Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Gubernur Anwar Hafid: Meneladani Guru Tua dalam Bingkai Ilmu dan Akhlak: Sebuah Manifesto Peradaban

| 08:48 WIB | 0 Views Last Updated 2026-04-02T01:48:40Z

 


Oleh: Elkana Lengkong

ALASANNEWS, (Palu) -Kota Palu kembali menjadi saksi  betapa cinta mampu melampaui sekat ruang dan waktu. Ribuan wajah dari berbagai penjuru nusantara tumpah ruah di Kompleks Alkhairaat. Mereka tidak datang untuk sekadar kewajiban atau menjalankan rutinitas tahunan.


Kehadiran massa yang menyemut pada Haul ke-58 Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri atau yang lebih karib disapa Guru Tua adalah manifestasi dari kerinduan yang mendalam terhadap sosok pendidik sejati.


Gubernur Sulawesi Tengah, Dr. Anwar Hafid, M.Si, menangkap getaran itu dengan sangat apik. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa fenomena Haul ini adalah bukti "cinta yang tidak terbatas." Namun, lebih dari sekadar emosi, peringatan ini membawa pesan sentral yang relevan dengan tantangan zaman: Meneguhkan spirit keteladanan Guru Tua dalam bingkai ilmu dan


Ilmu dan Akhlak: Fondasi yang Tak Tergoyahkan


Tema "Meneguhkan Spirit Keteladanan Guru Tua dalam Bingkai Ilmu dan Akhlak" yang diusung tahun ini menjadi pengingat tajam. Di era di mana informasi melimpah namun kebijaksanaan seringkali langka, pesan Guru Tua tentang integrasi ilmu dan akhlak terasa kian relevan.


Guru Tua mengajarkan bahwa ilmu tanpa akhlak adalah mesin tanpa kemudi, sementara akhlak tanpa ilmu adalah pelita tanpa cahaya. Keteladanan beliau bukan sekadar teori di atas mimbar. 


Ketua Utama Alkhairaat, Alwi bin Saggaf bin Muhammad Al-Jufri, menceritakan dengan haru bagaimana Guru Tua menghabiskan seluruh hidup, harta, dan usianya untuk umat. Beliau adalah pengembara dakwah yang memangkas kenyamanan pribadi demi mengetuk pintu-pintu kebodohan di pelosok Maluku Utara hingga Kalimantan, melintasi lautan dengan sarana yang jauh dari kata layak.


Visi Pendidikan: Mendahului Zaman


Salah satu poin paling menggetarkan dalam pidato Gubernur Anwar Hafid adalah pengakuannya bahwa Guru Tua telah merancang roadmap kemajuan peradaban jauh sebelum konsep "Indonesia Emas 2045" didengungkan oleh negara. Pendidikan adalah warisan terbesar (terstament) beliau.


"Tidak ada jalan lain untuk mengubah nasib selain pendidikan," tegas Gubernur. Komitmen ini tidak berhenti pada retorika. Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah kini tengah memperjuangkan kebijakan Wajib Belajar 13 Tahun. Kebijakan ini bukan sekadar angka, melainkan upaya formal untuk memasukkan Madrasah Diniyah Awaliyah ke dalam sistem pendidikan daerah. Ini adalah langkah konkret untuk memastikan bahwa "napas" pendidikan Alkhairaat yang berbasis akhlak mendapatkan tempat terhormat dalam regulasi negara.


Memanusiakan Sang Pejuang Ilmu


Meneladani Guru Tua juga berarti memperhatikan nasib para pewaris sanad ilmunya: para guru Madrasah Diniyah. Gubernur menyoroti sebuah realitas pahit tentang kesejahteraan guru yang seringkali terabaikan.


Mengutip pesan almarhum Saggaf bin Muhammad Al-Jufri, Anwar Hafid mendorong masyarakat dan pemerintah untuk memberikan penghormatan layak bagi mereka yang mengabdi dengan honor minim namun keikhlasan seluas samudera.


Selain itu, rencana penataan kawasan Haul menjadi tempat yang lebih representatif dan sejuk adalah bentuk penghormatan fisik. Bekerja sama dengan akademisi dari Universitas Tadulako, pemerintah ingin menjadikan pusat Alkhairaat sebagai simbol estetika dan kenyamanan bagi siapa saja yang datang mencari ilmu.



Melanjutkan Estafet Perjuangan


Kehadiran tokoh-tokoh nasional seperti Menteri Agama Nasaruddin Umar, Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, hingga jajaran petinggi KPU dan Bawaslu RI, membuktikan bahwa pengaruh Guru Tua telah menasional. Beliau bukan lagi milik satu golongan, melainkan aset bangsa yang pemikirannya harus terus digali.


Namun, sebagaimana diingatkan oleh Gubernur, tanda cinta sejati bukanlah sekadar memasang foto beliau di dinding rumah atau menghadiri seremonial haul. Tanda cinta yang paling murni adalah melanjutkan perjuangannya. Perjuangan untuk memastikan tidak ada anak bangsa yang tertinggal dalam pendidikan, dan tidak ada intelektual yang kehilangan adabnya.


Haul ke-58 ini menjadi saksi bahwa api yang dinyalakan Guru Tua puluhan tahun silam tidak pernah padam. Ia terus berkobar di hati para Abnaul Khairaat, menanti untuk diterjemahkan menjadi kebijakan yang memihak rakyat dan akhlak yang menghiasi peradaban. Di bawah langit Palu, kita kembali belajar: bahwa ilmu adalah peta, dan akhlak adalah kompas menuju kejayaan yang hakiki.***

×
Berita Terbaru Update