Minggu, Januari 19, 2020
Spot Wisata
Spot Wisata

Spot Wisata (35)

Senin, 06 Januari 2020 20:07

Bukit Asa Tolitoli, Destynasi Baru Menakjubkan

Ditulis oleh

TOLITOLI -- alasannews | Potres bukit Asa -- puncak dan lembah Lampasio -- saat musim hujan. Kapung berselibut kabut di Tolitoli--Sulawesi Tengah itu, kini jadi salah satu objek sekaligus destynasi yang penuh sensasi. Bagaimana ceritanya? Bukit asa sebetulnya bukanlah nama asli. Namanya sebenarnya adalah Babo Anjam (puncak Anjam) atau punjung Anjam. Tapi pegiat wisata di Tolitoli, menamai kawasan dengan sebutan Asa atau bukti asa. Ini bermula ketika mereka mengamaiti kabun tebal yang saban pagi menyelimuti kawasan itu sebagai satu potensi yanh sangat sensasional.bila dikemas menjadi objek wisata terkhusus. Sellimut kabut yang begitu yeras bila melintasi jalan trans Sulawesi yang membela bukti itu, sangat jaeang bahkan tidak kita temui ditempat lait di negeri ini. Itulah sebabnya, pegiat wisata bapak Amiruddin cs menggulirkan kawasan ini sebagai salah satu daerah tujuan. Apa saja yang anda bila lakukan disini? Daerah ketinggi ini.menjadi areal.kebun sayuran dan perkebunan lainnya seperti coklat dan cengkeh. Anda bisa menikmati panganan jagung di bakar atau rebus. Jagung manis asal Lampasio, sangat familiar bagi warga di sana. Daerah ini penghasil buah buahan seperti rambutan, langsat, salak bahkan durian dan mangga serta jeruk dan buah naga. Lengkap sudah bagi yang melakukannya dan selamat menikmati. Puan

SELAYAR -- Dihuni oleh dua ratus delapan puluh jiwa penduduk, Dusun Pa’batteang, Desa Lalang Bata, Kecamatan Buki, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulsel yang didominasi warga petani dan pekebun, menyimpan beragam selipan potensi ‘terpendam’. Selipan potensi tersebut terdiri dari panorama alam perbukitan, situs makam tua, lokasi air terjun, sampai keragaman potensi komoditi buah. Iklim tanahnya yang subur dan dikelilingi oleh sejumlah anak sungai, menempatkan Dusun Pa’batteang, pada posisi strategis sebagai kawasan pengembangan berbagai jenis komoditi tanaman pertanian, dan perkebunan masa depan. Hal tersebut, cukup dibuktikan dari keragaman potensi komoditi buah yang bisa dijumpai pengunjung yang berkesempatan untuk datang melancong dan berpetualang ke Dusun Pa’batteang.

Komoditas jambu biji atau jambu klutuk asal Brasil yang disebarkan ke Indonesia melalui Thailand dapat dijumpai di sejumlah pekarangan rumah warga atau kebun milik petani. Selain jambu klutuk, pengunjung juga dapat menjumpai dan memetik, sejumlah komoditas buah lain, diantaranya : delima, lengkeng, kesambi, kedondong, mangga, jambu mete, surikaya, sirsak, kelapa merah, dan belimbing. di lokasi yang sama, pengunjung juga dimungkinkan untuk menyaksikan dab melihat dari dekat, sejumlah bentuk tanaman organik, mulai dari kebutuhan sayur-sayuran, sampai komoditas buah pala, cabai, vanili, dan kunyit yang banyak dibudidayakan, plus dijadikan sebagai tanaman pekarangan oleh warga masyarakat setempa0t. Berbekal uang recehan, pengunjung bahkan dapat membawa pulang beberapa jenis rempah-rempah untuk melengkapi koleksi, dan kebutuhan bumbu dapur di rumah. Berangkat dari selipan potensi tersebut, harapan dan ‘mimpi’

