Laporan: Elkana Lengkong, Redaktur Eksekutif
ALASANNEWS, BAHODOPI — Tidak banyak yang membayangkan bahwa Bahodopi, kawasan yang dahulu dikenal dengan hamparan lahan dan permukiman sederhana di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, kini berkembang menjadi salah satu pusat industri nikel terbesar di dunia.
Transformasi itu tidak lahir dalam semalam. Di baliknya terdapat perjalanan panjang yang melibatkan kebijakan pemerintah, masuknya investasi, pengembangan industri, agenda hilirisasi, serta pemanfaatan potensi sumber daya alam yang sejak lama tersimpan di bumi Morowali.
Bagi Gubernur Sulawesi Tengah, Dr. H. Anwar Hafid, M.Si., perkembangan Bahodopi bukan sekadar kisah tentang tumbuhnya pusat industri.
Sebagai putra daerah kelahiran Wosu, Morowali, sekaligus mantan Bupati Morowali dua periode, Anwar memiliki kenangan tersendiri ketika investasi nikel mulai masuk dan perlahan mengubah wajah daerah tersebut.
Morowali dengan semboyan Tepe Asa Moroso, yang bermakna semangat persatuan dan kebersamaan, kemudian memasuki babak baru pembangunan ekonomi.
Potensi nikel di wilayah ini sebenarnya telah lama diketahui. Namun, Bahodopi pada masa itu belum menjelma seperti yang terlihat sekarang.
Sejarah pertambangan nikel di wilayah tersebut juga memiliki perjalanan panjang. PT International Nickel Indonesia Tbk atau PT Inco, yang kemudian menjadi PT Vale Indonesia Tbk, telah memiliki sejarah operasi pertambangan nikel di Sulawesi. Kontrak Karya perusahaan dengan Pemerintah Indonesia ditandatangani pada 1968.
Dalam perkembangan berikutnya, Bahodopi termasuk dalam kawasan konsesi perusahaan. Namun, pengolahan nikel berskala besar pada masa itu lebih terkonsentrasi di Sorowako, Sulawesi Selatan.
Babak baru mulai terlihat ketika investasi baru masuk dan gagasan hilirisasi nikel diwujudkan di Bahodopi.
Dari Gagasan Menjadi Kenyataan
Anwar Hafid mengenang masa ketika dirinya masih menjabat Bupati Morowali. Saat itu, ia melihat besarnya potensi sumber daya alam daerah sekaligus menyadari bahwa kekayaan tersebut tidak akan memberikan manfaat maksimal kepada masyarakat tanpa investasi, lapangan kerja, dan industri pengolahan.
Menurut Anwar, pemerintah memiliki tanggung jawab menghadirkan kesempatan kerja, mengurangi beban masyarakat, meningkatkan kualitas pendidikan, memperkuat pelayanan kesehatan, serta mendorong produktivitas rakyat.
Dalam konteks itulah, kehadiran investasi nikel menjadi salah satu momentum penting bagi Morowali.
Anwar bahkan masih mengingat percakapannya dengan pihak investor yang kemudian mengembangkan kawasan industri di Bahodopi.
“Waktu itu saya bercanda sama bosnya IMIP. Kalau mau bangun, bangun saja. Tidak usah banyak cerita. Nanti kalau jadi baru saya kasih izin,” kenang Anwar Hafid kepada Alasannews, Sabtu (3/10/2026), melalui WhatsApp.
Kalimat itu disampaikan Anwar dengan nada ringan. Namun, waktu kemudian memperlihatkan bahwa gagasan membangun industri di Bahodopi berkembang menjadi proyek berskala besar.
Menurut catatan PT IMIP, kerja sama Tsingshan Group dan PT Bintang Delapan Investama melahirkan PT Sulawesi Mining Investment (SMI) pada 2009. Pengembangan tambang nikel kemudian dilanjutkan dengan pembangunan fasilitas pemurnian di Bahodopi.
