Mayor Tjilik Riwut bertindak sebagai penunjuk daerah penerjunan. Ditetapkanlah satu titik tujuan penerjunan: Sepanbiha (saat ini masuk Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah).


Pukul 02.30 WIB, pesawat Dakota RI-002 yang membawa 14 penerjun lepas landas dari Maguwo. Pukul 05.30 pagi, Dakota RI-002 sudah melayang-layang di atas rawa-rawa Kalimantan. Tjilik Riwut sempat ragu, apakah mereka sudah berada di atas Sepanbiha atau belum. Terlepas dari keraguan itu, dia akhirnya memutuskan sekaranglah saatnya untuk menerjunkan para prajurit.

Di antara 14 prajurit, ada satu yang tak jadi terjun karena takut, namanya Djarni. Yang lain langsung terjun. Adapun ke-13 anggota pasukan payung yang berhasil mendarat dengan selamat adalah Hari Hadisumantri, Achmad Kosasih, (Mangkahulu), Iskandar, Ali Akbar (Balikpapan), Mica Amiruddin, Imanuel Nuhan (Kahayanhulu), C Williams (Kuala Kapuas), Morawi (Rantau Pulut), Bachri (Barabai), Darius (Kadingan), M Dachlan (Sampit), J Bitak (Kepala Baru), dan Suyoto.


Beberapa dari mereka tersangkut di pohon. Mereka mendarat di tempat-tempat terpisah. Tak semua parasut bisa ditemukan kembali. Semuanya baru bisa berkumpul pada hari ketiga.

Baca 25 kali Terakhir diubah pada Jumat, 11 Oktober 2019 12:27

Berikan komentar

TULIS PESAN

Kontak Polisi

RESOR PALU