 

dititipkan warga masyarakat kepada jajaran Kementerian Pariwisata Republik Indonesia (Kemenpar RI) agar saban hari Dusun Pa’batteang dapat ditetapkan sebagai salah satu titik lokasi pengembangan kawasan wisata agro buah (petik buah, red) di daratan Kepulauan Selayar yang kedepan diharapkan akan menjadi locus kunjungan wisatawan, baik wisatawan mancanegara maupun wisatawan domestic, regional dan wisatawan lokal. Lewat kebijakan dimaksud, masyarakat berharap akan semakin berdaya dan perlahan mulai bangkit dari keterpurukan ekonomi untuk menggapai harapan kehidupan yang lebih baik, bersamaan dengan kembali stabil dan mulai pulihnya tingkat kesejahteraan masyarakat petani dan pekebun. (fadly syarif)

Selasa, 24 Desember 2019 23:14

Berburu Cempedak di Pasar Buah Cifur

Ditulis oleh

Bogor--Libur dan Natal, Bogor (Jabar) menjadi tempat menarik untuk berlibur.

Seperti apa ragam menarik itu, Rabu pekan ini alasannews.com menelusurinya untuk Anda. Kebun Raya Bogor, merupakan salah satu tempat menarik dan tercatat paling banyak menyedot penunjung sejak dua hari ini.

Salah seorang petugas mengatakan, variasi pengunjung tetap beragam. Namun nominasi sekarang adalah anak-anak. "Ya mumpung libur ke rumah kakek di  Cifur, kami sekeluarga memanfaatkan waktu ke kebun raya," ujar Abang.

Lain hanya dengan Budi, pria asal Sulawesi ini memilih jalan-jalan di sekitar penjual buah. "Kebetulan kami menemukan buah Cempedak, ya kami menikmatinya," tutur Budi. Cempedak memang ada di Sulawesi. Tapi, buah atau pohonya hampir punah.

Bahkan nyaris tidak di temui di pasar tradisional sekalipun, katanya. Cempedak Bogor atau cempedak madu, menjadi pilihan kami hari inu di pasar buah Cifur. Kebetulan atau tidak, pasar buah di dipinggiran jalan Cipur Raya rata rata kiosnya menawarkan buah cempedak.

Cempedak Madu,,ya rasanya yang khas dan manis. Sebuah ukuran sedang di hargai Rp 45.000 kalau yang agak besar Rp 60.000, kata Asep seorang pedagang cempedak di sana.

 

Puan

Kamis, 19 Desember 2019 13:24

Pohon Kurma Resmi Daftar Warisan UNESCO

Ditulis oleh

Alasannews--Spotwisata | Pohon kurma kini jadi makin istimewa, bukan cuma tanaman biasa. Didominasikan 14 negara, pohon kurma resmi jadi warisan UNESCO. Sejak dulu, pohon kurma telah ada dan tumbuh di negara-negara Arab. Pohon kurma sudah ditanam sejak 4.000 SM. Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian PBB, Kurma mungkin merupakan pohon yang paling tua ditanam di dunia. Karena itu, kurma dikenal bukan cuma sebagai sumber makanan tapi juga kehidupan. Dihimpun detikcom dari situs resmi UNESCO, Kamis (19/12) ada 14 negara yang menominasikan pohon kurma sebagai daftar Warisan Budaya Tak Benda Kemanusiaan yang Tak Berwujud UNESCO. Negara-negara tersebut adalah Bahrain, Mesir, Irak, Yordania, Kuwait, Mauritania, Maroko, Oman, Oman, Wilayah Palestina, Arab Saudi, Sudan, Tunisia, Uni Emirat Arab, dan Yaman. "Keberadaan Pohon Kurma menjadi pemandu manusia yang bermukim di gurun, karena tumbuhnya pepohonan menandakan adanya irigasi," tulis dokumen tersebut. Pohon kurma diakui membantu pengembangan peradaban 4 negara tersebut. Selain buah yang manis, pohon kurma juga menghasilkan produk-produk kerajinan tangan, tikar, tali dan furnitur. Untuk mempromosikan warisan dan produk-produk Pohon Kurma, beberapa negara mengadakan festival tahunan, seperti Festival Kurma Liwa tahunan di UEA dan Festival Kurma di Al-Qassim di Arab Saudi. Kedua negara Teluk itu termasuk pengekspor Buah Kurma terbaik, menurut International Trade Center yang berbasis di Jenewa. Puan/detik

