×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Dua Pegangan Hidup: Menikmati Usia Purna Bhakti ala Hasanuddin Atjo

| 22:32 WIB | 0 Views Last Updated 2026-03-04T15:32:16Z

 


Saat berada di tambak udang Vaname desa Pombolowo Parimo bersama Dr Hasanuddin Atjo MP. (Dok Pribadi)

Catatan: Elkana Lengkong


"How many roads must a man walk down, before you call him a man?"


Lirik ikonik Bob Dylan dalam Blowin’ in the Wind itu mengalun, seolah merangkum perjalanan panjang saya bersama Dr. Hasanuddin Atjo, MP. Di usianya yang kepala 6, mantan birokrat ulung Sulawesi Tengah yang pernah menjabat Kadis Kelautan dan Perikanan serta Kepala Bappeda ini masih menggenggam kemudi kehidupan dengan gagah.


Dalam perjalanan dari Palu menuju Desa Pombolowo, Parigi, Rabu (5/3/26), di tengah suasana Ramadan 1447 H, kami melintasi kelokan tajam Taweli-Toboli. Di balik kemudi, Pak Atjo berbagi filosofi tentang "Dua Pegangan Hidup" untuk menghadapi masa purna bhakti.


Pegangan Pertama: Masa Aktif yang Berintegritas


Bagi Pak Atjo, pegangan pertama adalah masa saat kita masih bekerja. Itulah waktu untuk menahan beban, membangun fondasi, dan memberi kontribusi nyata. Jejaknya di Sulteng tak terbantahkan: mulai dari pembangunan UPTD Pelabuhan Perikanan di Ogotua hingga Donggala, mengawal Sail Tomini, dan Hari  Nusantara hingga merancang konektivitas Tambu-Kasimbar dalam RPJMN.


Pada fase ini, pegangan kita adalah profesionalisme dan pengabdian. Namun, pegangan ini memiliki batas waktu. Saat pensiun tiba, pegangan pertama ini akan terlepas.


Pegangan Kedua: Inovasi yang Tak Kenal Pensiun


Banyak orang kehilangan arah saat pensiun karena hanya bergantung pada satu pegangan. Namun, Pak Atjo menyiapkan pegangan kedua: ide, inovasi, dan kreativitas.


"Ketika masa purna bhakti tiba, bukan berarti perjalanan usai. Justru di sinilah kita mengembangkan ide-ide yang dulu terbatas oleh aturan birokrasi," ungkap pakar ekonomi kelautan lulusan IPB ini.


Kini, di masa "pensiunnya", ia justru makin sibuk. Menjadi konsultan tambak udang Vaname hingga ke Kalimantan Selatan dan Batam, mengelola ekspor pribadi, hingga tetap produktif menulis artikel. Baginya, kreativitas adalah penopang utama untuk menikmati hidup bersama keluarga dengan tetap berdaya guna.


Istri seorang birokrat ASN di Pemprov  Sulteng Dinas Ketahanan Pangan Sulteng. Keempat anak  semuanya sudah sukses dalam pendidikan dan bekerja. Dua putranya yang pertama lulusan sarjans  ITE ITB , yang seorang lagi ikuti jejak ayah Sarjana Kelautan Perikanan mengurusi bisnis eksport udang Bahkan dua putri berprofesi dokter dan dokter spesialis jantung pernah menempuh pendidikan di London Inggris dan Jepang.


Pesan Sosial: Dari Stunting hingga Potensi Daerah


Sambil menatap tebing Kebun Kopi, diskusi meluas. Pak Atjo menekankan bahwa kesejahteraan rakyat Sulteng harus dipacu lewat potensi laut dan tamnang nikel. Ia juga menyoroti isu stunting yang sebenarnya sederhana jika ditangani sejak 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Baginya, kepedulian terhadap gizi dan sanitasi adalah investasi masa depan bangsa.


Perjalanan satu jam berada di tambak seluas 6 hektar di Pombolowo berakhir tepat sebelum waktu berbuka. Kami kembali ke Palu dengan satu pelajaran berharga:


Hidup tidak berhenti saat jabatan usai. Dengan terus berinovasi dan menjaga pikiran tetap kreatif, masa tua bukanlah akhir, melainkan babak baru yang lebih merdeka dan bermakna.***


×
Berita Terbaru Update