Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Anwar Hafid: Tanpa Akhlak dan Karakter, Gelar Akademik Tinggi Tak Berarti

| 17:57 WIB | 0 Views Last Updated 2026-11-05T10:57:00Z

 



ALASANNEWS, LUWUK – Gubernur Sulawesi Tengah, Dr. H. Anwar Hafid, M.Si., mengingatkan mahasiswa dan civitas akademika Universitas Muhammadiyah (Unismuh)  Luwuk Kabupaten Banggai, bahwa tanpa akhlak dan karakter yang baik, tingginya gelar akademik tak berarti 


Menurutnya, kecerdasan intelektual harus berjalan seiring dengan pembentukan moral, integritas, dan kepribadian. Pendidikan tinggi bukan sekadar jalan memperoleh gelar, melainkan proses membentuk manusia yang berkualitas dan bermanfaat bagi sesama.


“Biar (gelarnya) profesor, tapi kalau tidak punya akhlak, tidak akan ada orang yang meliriknya,” tegas Anwar saat memberikan kuliah umum di pelataran Universitas Muhammadiyah Luwuk, Rabu (4/11/2026).


Kisah Masa Sulitnya dari Anak Petani hingga Gubernur


Di hadapan sekitar seribuan mahasiswa, Gubernur Anwar Hafid juga membuka lembaran perjalanan hidupnya yang penuh perjuangan dalam meraih pendidikan tinggi. 


Kisah tersebut menjadi refleksi sekaligus motivasi bagi generasi muda agar tidak menyerah menghadapi keterbatasan ekonomi.


Dengan gaya bicara terbuka, mantan Bupati Morowali dua periode itu menceritakan bagaimana dirinya tumbuh dalam keluarga sederhana dengan tujuh bersaudara di Desa Wosu, Kabupaten Morowali.


Pada masa itu, melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi merupakan impian yang tidak mudah diwujudkan. Keterbatasan ekonomi keluarga bahkan sempat membuat kedua orang tuanya menangis karena tidak mampu membiayai pendidikan anak-anaknya.


“Saya sering menangis dulu. Orang tua saya juga menangis karena saya punya semangat besar, tapi orang tua tidak mampu menyekolahkan saya,” kenangnya.


Pengalaman tersebut menjadi salah satu titik penting yang membentuk keyakinannya bahwa pendidikan merupakan jalan untuk mengubah nasib keluarga sekaligus membuka peluang meraih masa depan yang lebih baik.


Anwar mengaku sempat bercita-cita menjadi dokter. Namun, setelah tidak berhasil masuk Fakultas Kedokteran, ia akhirnya memilih melanjutkan pendidikan di Fakultas Teknik Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar.


Perjuangan tidak berhenti setelah berhasil menjadi mahasiswa. Persoalan biaya kuliah dan kebutuhan hidup sehari-hari justru menjadi tantangan tersendiri yang harus dihadapinya.


Untuk membiayai pendidikan, Anwar terpaksa bekerja sebagai buruh bongkar muat. Ia memanfaatkan kesempatan ketika ada kendaraan pengangkut kopra dari kampung halamannya, Wosu, yang datang ke Makassar.


“Untuk biaya, saya bisa membiayai diri saya, saya terpaksa menjadi buruh. Kalau ada orang dari kampung membawa kopra dan sebagainya, saya pergi bongkar truk itu hanya untuk mendapatkan uang supaya bisa sekolah,” tuturnya.


Masa-masa sulit tersebut tidak membuatnya kehilangan semangat. Ia terus berusaha dan meyakini bahwa setiap kesulitan selalu memiliki jalan keluar.


Dalam kesempatan itu, Anwar mengutip penggalan ayat Al-Qur'an, Inna ma'al 'usri yusra, yang berarti sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.“Setelah kesulitan pasti ada kemudahan,” ujarnya.


Pendidikan menjadi prioritas pembangunan


Perjalanan pendidikan Anwar terus berlanjut seiring dengan pengabdiannya di pemerintahan. Ia pernah menempuh pendidikan di Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN), kemudian melanjutkan studi bidang Ilmu Sosial dan Politik di Universitas Hasanuddin.


Pendidikan akademiknya berlanjut ke jenjang magister di Universitas Muslim Indonesia hingga menyelesaikan pendidikan doktoral di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN).


Berbagai pengalaman tersebut semakin memperkuat pandangannya bahwa pendidikan merupakan investasi strategis untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan mempercepat kemajuan daerah.


Komitmen memperluas akses pendidikan sebenarnya telah dimulainya ketika menjabat Bupati Morowali selama dua periode.


Saat itu, kemampuan keuangan daerah masih terbatas. Anwar menyebut anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) yang harus menopang pembiayaan dua kabupaten, yakni Morowali dan Morowali Utara, hanya berkisar Rp700 miliar.


Meski demikian, keterbatasan anggaran tidak menghalanginya untuk memberikan bantuan pendidikan kepada masyarakat.


“Bantuan kuliah itu telah saya berikan di tengah kondisi APBD yang sangat minim saat itu,” ungkapnya.