Alasannews.com, spot wisata | Singgah berkunjung dan menyambangi warung tegal Jateng di jalan poros Dusun Pa’batteang, Desa Lalang Bata, Kecamatan Buki, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi-Selatan, seolah menjadi sebuah keharusan bagi setiap pelancong dan traveller yang mungkin sekali waktu sempat melintas dan berpetualang menyusuri keragaman potensi wisata di wilayah dusun berpenduduk dua ratus delapan puluh jiwa tersebut.

Suguhan menu berupa mie pangsit, sate, dan kopi panas dapat dinikmati pengunjung di warung Danau Lolang, Pa’batteang asuhan Wasimun, warga asal Aceah Tamian.

Sebuah bangunan warung makan berkesan sederhana, dan berdesign minimalis yang terletak, tepat di gerbang utama Dusun Pa’batteang.

Kesan kearifan lokal terpancar jelas dari kolaborasi property dan ornamen bahan baku bambu lokal, yang ‘membungkus’ bangunan warung Danau Lolang Pa’batteang.

Daya pikat lain, ditonjolkan lewat perbedaan citarasa dan kemasan makanan siap saji yang disuguhkan oleh pihak pengelolah warung.

Letaknya yang berada tepat di pinggiran jalan poros ibukota dusun Pa’batteang menjadi sebuah bentuk kemudahan tersendiri bagi pengunjung untuk mengakses dan menjangkau lokasi warung Danau Lolang dari seluruh penjuru dengan menggunakan kendaraan roda dua dan atau mobil pribadi.

Pengunjung yang berkesempatan mampir untuk menikmati suguhan menu sate ayam, tahu bakar, bakso kuah, bakso bakar, mie pangsit, dan kopi panas di warung Danau Lolang, tak perlu repot mengeluarkan biaya besar.

Cukup dengan merongoh saku celana dan atau saku baju, pengunjung sudah dapat menikmati berbagai bentuk suguhan menu khas ala warung Danau Lolang. Bermodal uang recehan senilai dua ribu rupiah, pengunjung sudah dapat menikmati dan membawa pulang satu tusuk sate ayam yang dipanggang diatas api, berbahan bakar arang tempurung.

Dalam kesempatan berbincang dengan wartawan pengelolah warung Danau Lolang, Pa’batteang yang akrab disapa Wasimun ini, menuturkan, “warung Danau Lolang dibangun dan dirintis selama kurang lebih satu bulan setengah bermodal lima belas juta rupiah” Tak hanya menyiapkan menu siap saji, warung Danau Lolang, Pa’batteang juga ikut menyediakan sarana tempat peristrahatan, berbahan baku bambu lokal, berukuran tiga kali dua meter yang dikemas dalam bentuk dego-dego.

Menutup rangkaian petualangan dan agenda tour, pengunjung dapat memanfaatkan latar belakang taman segi tiga, di pertigaan ibukota Dusun Pa’batteang untuk sekedar berpose dan melengkapi bukti dokumentasi kunjungan. (fadly syarif)

Selasa, 10 Desember 2019 05:03

Tolitoli Sorganya Mancing, Ini Faktanya

Ditulis oleh

Punya hobi mancing? Anda tidak menyesal bila mencobanya di Perairan Tolitoli. Pengakuan Tolitoli sebagai sorga mancing di Timur Indonesia, tidak perlu anda meragukannya. Fakta-fakta menunjukkan, berbagai jenis ikan akan bisa menguras tenaga anda bila menemukannya. Seorang pengusaha lokal di sana, sudah mengimvestasikannya untuk anda yang punya hobi mancing. Atau sekadar ingin mencobanya, usaha atau fasilitas yang disiapkan kapal mancing dijamin tidak mengecewakan anda. Tunggu apalagi, 2020 di depan mata. Jadwal mancing anda sudah tersusun, Tolitoli menantang anda mancing mania. Puan

Alasannews.com--Pantai wainitu yang dulu terkesan kumuh kini menjelma menjadi pantai yang indah dan digunakan sabagai kawasan wisata dan destinasi digital baru di kota Ambon.

