- Pasangan suami istri Royal Couple Bible Camp, D.Kalora Hotel sebuah oase rohani yang diinisiasi oleh komunitas Royal Young Adult (Royal) Palu. (Dok.Pribadi)
Oleh: Elkana Lengkong
Angin di D'Kalora Hotel & Resort hari itu terasa berbeda. Di balik panorama alamnya yang tenang, sedang berlangsung sebuah momentum yang lebih dari sekadar pertemuan rutin. Saya dan istri melangkah masuk ke dalam Royal Couple Bible Camp, sebuah oase rohani yang diinisiasi oleh komunitas Royal Young Adult (Royal) Palu.
Komunitas ini membawa kerinduan yang mendalam: memastikan keluarga kristen muda maupun lansia memiliki fondasi yang tidak akan goyah oleh badai zaman. Mereka melayani dengan satu visi, yaitu membangun rumah tangga Kristen yang berakar pada kekekalan.
Fondasi di Atas Kertas Perjanjian (Covenant)
Sesi yang dibawakan oleh Pastor Raguel Lewi, Executive Pastor dari New Wine International Church (NWI Church) Jakarta, membuka mata kami dengan sebuah pernyataan tajam: "Marriage is not only about love, but about agreement."
Selama ini, dunia mendikte bahwa cinta adalah segalanya. Namun, Pastor Raguel mengingatkan bahwa perasaan manusia bersifat fluktuatif—bisa pasang dan surut. Di sinilah pentingnya Kesepakatan (Agreement) pada janji suci atau Covenant. Berdasarkan Kejadian 2:18 dan 2:24, pernikahan bukan sekadar penyatuan dua insan, melainkan sebuah identitas baru dan bentuk ibadah yang paling intim. Baik buruknya sebuah rumah tangga bukan ditentukan oleh keadaan ekonomi atau status sosial, melainkan oleh sejauh mana tiap individu bertumbuh di dalam Kristus sebelum dan selama masa pernikahan.
Ada sebuah analogi yang membekas: berinvestasi waktu untuk belajar dalam bimbingan pranikah atau camp seperti ini jauh lebih murah daripada "mengobati" luka pernikahan yang sudah berdarah. Biaya emosional dan spiritual dari sebuah kehancuran jauh lebih mahal daripada pengorbanan waktu untuk duduk dan belajar saling mengerti.
The Magic of Vulnerability: Memulihkan Rasa Aman
Salah satu poin paling krusial yang dibahas adalah tentang hilangnya rasa aman. Hal yang paling menghancurkan dalam pernikahan bukanlah perbedaan pendapat atau pertengkaran tentang hal-hal teknis, melainkan saat salah satu pasangan tidak lagi merasa aman untuk menjadi dirinya sendiri.
"People don't heal where they are judged, they heal where they are safe." Kutipan ini menjadi pengingat bagi kami bahwa pernikahan yang sehat adalah kemampuan untuk hadir dan memberi ruang saat pasangan sedang berada di titik paling rentan (vulnerable). Tugas kita bukan menjadi hakim bagi pasangan, melainkan menjadi saksi kasih Tuhan yang memulihkan. Keajaiban sesungguhnya terjadi saat kita berani menanggalkan topeng dan diterima sepenuhnya tanpa penghakiman.
Keintiman yang Disengaja dan Kekuatan Respon Kecil
Keintiman tidak jatuh dari langit; ia tidak terjadi secara kebetulan. Pastor Raguel menekankan bahwa keintiman harus disengaja. Ini adalah bentuk penghargaan tertinggi kepada pasangan, bahkan ketika kita menghadapi tipe pasangan yang mungkin memiliki kepribadian sekeras batu karang.
Di akhir sesi, kami diajak melakukan refleksi tubuh dan emosi. Kami belajar bahwa berbicara tanpa disela menciptakan kelegaan yang luar biasa. Tubuh terasa lebih rileks, dan sekat-sekat hati mulai terbuka. Kami menyadari bahwa pemulihan sebuah hubungan tidak selalu membutuhkan ledakan rekonsiliasi yang dramatis. Pernikahan seringkali dipulihkan oleh respon-respon kecil yang dilakukan secara konsisten setiap hari: sebuah senyuman, telinga yang mendengar, dan tangan yang merangkul.
Pulang dengan Komitmen Baru
Keluar dari D'Kalora, kami tidak hanya membawa kenangan, tapi membawa sebuah rencana aksi yang nyata:
Stop: Berhenti bersikap defensif dan mencari pembenaran saat menerima kritik dari pasangan.
Start: Mulai belajar mendengar dengan empati, tanpa terburu-buru ingin mengoreksi.
Agree: Membangun kesepakatan pada hal-hal krusial—mulai dari manajemen keuangan, pola asuh anak, hingga cara menjalin relasi yang sehat dengan mertua.
Hari itu, kami diingatkan kembali bahwa menjadi "satu daging" adalah perjalanan seumur hidup untuk saling merendahkan diri dalam takut akan Kristus (Efesus 5:21). Mari kita buat 'magic' itu menjadi nyata dalam setiap rumah tangga kita, melalui kesepakatan yang kokoh dan pengampunan yang tak pernah habis.***