Peletakan tiang pancang pabrik dilakukan pada Juli 2013. Sementara pendirian Kawasan Industri IMIP ditandatangani pada 3 Oktober 2013 dalam Forum Bisnis Indonesia-China.
Pusat industri itu kemudian diresmikan pada 29 Mei 2015. Sejak saat itu, wajah Bahodopi mulai berubah secara nyata.
Tiga Belas Tahun Mengubah Wajah Bahodopi
Tiga belas tahun perjalanan pengembangan IMIP membawa perubahan besar terhadap lanskap Bahodopi. Wilayah yang dahulu didominasi permukiman, lahan terbuka, dan aktivitas ekonomi masyarakat lokal kini berkembang menjadi kawasan industri terintegrasi.
Berbagai fasilitas pengolahan nikel dan produk turunannya tumbuh berdampingan dengan infrastruktur pendukung, seperti energi, pelabuhan, logistik, dan sektor jasa. Dampaknya tidak hanya terlihat dari berdirinya pabrik. Mobilitas penduduk dan aktivitas ekonomi warga juga meningkat.
Jalan-jalan yang dahulu relatif sepi kini dipenuhi kendaraan pekerja, angkutan logistik, serta kendaraan usaha masyarakat. Perdagangan berlangsung dari pagi hingga malam.
Bahodopi pun berkembang menjadi salah satu pusat gravitasi ekonomi baru di kawasan timur Indonesia.
Puluhan Ribu Lapangan Kerja
Ekspansi industri berjalan beriringan dengan peningkatan jumlah tenaga kerja. Data PT IMIP menunjukkan jumlah pekerja mencapai 35.592 orang pada 2020. Angka itu naik menjadi 51.542 orang pada 2021, kemudian 68.466 orang pada 2022 dan 74.350 orang pada 2023. Pada 2024, jumlah pekerja mencapai sekitar 83.000 orang. Setahun berikutnya, pada 2025, tercatat 86.804 orang.
Hingga September 2026, jumlah karyawan mencapai 100.310 orang, terdiri atas 91.904 pekerja laki-laki dan 8.406 pekerja perempuan.
Sementara data PT IMIP hingga akhir Agustus 2026 mencatat 98.266 tenaga kerja. Sebanyak 90.405 orang atau sekitar 92 persen berasal dari Pulau Sulawesi.
Dari jumlah itu, 31.445 orang merupakan penduduk Sulawesi Tengah, sedangkan 17.688 orang berasal dari Kabupaten Morowali. Adapun tenaga kerja lokal Kecamatan Bahodopi mencapai 10.809 orang.
Komposisi tersebut menunjukkan bahwa industrialisasi tidak hanya mengubah struktur ekonomi, tetapi juga membentuk pusat aktivitas penduduk baru.
Perputaran Uang Mencapai Rp5,9 Triliun Setahun
Besarnya jumlah pekerja turut menciptakan efek berantai terhadap perekonomian masyarakat sekitar.
Riset Research and Support, Departemen Secretariat General Affair PT IMIP pada Oktober 2025 mencatat rata-rata pengeluaran bulanan pekerja mencapai Rp5.750.880 per orang.
Dengan jumlah pekerja 86.804 orang, estimasi perputaran uang di Bahodopi mencapai Rp499,1 miliar per bulan atau sekitar Rp5,9 triliun dalam setahun.
Dampaknya tidak hanya dirasakan di dalam kompleks industri. Konsumsi pekerja turut menghidupkan berbagai usaha masyarakat, mulai dari warung makan, kios, jasa transportasi, tempat tinggal, bengkel, usaha penatu hingga usaha mikro lainnya.
Riset itu mencatat lima jenis UMKM yang paling banyak ditemukan di Bahodopi, yakni Kios Pertamini sebanyak 981 unit, stan minuman 735 unit, stan makanan nonbangunan 670 unit, kios umum 648 unit, dan warung makan 591 unit.
Head of Media Department PT IMIP, Dedy Kurniawan, mengatakan sebagian besar UMKM tersebut masih berada dalam kategori usaha mikro dengan omzet hingga Rp300 juta per tahun.