Setelah diresmikan oleh menteri keuangan Sri Mulyani Indrawati dan menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Rabu (9/1/2018).

Awalnya pantai wainitu sepanjang 1.451 meter tersebut dimaksudkan untuk menjaga garis pantai dari abrasi dan erosi, sekaligus untuk mendukung pengembangan Ambon water front city di zona 9. Menurut Basuki, pengembangan pengamanan pantai wainitu sepanjang 1.451 meter. Dilakukan oleh Balai wilayah sungau (BWS) Maluku, Ditjen sumber daya air secara bertahap dari tahun 2013-2015.

Kemudian , pembangunan pengembangan pantai dilanjutkan dengan penataan kawasan wainitu dilakukan oleh Ditjen cipta karya pada tahun 2018 dengan anggaran Rp 11,3 miliar. Hasilnya, di sepanjang pantai dibangun Landmark jalur pejalan kaki sepanjang 350 meter, lapangan futsal dan volley, jembatan, tempat bermain anak dan kawasan taman. Selain itu dilengkapi oleh lampu penerangan, tempat sampah dan gazebo.

Hal hasil perubahan wajah pantai wainitu saat ini sangat menarik. Warga kota Ambon memanfaatkan untuk menikmati suasana pantai hingga matahari terbenam. Selain itu banyak anak-anak yang memanfaatkan fasilitas bermain yang ada di lokasi tersebut. Taman bermain anak yang ada dilokasi tersebut berupa perosotan, ayunan dan jungkat-jungkit.

Selain itu difasilitasi tempat duduk yang mengarah langsung ke pantai. Oleh karena itu, tidak salah jika pantai wainitu menjadi objek wisata baru atau icon kota Ambon. Lokasi ini layak juga dimanfaatkan sebagai daerah tujuan wisata digital di kota Ambon. Sebab, bisa secara langsung menikmati view teluk Ambon yang menawan.

Bahkan, sejumlah youtuber kota Ambon sudah banyak yang mempromisikan pantai wainitu setara dengan pantai losari di makassar. Begitu juga sejumlah remaja dan warga kota Ambon sudah mengupload foto-foto mereka saat menikmati suasana malam maupun siang hari di pantai wainitu.

 

Nadia Rahmawati

Jumat, 06 Desember 2019 23:42

Ayo ke PGB, Tolitoli Pamerkan Budaya dan Hasil Pembangunan

Ditulis oleh

Alasannews.com | Akhir pekan ini kamu bisa menyaksikan bagaimana atraksi budaya Matànggaukan di PGB Tolitoli, Sulawesi Tengah.

Budaya Matnggauk merupakan salah satu budaya tertua suku Tolitoli. Matanggauk atau magauk merupakan prosesi pengangkatan atau penobatan raja atau pengakuan khalayak luas akan sang adanya raja.

Pantauan alasannews.com, atraksi budaya tertua kali ini dilaksanakan atas hari ulang tahun yang bertepatan dengan hutda kabupaten Tolitoli.

Atraksi budaya yang diikutkan dalam acara pemda berupa memamerkannya kepada khalayak akan keberadaan istana raja yang memang berkedudukan di Nalu--kelurahan nalu. Mau kemana kamu liburan, ayo luangkan waktu mwnghadirinya di PGB Tolitoli.

Apalagi, kamu yang belum menyaksikan prosesi Matanggauk itu. Di PGB kamu juga tidak hanya menyaksikan Festival budaya tertua di Tolitoli itu? Ada banyak.yang kamu bisa liat di sana.

Pemda tolitlli menghadirikan pameran pembangujan dari semua OPD. Festival ini digelar untuk menampilkan beragam budaya Tolitolo dalam sebuah parade seni budaya. Sesuai namanya themanya.