Pengalaman tersebut kemudian menjadi salah satu landasan pemikirannya dalam melahirkan program Berani Cerdas setelah dipercaya memimpin Provinsi Sulawesi Tengah.


Berani Cerdas, jangan ada anak putus kuliah karena biaya


Anwar menegaskan, salah satu alasan utama dirinya mendorong program Berani Cerdas adalah memastikan tidak ada lagi anak-anak Sulawesi Tengah yang terpaksa mengubur cita-cita melanjutkan pendidikan tinggi hanya karena keterbatasan ekonomi keluarga.


Ia tidak ingin generasi muda mengalami penderitaan serupa dengan yang pernah dirasakannya ketika harus berjuang membiayai pendidikan secara mandiri.


“Saya tidak mau ada anak Sulteng ini yang merasakan penderitaan saya dulu,” tegasnya.


Menurut Anwar, biaya pendidikan tinggi sering kali menjadi beban berat bagi keluarga sederhana. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, orang tua mungkin masih bisa mengusahakan uang makan anak dengan mengirimkan hasil kebun atau hasil laut dari kampung halaman.


Namun, persoalan menjadi berbeda ketika mahasiswa harus membayar biaya kuliah yang mencapai Rp4 juta hingga Rp5 juta. Tidak semua keluarga memiliki kemampuan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan tersebut.


Karena itu, melalui Berani Cerdas, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah berupaya membuka kesempatan seluas-luasnya bagi generasi muda untuk memperoleh pendidikan tinggi tanpa harus terhalang ketidakmampuan ekonomi orang tua.


Anwar mengungkapkan, anggaran yang telah digunakan untuk mendukung pelaksanaan program tersebut mencapai sekitar Rp367 miliar.


Baginya, anggaran itu bukan sekadar belanja pemerintah, melainkan investasi jangka panjang untuk menyiapkan sumber daya manusia Sulawesi Tengah yang lebih unggul dan berdaya saing.


Ia menyadari hasil investasi pendidikan mungkin belum sepenuhnya terlihat selama masa kepemimpinannya sebagai gubernur. Namun, manfaatnya diharapkan dapat dirasakan oleh generasi mendatang.


“Mungkin di zaman saya jadi gubernur belum dilihat hasilnya. Tapi insyaallah 20 tahun yang akan datang nanti kita ketemu kembali, kalau saya masih hidup, lihat Sulteng ini akan menjadi daerah yang sangat maju di Indonesia,” katanya.


Anwar bahkan mengaku tidak terlalu mempersoalkan apabila ada pihak yang menilai masa kepemimpinannya kurang menghasilkan pembangunan fisik.


Menurutnya, keberhasilan pembangunan daerah tidak semata-mata diukur dari banyaknya infrastruktur yang dibangun, tetapi juga dari kemampuan pemerintah mempersiapkan generasi penerus yang memiliki pendidikan, kompetensi, dan karakter untuk melanjutkan pembangunan.


“Saya tidak peduli. Yang saya peduli niat saya tulus dan ikhlas agar program ini berjalan,” ujarnya.


Mahasiswa diminta kembali membangun daerah


Di hadapan mahasiswa Unismuh Luwuk, Anwar juga berpesan agar generasi muda tidak menyia-nyiakan kesempatan memperoleh pendidikan tinggi.


Ia meminta mahasiswa belajar dengan sungguh-sungguh, mengembangkan kemampuan, serta membangun karakter dan integritas sebagai bekal menghadapi tantangan masa depan.


Menurutnya, Sulawesi Tengah membutuhkan generasi terdidik yang tidak hanya berorientasi pada keberhasilan pribadi, tetapi juga memiliki kepedulian sosial dan tanggung jawab untuk membangun daerah.


Pendidikan harus melahirkan sumber daya manusia yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, bukan sekadar menghasilkan lulusan dengan gelar akademik.


Pesan tersebut sekaligus menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh capaian intelektual, tetapi juga kualitas moral dan karakter seseorang.


Kuliah umum yang diinisiasi Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Banggai itu menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mendengar langsung pengalaman hidup seorang pemimpin daerah yang pernah menghadapi keterbatasan ekonomi dalam memperjuangkan pendidikan.


Perjalanan Anwar Hafid, dari mahasiswa yang harus bekerja sebagai buruh bongkar muat hingga kini memimpin Sulawesi Tengah, memberikan gambaran bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti mengejar cita-cita.


Pengalaman tersebut pula yang menjadi salah satu dasar komitmennya memperluas akses pendidikan melalui program Berani Cerdas.


Bagi Anwar, masa depan Sulawesi Tengah tidak cukup dibangun dengan jalan, jembatan, gedung, dan berbagai infrastruktur fisik. Daerah ini juga membutuhkan generasi muda yang berpendidikan, berkompetensi, berintegritas, serta memiliki akhlak yang baik.


Sebab, pembangunan yang sesungguhnya bukan hanya meninggalkan warisan berupa infrastruktur, tetapi juga mempersiapkan manusia berkualitas yang mampu membawa daerah menuju kemajuan.

×
Berita Terbaru Update