“Sebagian besar UMKM berada pada kategori usaha mikro dengan omzet hingga Rp300 juta per tahun, namun tren pertumbuhannya menunjukkan potensi naik kelas,” ujar Dedy.
Bahodopi dan Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Tengah
Dampak industrialisasi Morowali turut tercermin dalam struktur perekonomian Sulawesi Tengah.
Bank Indonesia mencatat ekonomi Sulawesi Tengah pada triwulan IV 2025 tumbuh 9,43 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 7,79 persen.
Menurut laporan Bank Indonesia, akselerasi itu antara lain terlihat pada lapangan usaha industri pengolahan serta pertambangan dan penggalian.
Secara keseluruhan, ekonomi Sulawesi Tengah sepanjang 2025 tumbuh 8,47 persen.
Capaian tersebut menunjukkan besarnya peran industri pengolahan dan pertambangan dalam perekonomian daerah, meskipun pertumbuhan Sulteng juga ditopang berbagai sektor lainnya.
Dari Morowali Menuju Sulteng Nambaso
Bagi Anwar Hafid, perjalanan Bahodopi menjadi pelajaran penting tentang bagaimana potensi daerah dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi melalui kebijakan, investasi, dan industrialisasi.
Ketika masih menjadi Bupati Morowali, Anwar bersama Ahmad Ali, yang ketika itu merupakan Anggota DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, disebut turut melakukan perjalanan ke China untuk membuka komunikasi dengan investor guna mendorong pengembangan industri nikel di Morowali.
Kini, posisi Anwar telah berubah.
Ia tidak lagi memimpin Morowali, tetapi dipercaya menjadi Gubernur Sulawesi Tengah.
Jika dahulu perhatiannya tertuju pada bagaimana menjadikan Morowali mampu mengolah sumber daya alamnya, kini tanggung jawab itu mencakup seluruh wilayah provinsi melalui visi pembangunan yang disebut Sulteng Nambaso.
Dalam konteks tersebut, Anwar menyebut sembilan program Berani sebagai bagian dari upaya menjalankan visi dan misi pembangunan Sulawesi Tengah.
Ketika ditanya apakah sebagai Gubernur Sulawesi Tengah dirinya memiliki mimpi menghadirkan perubahan besar seperti yang terjadi di Bahodopi, Anwar menjawab singkat.
“Saya yakin dengan sembilan Berani, Sulteng akan Nambaso,” ujarnya.
Dari Selembar Peta Menjadi Lanskap Industri
Jika dahulu Bahodopi hanya terlihat sebagai sebuah titik kecil di peta Morowali, kini wilayah itu berkembang menjadi salah satu pusat industri nikel yang memiliki pengaruh besar terhadap aktivitas ekonomi di sekitarnya.
Transformasi tersebut merupakan hasil perjalanan panjang, mulai dari keberadaan sumber daya nikel, sejarah konsesi pertambangan, kebijakan pemerintah, masuknya modal, pembangunan kawasan industri hingga tumbuhnya ekosistem usaha masyarakat.
Bagi warga Bahodopi, perubahan itu hadir dalam bentuk nyata: lapangan kerja, meningkatnya perdagangan, tumbuhnya UMKM, serta bergesernya wajah kawasan.
Bagi Sulawesi Tengah, Bahodopi menjadi salah satu gambaran bagaimana hilirisasi sumber daya alam dapat membentuk pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Sementara bagi Anwar Hafid, perjalanan itu menjadi kenangan sekaligus tantangan baru.
Mimpi yang dahulu mulai dibangun dari Morowali kini menjadi bagian dari cerita besar pembangunan Sulawesi Tengah.
Dari tanah yang menyimpan kekayaan nikel, Bahodopi tumbuh menjadi kawasan industri dengan denyut ekonomi yang bergerak hampir tanpa henti.
Tantangan berikutnya adalah memastikan kemajuan tersebut memberikan manfaat luas kepada masyarakat serta berjalan seiring dengan kepentingan ekonomi, sosial, dan lingkungan.
