Oleh: Salihudin SE, M.HI (Warga Kota Palu)
Tahun ini, kita menyaksikan sebuah peristiwa simbolik yang indah. Kurang dari 48 jam setelah masyarakat Tionghoa merayakan Imlek, umat Islam segera bersiap memasuki bulan suci Ramadhan. Dari gema ucapan Gong Xi Fa Cai, kita segera menyambut Marhaban Ya Ramadhan. Dua tradisi besar dari dua kalender yang berbeda, namun nyaris berjumpa dalam satu tarikan waktu yang harmonis.
Momentum Pembaruan: Fisik dan Batin
Keduanya adalah musim untuk memulai kembali.
Imlek adalah momentum pembaruan fisik dan relasi. Rumah dibersihkan, keluarga dipersatukan dalam makan malam reuni, dan angpao dibagikan sebagai simbol berbagi rezeki serta harapan baik.
Ramadhan adalah musim pembaruan jiwa. Batin dibersihkan melalui puasa, relasi antarmanusia diperbaiki lewat silaturahmi, dan zakat ditunaikan agar kebahagiaan dapat dirasakan bersama.
"Yang satu menyapu rumah, yang lain menyapu batin. Intinya sama: memulai kembali dengan hati yang lebih jernih."
Cahaya dalam Kerapuhan
Simbol cahaya juga hadir kuat dalam kedua perayaan ini. Lampion merah menyala sebagai simbol keberuntungan dan keberanian dalam tradisi Tionghoa. Sementara itu, di bulan Ramadhan, masjid-masjid bercahaya oleh deru doa, dan malam Lailatul Qadar yang mulia dinanti dengan penuh harap.
Cahaya-cahaya ini bukan sekadar hiasan visual, melainkan pesan universal bahwa di tengah kerapuhan manusia, harapan selalu mungkin untuk diperbarui.
Spiritualitas dan Relasi Sosial
Reuni keluarga saat Imlek dan tradisi mudik menjelang Idul Fitri menunjukkan satu hal penting: spiritualitas tidak pernah berdiri sendiri. Ia tumbuh subur dalam jaringan keluarga dan komunitas. Peradaban yang kuat selalu ditopang oleh relasi sosial yang sehat dan hangat.
Indonesia sebagai Rumah Bersama
Ketika dua musim sakral ini hadir hampir bersisian, Indonesia seolah diingatkan kembali tentang jati dirinya sebagai rumah bersama. Perbedaan tidak perlu dipertentangkan, melainkan bisa berdampingan—bahkan saling menyapa dengan santun.
Dari Gong Xi Fa Cai menuju Marhaban Ya Ramadhan, kita melihat pola kemanusiaan yang serupa: Membersihkan diri dari noda masa lalu.Mempererat ikatan keluarga.
Berbagi rezeki kepada sesama. Menumbuhkan harapan baru.
Selamat merayakan pembaruan, selamat merajut persaudaraan.


