Selasa, Juli 16, 2019
Selasa, 02 Juli 2019 14:35

Mengharap Panen Sawit, Sampai Tidak Bayar Zakat (2)

Ditulis oleh
Nilai butir ini
(1 Pilih)

Buol-alasannews.com | Itu kan sejak 1994. Berganti aturan, berganti pejabat, jadi Kalau sekarang baru ada izin pelepasan kawasan itulah mekanisme yang telah kami lalui"

Pengakuan di atas diungkapkan Ir Ansori salah seorang staf senior di perusahaan sawit milik Hardaya.

Berjibaku dengan hutan hingga mendirikan pabrik dan memproduksi CPO dari Buol, itulah pengalaman sang insinyur.

Itu dulu. Kini, warga Buol, Sulawesi Tengah menyadari. Tidak sekadar gagah di nama memiliki areal perkebunan sawit. Warga Buol, mulai mempertanyakan kontribusi lebun sawit bagi status sosial dan ekonominya.

Demikian kesimpulan dari aksi baru-baru ini yang dilakukan para Kepala Desa dan Camat dari Buol di hadapan pejabat Badan Pertanahan Nasional (BPN) di Palu, Sulawesi Tengah.

"Kami warga Buol, meminta penjelasan dan menolak penerbitan HGU baru bagi areal sawit di Buol," ungkap salah seorang Kades dari mobil komando aksi.

Cek and ricek, ternyata akumulasi semangat kades ini tidak sekadar soal dampak. Tersirat, bagaimana sawit ini bisa mensejahterakan warga.

Walaupun cerita Ansori, dulu kawasan kebun itu adalah hutan yang tidak juga memberi nilai tambah bagi warga sekitar. Kini, setidaknya jelas Ansori ada warga Buol yang setiap bulan bisa menerima penghasilan sampai Rp 2 juta.

Walaupun faktanya, diungkap oleh aksi bahwa ada suatu saat seorang warga sampai tidak bisa membayar zakat dan membelikan baju batu buat anaknya hanya karena tunggu panen sawit belum waktunya.

Cerita demi cerita, plus minus sawit di Buol menarik untuk ditelusuri. Edisi berikut bagaimana anggota koperasi plasma di sana mulai mempertanyakan betapa besarnya potongan biaya dari perusahaan. (2)

Baca 36 kali Terakhir diubah pada Selasa, 02 Juli 2019 14:44

Berikan komentar

TULIS PESAN

Kontak Polisi