Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Fajar Baru Bumi Tadulako: Potensi Tambang dan Kemilau Hortikultura di Era Anwar Hafid

| 16:18 WIB | 0 Views Last Updated 2026-04-18T09:18:05Z

 


Oleh: Elkana Lengkong


ALASANNEWS,(Palu) – Sulawesi Tengah hari ini bukan lagi sekadar provinsi yang menanti uluran tangan pusat. Di bawah komando Gubernur Dr. H. Anwar Hafid, M.Si., dan Wakil Gubernur dr. Renny A. Lamadjido, Sp.PK, M.Kes., provinsi ini tengah menjalani transformasi ekonomi paling ambisius dalam satu dekade terakhir.


Ditahun kedua kepemimpinan mereka, sebuah narasi besar bertajuk "Loncatan Strategis Sulteng" mulai menampakkan wujud nyatanya: mengubah kekayaan alam yang selama ini terpendam menjadi mesin kesejahteraan rakyat yang berkelanjutan.


Arsitek Hilirisasi: Belajar dari Legasi Morowali


Nama Anwar Hafid tidak bisa dipisahkan dari fenomena Morowali. Sebagai Bupati dua periode (2007-2018), ia adalah tokoh kunci yang meletakkan batu pertama hilirisasi nikel di Indonesia. Sebelum negara ini gegap gempita membicarakan larangan ekspor bijih mentah (raw material), Anwar sudah lebih dulu bermimpi menjadikan kampung halamannya sebagai "Kabupaten Bintang Dunia."


Keberaniannya mengawal investasi raksasa melalui kolaborasi Bintang Delapan Group dan Tsingshan Group hingga lahirnya PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), kini menjadi rujukan nasional. Morowali yang dulunya daerah terisolasi, kini menjadi penyumbang investasi terbesar yang mampu mendikte dinamika harga nikel global. 


Pengalaman "tangan dingin" yang dikerjakan mendunia, inilah yang kini ia bawa ke level provinsi untuk memastikan seluruh kabupaten di Sulawesi Tengah merasakan dampak serupa namun dengan pendekatan yang lebih modern.


Siniu dan Revolusi Industri Hijau


Jika Morowali adalah fase pertama hilirisasi tambang, maka di bawah kepemimpinan Gubernur Anwar Hafid, fase kedua dimulai dengan standar yang lebih tinggi di Kecamatan Siniu, Kabupaten Parigi Moutong. Siniu kini ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) yang akan berfungsi sebagai pusat hilirisasi tahap lanjut.


Perbedaan mendasarnya terletak pada konsep Industri Hijau. Anwar Hafid secara tegas menyatakan bahwa masa depan Sulteng tidak boleh dikorbankan demi pertumbuhan ekonomi sesaat.

"Saya tidak ingin Parigi seperti Morowali yang asapnya dari batu bara. Kita beralih ke energi bersih," tegasnya.


Visi ini didukung oleh integrasi energi terbarukan dari PLTA Banggaiba di Kabupaten Sigi berkapasitas 145 megawatt. Siniu diproyeksikan menjadi lokasi pembuatan baterai dan mobil listrik, memanfaatkan bahan baku setengah jadi dari Morowali. Untuk menyambungkan ekosistem ini, infrastruktur jalan sepanjang 20 kilometer yang menghubungkan Siniu langsung ke Pelabuhan Pantoloan sedang dipacu. Ini bukan sekadar jalan, melainkan "urat nadi" yang menghubungkan pedalaman produksi dengan gerbang pasar global.


Saat Durian Menjadi Emas Hijau


Transformasi di era Anwar-Renny tidak berhenti di sektor tambang. Anwar Hafid memahami betul bahwa mayoritas rakyat Sulawesi Tengah bergantung pada sektor agraria.


Melalui semangat "Sulteng Nambaso" (Sulteng Besar/Hebat), ia mengangkat derajat hortikultura, khususnya durian, menjadi komoditas berkelas dunia.

Pada April 2026, sejarah mencatat pelepasan ekspor raya durian beku ke Tiongkok dengan angka yang mengejutkan: 151 kontainer senilai Rp377,5 miliar dalam kurun waktu kurang dari empat bulan. Sulteng kini resmi menjadi "Raja Durian Dunia".


Yang menarik, Anwar memposisikan Sulteng sebagai Aggregator atau Hub Utama Indonesia Timur. Durian-durian kualitas premium dari Sulteng  kini mengalir ke instalasi karantina di Palu sebelum terbang ke mancanegara. Strategi ini menciptakan efek domino ekonomi yang luar biasa bagi petani lokal, memastikan bahwa "emas hijau" dari dahan pohon memberikan keuntungan yang sama besarnya dengan mineral dari perut bumi.


Diplomasi "Jemput Bola" ke Negeri Tirai Bambu


Gubernur Anwar Hafid bukanlah tipe pemimpin yang menunggu di balik meja. Menindaklanjuti kunjungan delegasi Provinsi Sichuan ke Palu pada Februari 2026, ia menjadwalkan kunjungan balasan ke Hainan dan Sichuan pada Mei 2026.


Misi diplomasi ini sangat spesifik:

Transfer Teknologi: Membawa teknologi pertanian dan perikanan mutakhir Tiongkok untuk diterapkan oleh petani Sulteng. Sister Province: Memperkuat kerja sama ekonomi antar-wilayah yang setara. Penyederhanaan Logistik: Membuka jalur perdagangan yang lebih efisien bagi produk hortikultura dan olahan mineral Sulteng ke pasar Tiongkok.


Menuju Kesejahteraan 


Di balik semua proyek megah tersebut, ada sentuhan kemanusiaan yang selalu ditekankan oleh pasangan Anwar-Renny. Melalui program "9 Berani", fokus pembangunan tetap berakar pada pengentasan kemiskinan dan layanan dasar. Dr. Renny Lamadjido, dengan latar belakang medisnya, memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi yang dipacu Anwar Hafid sejalan dengan peningkatan kualitas kesehatan dan pendidikan masyarakat.


Anwar seringkali bergetar suaranya saat berbicara tentang persatuan. Ia mengingatkan bahwa kekayaan alam hanyalah alat, sedangkan tujuan akhirnya adalah kebahagiaan rakyat. "Jangan lagi ada ego kelompok. Kita bersatu untuk membahagiakan Sulawesi Tengah," pesannya dalam berbagai forum.


Era kepemimpinan Anwar Hafid dan Renny Lamadjido adalah era di mana Sulawesi Tengah mulai percaya diri tampil di panggung global. Dengan mengawinkan kekuatan industri mineral yang ramah lingkungan dan kejayaan hortikultura yang mendunia, mereka sedang membangun fondasi ekonomi yang tangguh. 


Sulteng kini bukan lagi sekadar penonton, melainkan pemain utama yang memastikan bahwa setiap butir nikel dan setiap buah durian yang keluar dari tanahnya, membawa pulang kesejahteraan nyata bagi seluruh rakyatnya.***

×
Berita Terbaru Update