- Gubernur Anwar Hafid Resmikan Packing House Durian di Parimo, Perkuat Ekspor. (Ist).
Oleh: Elkana Lengkong/ Eksekutif Redaktur
ALASANNEWS, (Palu) – Angin segar berembus dari Bumi Tadulako. Gubernur Sulawesi Tengah, Dr. H. Anwar Hafid, M.Si mengatakan kesiapan daerahnya menyambut rencana kunjungan perdana wisatawan mancanegara dalam skala besar di tahun 2026.
Sebanyak 300 turis asal China dijadwalkan akan terbang langsung menuju Palu dengan satu misi spesifik yang unik: mengejar sensasi autentik durian Parigi Moutong (Parimo) yang disiapkan akan nikmati makan buah durian di bawah pohonnya. Kunjungan ini bukan sekadar perjalanan wisata biasa.
Bagi Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, ini adalah bukti nyata dari diplomasi ekonomi yang berhasil, sekaligus gong pembuka bagi kebangkitan sektor hortikultura sebagai "raksasa ekonomi baru" yang akan mendampingi sektor pertambangan yang selama ini mendominasi.
Gerbang Internasional: Memutus Isolasi Konektivitas
Selama ini, akses internasional menuju Sulawesi Tengah harus melalui transit di Jakarta atau Makassar. Namun, melalui inisiatif Gubernur Anwar Hafid, rencana penerbangan langsung (direct flight) dari China ke Bandara Internasional Mutiara SIS Al-Jufri Palu akan menjadi tonggak sejarah baru.
"Dengan terbukanya akses penerbangan internasional langsung ini, kita sedang meruntuhkan tembok pembatas konektivitas. Ini bukan hanya soal mendatangkan turis, tapi soal membuka pintu investasi dan perdagangan dua arah. Warga Sulteng kini punya peluang lebih besar untuk menjangkau destinasi dunia, begitu pun sebaliknya," ujar Anwar Hafid melalui pesan singkat, Minggu (3/5/2026).
Langkah berani ini merupakan implementasi dari "9 Program Berani". Anwar Hafid menekankan bahwa pariwisata berbasis potensi lokal adalah strategi step-by-step untuk menciptakan efek domino ekonomi yang menyentuh hingga ke lapisan masyarakat paling bawah.
Diplomasi "Sulteng Nambaso": Menjemput Teknologi ke Sichuan dan Hainan
Kepemimpinan Anwar Hafid dikenal dengan semangat Sulteng Nambaso. Tidak ingin hanya menunggu bola, pada Mei 2026 ini, Gubernur dijadwalkan bertolak ke China untuk kunjungan kerja strategis ke dua Provinsi di China yakni Provinsi Hainan dan Sichuan.
Kunjungan ini merupakan balasan atas kedatangan delegasi Sichuan ke Palu pada Februari lalu. Fokusnya jelas: mempererat ikatan Sister Province dan memastikan adanya transfer teknologi.
"Kami tidak ingin kolaborasi ini hanya berhenti di atas kertas. Fokus kami adalah integrasi kawasan industri. Kita ingin Sulawesi Tengah dan Sichuan tumbuh bersama. Disana banyak BUMD yang akan kita kerja sama terutama industrialisasi di sektor pangan adalah harga mati agar komoditas kita tidak keluar dalam bentuk mentah lagi," tegas mantan Bupati Morowali dua periode tersebut.
Parigi Moutong: Magnet Wisata Agro Dunia
Kabupaten Parigi Moutong kini menjadi pusat perhatian dunia. Rencsna kunjunga 300 wisatawan China untuk menikmati durian "langsung di bawah pohon" menunjukkan bahwa pasar global kini mencari pengalaman (experience), bukan sekadar produk.
Bupati Parigi Moutong, H. Erwin Burase, menyatakan bahwa persiapan di lapangan telah mencapai tahap final. Desa-desa penghasil durian seperti di Kecamatan Kasimbar telah disiapkan untuk memberikan layanan standar internasional tanpa menghilangkan kearifan lokal.
“Mereka ingin merasakan suasana kebun, udara segar pedesaan, hingga membelah buah yang baru jatuh dari pohon. Ini adalah bukti bahwa kualitas durian kita, seperti jenis Monthong dan durian lokal unggulan lainnya, telah diakui dunia,” kata Erwin dalam acara syukuran pasca-panen di Desa Tovalo.
Hilirisasi: Dari Kebun ke Pasar Global
Dalam rencana besar Anwar Hafid, kerja sama dengan Hainan dan Sichuan akan difokuskan pada tiga sektor utama:
Hortikultura (Durian): Penerapan teknologi Freeze Drying dan sistem logistik rantai dingin (cold chain) yang canggih agar durian Sulteng tetap segar saat sampai di meja makan konsumen di Beijing atau Shanghai.
Perikanan: Optimalisasi potensi laut Teluk Tomini melalui teknologi budidaya modern.
Pariwisata: Pengembangan ekosistem wisata yang terintegrasi antara bandara, transportasi lokal, dan akomodasi berbasis komunitas (homestay).
Dampak Nyata bagi Petani Lokal
Kehadiran wisatawan asing ini diprediksi akan menggerakkan roda ekonomi kreatif dan UMKM. Sektor perhotelan di Palu, jasa transportasi, hingga pemandu wisata lokal akan merasakan dampak langsung. Namun yang paling utama, posisi tawar petani durian di Parimo akan meningkat drastis.
Dengan adanya akses pasar langsung dan kunjungan turis, rantai distribusi yang panjang dapat dipangkas, sehingga keuntungan yang diterima petani menjadi lebih maksimal.
Menuju Sulawesi Tengah yang Mandiri
Kunjungan 300 turis China ini adalah langkah awal dari visi besar Gubernur Anwar Hafid untuk memposisikan Sulawesi Tengah sebagai destinasi wisata agro unggulan di Indonesia Timur. Dengan memadukan kekayaan alam dan teknologi industri, Sulawesi Tengah kini siap bertransformasi dari sekadar penghasil bahan mentah menjadi pemain utama dalam rantai pasok pangan internasional.
Momentum ini adalah bukti bahwa di bawah semangat "Berani" dan "Sulteng Nambaso", perubahan besar bukan lagi sekadar impian, melainkan realitas yang sedang dikerjakan.***