Menantikan DBH yang Adil dan Bijak
Namun, di tengah perkembangan pesat sebagai wilayah pusat industri nikel dengan nilai investasi triliunan rupiah, Morowali dan Morowali Utara masih menyisakan harapan terkait Dana Bagi Hasil (DBH).
Sebagai daerah dengan potensi mineral tambang besar, Sulawesi Tengah berharap memperoleh DBH yang signifikan. Namun, besaran penerimaan yang diterima dinilai belum seimbang dengan kebutuhan pembangunan yang muncul seiring aktivitas industri.
Gubernur Sulteng H. Anwar Hafid mengatakan, dari berkembang pesatnya industri nikel di Morowali dan Morowali Utara, daerahnya hanya memperoleh DBH sebesar Rp200 miliar.
“Bagaimana bisa membiayai perbaikan infrastruktur jalan di kedua daerah yang rusak parah akibat dampak eksploitasi industri tambang, butuh penataan perbaikan lingkungan, termasuk air bersih yang semuanya menyangkut hajat hidup warga di sana,” ujar Anwar Hafid.
Menurutnya, kebutuhan pembangunan di wilayah industri tidak hanya menyangkut jalan, tetapi juga lingkungan, air bersih, dan berbagai pelayanan dasar yang berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat.
DBH Sulteng Alami Kenaikan Signifikan pada APBN 2027
Wakil Ketua Badan Anggaran (Banggar) sekaligus Anggota Komisi XI DPR RI Fraksi Partai Golkar Dapil Sulawesi Tengah, H. Muhidin Said, SE., MBA., turut memberikan respons terhadap upaya Pemprov Sulteng.
Muhidin mendukung perjuangan daerah dalam menuntut hak fiskal yang lebih besar.
Ia juga membawa kabar bahwa alokasi DBH untuk wilayah Sulawesi Tengah dipastikan mengalami kenaikan signifikan pada APBN 2027.
Menurutnya, peningkatan itu merupakan hasil perjuangan Gubernur bersama DPRD Sulawesi Tengah yang difasilitasi langsung olehnya selaku pimpinan Banggar DPR RI dalam pertemuan intensif bersama Menteri ESDM, Menteri Keuangan, dan Banggar DPR RI saat pembahasan Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP).
“Untuk tahun anggaran APBN 2027, terjadi kenaikan dana DBH Sulteng. Berdasarkan data yang ada pada saya dan ini baru mencakup kabupaten/kota, belum termasuk Kabupaten Morowali Utara dan tingkat Provinsi, jumlahnya sudah mencapai Rp1.448.627.454.000 atau satu triliun empat ratus empat puluh delapan miliar rupiah lebih,” rinci Muhidin.
Sementara itu, untuk data jumlah DBH Provinsi Sulawesi Tengah dan Kabupaten Morowali Utara, pihaknya masih menunggu data.
Dari Bahodopi untuk Masa Depan Sulteng
Perjalanan Bahodopi pada akhirnya bukan hanya cerita tentang tambang, pabrik, dan investasi. Di balik geliat industri terdapat kisah tentang sebuah daerah yang berubah, masyarakat yang menghadapi peluang baru, pemerintah yang harus menata pembangunan, serta harapan agar kekayaan alam dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi daerah.
Bagi Anwar Hafid, Bahodopi merupakan bagian dari perjalanan panjang yang pernah ia saksikan ketika memimpin Morowali.
Kini, dari posisi sebagai Gubernur Sulawesi Tengah, pengalaman tersebut menjadi tantangan yang lebih luas: bagaimana memastikan kekuatan investasi dan industri dapat memberikan manfaat bagi masyarakat di seluruh wilayah Sulteng.
Dari Bahodopi, sebuah mimpi tentang pembangunan industri telah berubah menjadi kenyataan.Dan dari kenyataan itu, masih terbentang pekerjaan besar untuk memastikan pembangunan berjalan adil, berkelanjutan, serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan daerah.