Sabtu siang hingga malam tak hanya tradisi khas Tolitoli saja yang hadir. Budaya kabupaten berbagai suku yang hidup harmonis di kabupaten ini pun di pentaskan, seperti budaya bugis, gorontalo, buol, mandar hingga Bali dan Jawa.

Sejumlah warga yang dimintai pendapatnya mengatakan, semestinya festifal PGB di patenkan seriap tahun agar bisa menjadi event pariwisata yang permanen setiap akhir tahun. Bila event ini permanen, niscaya akan memiliki nilai tambah baik aspek ekonomi maupun aspek promosi ke dunia luar akan keberagaman budaya yang hidup di tolitoli.

Karena berdasarkan catatan media ini, Tolitoli belum memiliki agenda wisata yang permanen yang terencana sistematik dengan baik.

Puan

ANcom-Selayar | Pulau Latondu, Kecamatan Takabonerate, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi-Selatan, kembali digadang-gadang dan dipersiapkan sebagai tuan rumah penyelenggaraan event festival Takabonerate 2019, salah satu event wisata bertaraf nasional yang tercatat secara resmi dalam deretan 100 wondoerfull event, Kenenterian Pariwisata Republik Indonesia.

Berbagai bentuk kearifan lokal dan tradisi kehidupan keseharian masyarakat Pulau Latondu akan menjadi target kegiatan explorer potensi yang dikemas dinas pariwisata melalui paket land tour.

Kegiatan explorer potensi yang dikemas dalam paket land tour, rencananya akan difokuskan pada pengambilan gambar dan liputan keanekaragaman tradisi kehidupan keseharian masyarakat Pulau Latondu, dan bentuk-betuk kearifan lokal budaya lainnya yang terdapat di wilayah administratif pemerintahan Desa Latondu.

Peserta land tour akan ‘digiring’ untuk menyaksikan dari dekat rangkaian prosesi, pengolahan minyak kelapa tradisional, tradisi menggoreng pisang di pingir pantai, tradisi anyogoro, pembuatan atap daun kelapa, dan tradisi angngatti-ngatti kerap dilakukan warga saat air laut sedang surut.

Sebuah bentuk tradisi keseharian yang rutin dilakukan untuk mendulang rupiah dan mencari tambahan rezeki dengan memanfaatkan situasi, pasang-surut air laut. Suasana air laut yang sedang surut dijadikan kesempatan ‘emas’ oleh warga untuk ‘berburu’ dan engumpulkan beraneka ragam jenis kerang laut yang terkadang terselip di balik rerimbunan padang lamun.

Kerang laut sejenis kima, gempang, siholung, biri-biri dan bimba yang telah dikumpulkan langsung dibersihkan untuk selanjutnya, di jual ke pasar, atau tetangga terdekat. Sementara sisanya, dijadikan sebagai hidangan untuk keluarga.

Bila sedang beruntung, dan bernasib mujur, masyarakat bahkan tak jarang membawa pulang kepiting, dan berbagai jenis ikan yang secara kebetulan, ‘terjebak’ di sela-sela padang lamun dan tidak sempat kembali habitat awalnya.

Satu hal yang menarik dari rutinitas angngatti-ngatti atau aktivitas mencari kerang yang biasa dilakukan oleh warga masyarakat pesisir pantai, karena aktivitas ini tak hanya melibatkan orang dewasa. Akan tetapi, anak-anak di bawah umur pun ikut mengandrungi kegiatan yang sudah mengakar dari generasi ke generasi di Pulau Selayar ini.

Sebagai rangkaian akhir kegiatan petualangan, pengunjung juga dimungkinkan untuk duduk bersama dengan warga masyarakat lokal setempat, sembari menikmati suguhan nasi santan dan beraneka ragam jenis ikan yang diperoleh daei rangkaian tradisi Assulo, atau berburu ikan di malam hari dengan menggunakan perlengkapan sarakka atau tombak dengan bantuan penerangan lampu strongkeng atau cahaya senter kepala seadanya.

Tradisi Assulo, biasanya dilakukan oleh warga masyarakat lokal, saat air laut sedang surut di malam hari. (fadly syarif)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Halaman 1 dari 3

Kontak Polisi