Alasannews.com | Pontianak - Sudah tujuh bulan sejak pernyataan pengunduran diri Rokidi sebagai Direktur Utama (Dirut) Bank Kalbar beredar luas di media sosial, namun hingga hari ini Rokidi masih tetap duduk di kursi puncak direksi dan justru semakin sering tampil mendampingi Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan. Kejanggalan ini menimbulkan tanda tanya besar: apakah Rokidi benar-benar mengundurkan diri, ataukah ada dinamika politik dan kepentingan internal yang belum diungkap ke publik?
Mengundurkan Diri Karena Kanker Stadium 3B, Namun Tetap Sibuk Turun ke Lapangan
Pada 29 Maret 2025, Rokidi menyampaikan surat pengunduran diri kepada para pemegang saham Bank Kalbar, termasuk Gubernur Kalbar selaku pemegang saham pengendali. Dalam surat tersebut, ia mengaku mengundurkan diri karena menderita kanker usus besar stadium 3B dan harus menjalani perawatan intensif berdasarkan rekomendasi dokter dari Rumah Sakit Siloam Jakarta.
Alih-alih beristirahat atau menjalani perawatan intensif sebagaimana dianjurkan, Rokidi kini terlihat semakin aktif mengikuti rangkaian kunjungan kerja Gubernur Kalbar—mulai dari acara resmi di Jakarta hingga turun ke daerah seperti Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara. Kehadirannya yang hampir selalu berdampingan dengan Gubernur menimbulkan kesan bahwa dirinya masih menjalankan peran strategis dalam lingkar kekuasaan daerah.
Publik Bingung: Surat Mundur Ada, Tapi Keputusannya Tidak Pernah Diproses
Hingga hari ini, tidak ada pernyataan resmi baik dari manajemen Bank Kalbar maupun dari Gubernur Kalbar Ria Norsan mengenai kejelasan status pengunduran diri Rokidi. Ketidakjelasan ini memunculkan spekulasi bahwa surat pengunduran diri tersebut mungkin tidak pernah diproses, ditunda, atau bahkan mungkin telah dibatalkan secara diam-diam.
“Publik dibuat bingung dengan kegaduhan ini. Sampai hari ini tidak ada kepastian mengenai status pengunduran diri Dirut Bank Kalbar,” ujar seorang pensiunan Bank Kalbar yang meminta identitasnya dirahasiakan, Kamis (20/11/2025).
Padahal, surat tersebut tidak hanya ditujukan kepada Gubernur, tetapi juga kepada seluruh bupati dan wali kota se-Kalimantan Barat selaku pemegang saham.
Ketiadaan klarifikasi resmi membuat ruang publik dipenuhi pertanyaan yang dibiarkan menggantung tanpa jawaban.
Hubungan “Melesat Mesra” dengan Gubernur Baru, Publik Bertanya-Tanya
Rokidi selama ini dikenal dekat dengan mantan Gubernur Kalbar, Sutarmidji—yang dalam Pilkada sebelumnya merupakan rival politik Ria Norsan. Oleh karena itu, keputusan Rokidi untuk mundur beberapa bulan setelah kekalahan tokoh yang selama ini dianggap dekat dengannya menimbulkan tanda tanya tersendiri.
Namun yang terjadi, hubungan antara Rokidi dan Gubernur baru justru tampak semakin akrab. Hampir di setiap agenda resmi Gubernur, Rokidi tampak hadir, bahkan lebih sering muncul dibanding beberapa kepala OPD.
Situasi ini melontarkan pertanyaan:
Apakah pengunduran diri tersebut memang tulus, ataukah sekadar manuver politik yang kini berubah haluan?
Di internal Bank Kalbar, suasana dikabarkan tidak kalah panas. Sejumlah pegawai mengaku kebingungan karena tidak ada kejelasan mengenai kepemimpinan tertinggi bank daerah tersebut. Bahkan, beberapa pegawai dilaporkan dimutasi setelah dicurigai menyebarkan informasi terkait surat pengunduran diri Rokidi di media sosial.
Tidak ada klarifikasi dari manajemen mengenai alasan mutasi tersebut, sehingga dugaan intervensi terhadap aliran informasi internal semakin menguat.
“Semua orang di kantor tahu situasinya tidak jelas, tapi tidak ada yang berani bicara. Kami takut dianggap melawan,” ujar seorang pegawai yang meminta namanya tidak dipublikasikan.
34 Tahun Mengabdi, Namun Keputusan Mundur Menimbulkan Misteri
Rokidi telah berkarier selama 34 tahun di Bank Kalbar. Ia dilantik sebagai Dirut pada 12 November 2021 dan kembali menjabat untuk periode kedua mulai 12 November 2024 hingga 12 November 2028. Baru memasuki bulan kelima masa jabatan periode keduanya, Rokidi secara mengejutkan menyatakan mundur.
Motif pengunduran dirinya—entah murni alasan kesehatan atau dinamika politik—hingga kini masih menjadi misteri yang hanya diketahui oleh Rokidi sendiri.
Absennya informasi resmi dari dua pihak paling berkepentingan—Gubernur sebagai pemegang saham pengendali dan manajemen Bank Kalbar sebagai institusi yang dipimpinnya—mendorong tumbuhnya krisis kepercayaan di mata publik. Sebagai bank daerah yang mengusung motto “Bank Punye Kite”, transparansi dan akuntabilitas seharusnya menjadi prinsip dasar yang dijaga, bukan justru diabaikan.
Kini publik menanti:
Apakah Gubernur akan memberikan penjelasan?
Apakah manajemen Bank Kalbar akan bersuara?
Atau apakah kasus ini akan kembali hilang dalam senyap tanpa kejelasan?
Sampai berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi mengenai status pengunduran diri Rokidi maupun rencana strategis untuk mengatasi gejolak kepercayaan publik.
(Red/kalbar*)


