Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Gubernur Sulteng Anwar Hafid Desak Penanganan Sungai Lembe: "Bukan Soal Banjir, Tapi Keselamatan Warga

| 12:38 WIB | 0 Views Last Updated 2025-10-03T05:38:36Z


TOLITOLI — Di tepi Sungai Lembe yang airnya berwarna coklat keruh dan alirannya deras, Gubernur Sulawesi Tengah H. Anwar Hafid berdiri bersama Bupati Tolitoli H. Amran Yahya. Tatapannya serius, sesekali menunjuk ke arah permukiman warga dan Rumah Sakit Umum Mokopido yang berulang kali menjadi langganan banjir.

Kunjungan itu berlangsung pada Jumat (3/10), usai Anwar membuka rapat kerja di daerah tersebut. Tanpa banyak seremonial, ia langsung meninjau lokasi banjir yang telah menjadi persoalan tahunan bagi warga Kota Cengkeh.

“Ini bukan hanya soal banjir,” tegas Gubernur Anwar. “Yang utama adalah keselamatan warga, harta benda, dan fasilitas publik. Rumah sakit, apalagi, harus steril dari bencana seperti ini.”

Sungai Lembe dikenal sebagai salah satu aliran yang rawan meluap di musim penghujan. Ketika debit air meningkat, banjir tidak hanya merendam rumah warga tetapi juga pasar tradisional, pusat pertokoan, hingga fasilitas kesehatan yang vital bagi ribuan penduduk Tolitoli.

Di halaman RSU Mokopido, sisa genangan masih terlihat. Bau lembab menyengat ruangan-ruangan yang baru saja dikeringkan. Bagi tenaga kesehatan di sana, ancaman banjir bukan sekadar mengganggu aktivitas medis, melainkan mengancam nyawa pasien.

“Setiap kali air naik, pasien kami harus dipindahkan. Ini sangat berisiko,” ujar seorang perawat yang enggan disebutkan namanya. “Kami khawatir kalau suatu saat banjir datang tiba-tiba di tengah operasi darurat.”

Gubernur Anwar menegaskan bahwa penanganan Sungai Lembe tidak boleh lagi dilakukan dengan cara seadanya. “Kita butuh perencanaan besar dan terukur. Kalau hanya tanggul sementara atau pengerukan sesaat, itu tidak akan menyelesaikan masalah,” katanya.

Ia meminta dinas teknis di tingkat provinsi segera menyusun rencana penanganan permanen. Langkah itu, menurutnya, harus dipercepat agar tindakan nyata bisa segera dilakukan sebelum musim penghujan berikutnya membawa ancaman lebih besar.

Di sisi lain, Bupati Amran Yahya bersama Wakil Bupati Moh. Besar Bantilan menyampaikan apresiasi atas sikap cepat sang gubernur. Menurut Amran, tindakan itu menunjukkan perhatian serius pemerintah provinsi terhadap keselamatan masyarakat Tolitoli.

“Pak Gubernur baru saja menutup rapat kerja, langsung menuju lokasi banjir. Itu bukti kepedulian beliau,” kata Amran. “Kami di daerah tentu akan mendukung penuh langkah ini, karena persoalan Sungai Lembe sudah terlalu lama dibiarkan.”

Bagi warga sekitar, kunjungan itu membawa secercah harapan. Rahman, seorang pedagang di pasar, mengaku sudah bosan setiap tahun harus merelakan barang dagangannya rusak terendam air. “Setiap hujan besar, kami was-was. Dagangan bisa habis rugi. Kalau sungai ini ditangani serius, kami bisa tenang bekerja,” ujarnya.

Tolitoli, yang dikenal sebagai kota cengkeh, memang memiliki topografi rawan banjir karena dikelilingi sungai dan pesisir. Namun, warga berpendapat persoalan Sungai Lembe berbeda: luapannya begitu cepat dan merendam kawasan vital.

Pakar tata kota dari Universitas Tadulako, Dr. Irwan L, menyebut bahwa penanganan banjir di Tolitoli harus dikaitkan dengan perencanaan jangka panjang. “Normalisasi sungai, pembangunan tanggul permanen, serta sistem drainase perkotaan yang terintegrasi sangat penting. Kalau tidak, RSU Mokopido dan pasar akan terus jadi korban,” katanya.

Kini, semua mata tertuju pada tindak lanjut pemerintah provinsi. Apakah pernyataan Gubernur Anwar Hafid akan diikuti dengan aksi konkret, atau hanya menjadi janji di tengah derasnya arus sungai yang tak kenal kompromi?

Yang jelas, bagi warga Tolitoli, Sungai Lembe bukan sekadar masalah teknis. Ia adalah ancaman berulang yang menyentuh inti kehidupan sehari-hari: tempat tinggal, pekerjaan, dan nyawa manusia.

Dan bagi seorang gubernur, masalah itu bukan lagi persoalan debit air semata, melainkan ujian kepemimpinan—apakah ia mampu mengubah derita tahunan menjadi kisah penyelamatan yang nyata.

×
Berita Terbaru Update