Oleh: Elkana Lengkong / Eksekutif Redaktur
ALASANNEWS, (Palu) – "Wise leaders learn to accept wise advice. We are often too quick to see what others are doing by gauging our own thinking patterns with a judgmental tone, but forget to mourn our own failures."
DALAM diskursus kepemimpinan modern, kritik sering kali dianggap sebagai beban atau gangguan. Namun, bagi Dr. H. Anwar Hafid, M.Si., kritik adalah ibarat angin kencang yang secara alamiah menerpa pohon yang tumbuh tinggi.
Di bawah langit Sulawesi Tengah, sosok Anwar Hafid ini membuktikan bahwa kepemimpinan bukan soal adu argumen di ruang publik, melainkan soal keteguhan mengakar dalam melayani rakyat.
Miliki filosofi The Wisdom People (Manusia Bijaksana), mantan Bupati Morowali dua periode ini menunjukkan bahwa pemimpin sejati tidak antikritik, namun tidak pula goyah. Baginya, setiap suara bijak adalah kompas untuk tetap mawas diri, sementara hasil kerja nyata adalah jawaban paling elegan yang akan membungkam skeptisisme dengan sendirinya
Akar yang Kuat
Kepada Alasannews melalui pesan singkat WhatsApp, Anwar Hafid menganalogikan kepemimpinan dengan pertumbuhan sebuah pohon besar. "Semakin tinggi pohon, semakin kencang angin yang menerpa. Namun, ia akan tetap berdiri tegak karena ditopang oleh akar yang menghujam jauh ke dalam tanah," tuturnya.
Akar yang dimaksud Anwar adalah kepentingan rakyat. Keberhasilannya merumuskan Program 9 Berani—sebuah manifesto pembangunan Sulteng bukanlah hasil renungan di ruang ber-AC, melainkan kristalisasi dari pengalamannya memulai karier dari bawah sebagai Kepala Desa. Ia memahami denyut nadi keresahan warga karena ia pernah berada di sana.
"Masalah yang paling krusial bagi warga kurang mampu adalah kesehatan dan pendidikan. Selama lima tahun saya meneliti hal ini di tengah masyarakat Sulawesi Tengah. Ketakutan terbesar mereka adalah jatuh sakit saat tak punya uang, dan melihat anak-anak mereka putus sekolah karena biaya. Bekal empati inilah yang saya bawa sejak jadi Bupati hingga kini mengemban amanah sebagai Gubernur," jelas Anwar dengan nada yang reflektif.
Mengubah Kerikil Menjadi Pondasi
Setiap kebijakan revolusioner seperti Berani Cerdas, Berani Sehat, hingga Berani Berkah, tidak jarang menuai pro dan sedikit kontra. Namun, di sinilah karakter "Amanah sejak Awal Karier" Anwar Hafid diuji. Ia memiliki kematangan emosional untuk memisahkan mana kritik yang konstruktif dan mana kebisingan yang sekadar bias opini.
Anwar Hafid menyebut hal wajar jika dimasa kepemimpinannya menata Sulawesi Tengah dengan 9 program Berani untuk rakyat sejahtera banyak peroleh sorotan.
"Ini justru suatu pendorong semangat bagi saya dan ibu Renny bekerja keras mewujudkan rakyat Sulteng peroleh dampak dari 9 Program Berani. Termasuk Berani Sehat dan Berani Cerdas" kata Gubernur Anwar Hafid kepada Alasannews belum lama ini.
Kalau untuk kehidupan pribadi kata Anwar Hafid merasa sudah lebih dari cukup. Totalitas saya saat ini hanya tentang pengabdian. "Bagaimana progran 9 Berani Sulteng Nambaso agar rakyat yang hidup dalam kemiskinan bisa meraih kesejahteraan," tegasnya.
Sebagai figur yang dikenal low profile, Anwar memilih untuk tetap membangun jembatan di saat orang lain sibuk membangun tembok. Baginya, memastikan akses kesehatan gratis dan pendidikan yang terjangkau adalah harga mati yang tidak bisa ditawar oleh retorika politik mana pun.
Sinergi Menuju 2027: Mimpi Rumah Layak Huni
Salah satu poin paling menyentuh dalam visi Anwar Hafid ke depan adalah komitmennya terhadap hunian rakyat. Berdasarkan data yang ia miliki, masih terdapat sekitar 80 ribu warga Sulawesi Tengah yang tinggal di Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Kondisi ini mengusik sisi humanisnya sebagai pemimpin.
Ia mencanangkan gebrakan besar untuk tahun 2027: memastikan warga kurang mampu memiliki rumah yang layak. "Saya merasa iba dan prihatin. Bagaimana seorang pemimpin bisa tidur nyenyak jika masih ada puluhan ribu rakyatnya yang meratapi hidup di bawah atap yang rapuh karena kemiskinan?" kata Anwar kepada Alasannews, Kamis (23/4/2026)
Langkah konkret yang ia akan ambil adalah membangun sinergi dengan para Bupati dan Walikota se-Sulawesi Tengah. Ia ingin program rehabilitasi rumah ini menjadi gerakan kolektif.
"Jika kita bisa membantu lewat Berani Sehat dan Berani Cerdas, maka urusan tempat tinggal juga harus kita tuntaskan. Sayq akan mengajak Bupati dan Walikota di Sulteng untuk betsama, ini adalah panggilan tugas untuk merasakan denyut nadi masyarakat merupakan warga mereka, jugw" tambahnya.
Kepemimpinan yang Tenang dan Humanis
Kekuatan utama Anwar Hafid terletak pada pendekatannya yang religius sekaligus humanis. Di tengah dinamika politik yang sering kali memanas, ia tetap tampil dengan ketenangan. Ia memandang kritik sebagai bagian dari dialektika demokrasi yang harus dihadapi dengan sabar, bukan dengan reaksi keras.
Slogan "Dekat dengan Rakyat Tanpa Sekat" bukan sekadar bumbu kampanye. Ia mendapatkan energi justru saat turun ke lapangan, melihat senyum warga yang terbantu oleh biaya sekolah yang kini digratiskan atau biaya pengobatan yang ditanggung pemerintah. Dukungan tulus dari akar rumput inilah yang menjadi bukti bahwa arah pembangunan "Sulteng Nambaso" sudah berada di jalur yang benar.
Fokus pada Visi
Visi Berani Berkah adalah sebuah janji perubahan. Anwar menyadari bahwa jika seorang pemimpin berhenti melangkah setiap kali ada keraguan dari luar, maka tujuan besar menyejahterakan Sulawesi Tengah tidak akan pernah tercapai.
Prinsipnya sederhana namun dalam: tetap melangkah dengan hati yang jernih. Baginya, pemimpin yang bijaksana adalah mereka yang mampu memilah suara. "Tetap berjalan. Jika ada keraguan di luar sana, itu bagian dari dinamika. Yang penting, niat kita tulus untuk rakyat," pungkasnya.
Menang dengan Kinerja
Pada akhirnya, perjalanan Anwar Hafid adalah tentang konsistensi. Menjadi bagian dari The Wisdom People berarti memiliki daya tahan yang luar biasa di atas landasan kejujuran dan kemanusiaan. Ia membuktikan bahwa kritik pada akhirnya akan luruh oleh bukti nyata pembangunan.
Anwar Hafid tidak akan berhenti, apalagi berbalik arah. Ia terus melangkah ke depan, karena ia sadar betul bahwa di pundaknya, tersampir harapan jutaan rakyat Sulawesi Tengah yang mendambakan hidup lebih baik.**


