Oleh: Elkana Lengkong
ALASANNEWS, (Palu)– Meski kalender politik Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak tahun 2030 masih terpaut beberapa tahun ke depan, atmosfer diskusi mengenai sosok pemimpin masa depan Sulawesi Tengah (Sulteng) mulai menghangat.
Fokus utama kini tertuju pada pasangan incumbent Gubernur dan Wakil Gubernur, Anwar Hafid dan Reny A. Lamadjido, yang dinilai memiliki posisi tawar kuat untuk melanjutkan kepemimpinan di periode kedua.
Keberhasilan mengimplementasikan janji kampanye melalui "9 Program Berani" menjadi instrumen utama yang memposisikan pasangan ini sebagai kandidat unggulan.
Program-program strategis seperti Berani Sehat (berobat gratis hanya dengan KTP) dan Berani Cerdas (beasiswa pendidikan) dianggap sebagai "kartu as" yang menyentuh langsung kebutuhan mendasar masyarakat akar rumput.
Penilaian Akademisi: Rakyat adalah Hakim Tertinggi
Guru Besar Kebijakan Publik Universitas Tadulako (Untad) Palu, Prof. Dr. Slamet Riadi Cante, M.Si, memberikan analisis mendalam terkait dinamika ini. Menurutnya, peluang bagi seorang petahana untuk kembali terpilih sangat bergantung pada korelasi antara kebijakan yang dibuat dengan tingkat kesejahteraan yang dirasakan masyarakat secara nyata.
"Seberapa besar peluang incumbent itu sangat tergantung pada penilaian rakyat di akhir masa jabatan. Apakah program kebijakan yang digulirkan selama ini memiliki nilai manfaat yang nyata dan dirasakan langsung atau hanya sekadar simbolis," ujar Prof. Slamet Riadi Csnte M.Si kepada Alasannews, Selasa (17/3/26), melalui pesan singkat WhatsApp.
Prof. Slamet menekankan bahwa dalam dunia kebijakan publik, efektivitas program adalah parameter paling berharga. Program seperti Berani Sehat dan Berani Cerdas (Sulteng Nambaso) dinilai sangat krusial bagi masyarakat kelas bawah.
"Program pasangan Gubernur Anwar Hafid dan Wagub Reny A Lamadjido ini untuk sementara cukup bermanfaat, terutama bagi masyarakat yang kurang mampu. Keberlanjutan dukungan masyarakat akan linier dengan keberhasilan eksekusi program ini," tambahnya.
Strategi Media Sosial dan Dinamika Aturan
Di sisi lain, munculnya berbagai simulasi pasangan calon di media sosial belakangan ini dipandang sebagai hal wajar dalam komunikasi politik. Menurut Prof. Slamet, menyandingkan tokoh tertentu di platform digital adalah cara efektif untuk menguji "ombak" popularitas dan elektabilitas sebelum pertarungan sesungguhnya dimulai.
Namun, ia memberikan catatan kritis mengenai regulasi. "Peta politik bisa berubah drastis tergantung aturan main. Apalagi jika nantinya muncul wacana atau penetapan Pilkada melalui perwakilan DPRD, tentu konstelasi politik akan berubah total dibandingkan pemilihan langsung," pungkasnya.
Terobosan yang Menjawab Harapan Rakyat
Senada dengan hal tersebut, Edmond Leonardo Siahaan SH, MH, pengamat hukum sekaligus mantan aktivis lingkungan, menilai riak politik di era digital adalah bentuk partisipasi publik yang harus disambut bijak. Baginya, kinerja nyata Anwar-Reny melalui "9 Program Berani" adalah modal politik yang sangat besar.
"Saya melihat figur incumbent Anwar Hafid dan Reny A. Lamadjido memiliki pendobrak yang kuat untuk melangkah ke periode kedua tahun 2030. Khususnya program Berani Sehat dan Berani Cerdas yang mulai dicanangkan secara masif pada April 2025," kata Edmond kepada Alasannews.
Edmond menyebutkan bahwa program berobat gratis hanya dengan menunjukkan KTP adalah langkah revolusioner yang mungkin belum pernah dilakukan secara menyeluruh oleh gubernur-gubernur sebelumnya di Sulteng.
"Ini adalah fungsi pemerintah secara bijak untuk menyejahterakan rakyatnya. Memberikan standar kesehatan yang maksimal adalah perintah Undang-Undang, dan pasangan ini menjawabnya dengan tindakan konkret," tegasnya.
Investasi Sumber Daya Manusia
Selain kesehatan, program Berani Cerdas juga menjadi sorotan. Program ini memberikan akses bagi anak daerah untuk melanjutkan studi ke Perguruan Tinggi, baik jenjang S1 maupun S2 secara gratis. Edmond menilai ini sebagai investasi jangka panjang bagi masa depan Sulawesi Tengah.
"Ini hal luar biasa karena menyentuh hajat hidup orang banyak. Apa yang selama ini menjadi harapan rakyat, terutama warga kurang mampu, telah dijawab dengan wujud nyata. Sebagai incumbent, mereka memiliki pijakan yang sangat solid untuk melanjutkan kepemimpinan di Pilkada 2030 nanti," tutup Edmond.***


