×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Keluhan Pasien Menguat, Tata Kelola Kebersihan RSUD Agoesdjam Ketapang Dipertanyakan!

| 18:54 WIB | 0 Views Last Updated 2026-04-27T11:54:23Z

Alasannews.com | Ketapang, Kalbar - Kondisi lingkungan di RSUD Agoesdjam Ketapang kembali menjadi sorotan publik. Berdasarkan hasil penelusuran lapangan serta keterangan sejumlah pasien, rumah sakit milik pemerintah daerah tersebut dinilai belum memenuhi standar kebersihan dan kelayakan lingkungan sebagaimana mestinya fasilitas layanan kesehatan.


Temuan di lapangan menunjukkan adanya area yang tampak kurang terawat, mulai dari penumpukan sampah hingga kondisi fasilitas sanitasi yang mengalami kerusakan. Padahal, aspek kebersihan lingkungan merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang berpengaruh langsung terhadap keselamatan dan kenyamanan pasien.


Dalam perspektif pelayanan kesehatan, kebersihan tidak hanya menyangkut estetika, tetapi juga menjadi faktor penting dalam mencegah infeksi nosokomial serta menjaga kualitas pemulihan pasien. Namun, sejumlah pihak menilai pengelolaan kebersihan di RSUD tersebut belum optimal.


Temuan Ruang Perawatan dan Fasilitas Sanitasi


Salah satu pasien yang pernah menjalani perawatan mengungkapkan bahwa dirinya sempat ditempatkan di ruang rawat inap kelas III yang sebelumnya digunakan sebagai ruang penanganan COVID-19. Meski telah difungsikan kembali, kondisi ruang tersebut dinilai belum sepenuhnya layak.


Pasien tersebut juga menyoroti posisi tempat tidur yang berada di dekat fasilitas toilet dengan kondisi rusak. Selain pintu yang tidak berfungsi dengan baik, sanitasi di dalamnya dilaporkan mengalami kerusakan cukup serius, disertai adanya bau tidak sedap yang mengganggu kenyamanan dan kesehatan.


Hasil investigasi lanjutan menemukan bahwa ruang tersebut sempat dikosongkan dan dilakukan pengecatan. Namun, perbaikan pada fasilitas sanitasi disebut belum dilakukan secara menyeluruh. Bahkan, akses ke toilet kini tertutup rapat tanpa kejelasan penanganan limbah maupun kebersihannya.


Pelayanan dan Ketersediaan Obat Disorot


Selain persoalan lingkungan, keluhan juga muncul terkait pelayanan farmasi. Beberapa pasien mengaku kerap mengalami keterbatasan obat saat pengambilan resep, sehingga diarahkan untuk membeli obat di luar rumah sakit dengan biaya mandiri.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan dari masyarakat, terutama bagi peserta BPJS Kesehatan yang secara rutin membayar iuran. Mereka mempertanyakan optimalisasi penggunaan anggaran serta kualitas layanan yang diterima.


Respons Pihak Manajemen Rumah Sakit


Direktur RSUD Agoesdjam Ketapang, drg. Basaria Rajagukguk, M.Sos, saat dikonfirmasi menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan berbagai upaya pembenahan. Ia juga menyebut informasi terkait kondisi rumah sakit telah disampaikan secara terbuka melalui media sosial pribadinya.


Menurutnya, manajemen RSUD saat ini tengah melakukan perbaikan bertahap terhadap berbagai kekurangan, termasuk aspek kebersihan dan fasilitas pendukung. Ia menegaskan bahwa rumah sakit terbuka terhadap kritik sebagai bagian dari proses evaluasi.


Namun demikian, pihak manajemen belum memberikan keterangan rinci terkait penanganan fasilitas yang dilaporkan rusak maupun sistem pengelolaan limbah medis dan non-medis.


Dorongan Evaluasi dan Pengawasan

Sejumlah pihak mendorong agar instansi terkait, termasuk dinas teknis dan aparat pengawas, melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola lingkungan dan pelayanan di RSUD tersebut. Pengawasan terhadap pengelolaan limbah, standar kebersihan, serta kualitas layanan dinilai penting guna memastikan terpenuhinya hak masyarakat atas layanan kesehatan yang layak.


Selain itu, transparansi dalam pengelolaan anggaran serta peningkatan kualitas pelayanan menjadi tuntutan yang terus menguat dari publik.


Kondisi yang terjadi di RSUD Agoesdjam Ketapang menjadi pengingat bahwa pelayanan kesehatan tidak hanya berfokus pada tindakan medis, tetapi juga mencakup aspek lingkungan yang bersih, aman, dan manusiawi. Perbaikan menyeluruh dan berkelanjutan menjadi kunci untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap institusi layanan kesehatan daerah.



Publis : Teguh 

Red/Tim*

×
Berita Terbaru Update