ALASANnews.com – TOLITOLI. Hujan yang selama berbulan-bulan dinantikan masyarakat Kota Cengkeh akhirnya turun pada Minggu siang. Namun, hujan yang semestinya membawa kesejukan setelah musim panas berkepanjangan justru memperlihatkan persoalan lama yang belum terselesaikan: genangan air di sejumlah kawasan perkotaan.
Hujan deras disertai suara guntur mulai mengguyur wilayah Kota Tolitoli sekitar pukul 12.00 WITA hingga sore hari. Intensitas hujan yang berlangsung cukup lama membuat sejumlah ruas jalan berubah menjadi genangan air, bahkan dilaporkan masuk ke rumah warga.
Jalan Veteran menjadi salah satu titik yang paling menyita perhatian. Genangan air di ruas jalan tersebut cukup tinggi hingga tidak dapat dilalui kendaraan. Pengendara terpaksa mencari jalur alternatif untuk melanjutkan perjalanan.
Kawasan Kantor Camat Baolan, Kelurahan Baru, serta jalur dua Jalan Usman Binol juga dilaporkan mengalami genangan. Kondisi ini mengganggu mobilitas masyarakat dan memperlihatkan kerentanan sejumlah kawasan perkotaan ketika hujan turun dalam durasi panjang.
Seorang warga, Fajri, mengaku harus mengubah rute perjalanan ketika hendak pulang ke rumahnya di Jalan Monginsidi. Ia terpaksa berbalik arah setelah mendapati Jalan Veteran tidak memungkinkan untuk dilalui.
"Saya balik arah memilih ke Jalan Moh. Hatta karena rumah saya ada di Jalan Monginsidi," ungkap Fajri.
Bagi masyarakat, persoalan ini bukan sekadar genangan yang menghambat perjalanan. Ketika air mulai memasuki rumah warga, ancaman terhadap kenyamanan, keselamatan, serta harta benda menjadi persoalan yang jauh lebih serius.
Hujan kali ini sekaligus membuka kembali pertanyaan mengenai kesiapan infrastruktur perkotaan Tolitoli dalam menghadapi curah hujan tinggi. Sebab, hujan yang berlangsung beberapa jam saja sudah mampu membuat sejumlah akses jalan terganggu.
Persoalan drainase pun patut mendapat perhatian serius. Apakah saluran air yang ada masih mampu menampung debit air hujan? Ataukah sedimentasi, sampah, penyempitan saluran, dan persoalan tata kelola drainase ikut memperparah genangan?
Pemerintah Kabupaten Tolitoli melalui instansi teknis terkait perlu segera melakukan pemeriksaan lapangan, terutama pada titik-titik yang berulang kali mengalami genangan. Pembersihan saluran, normalisasi drainase, serta evaluasi sistem pembuangan air perkotaan tidak semestinya hanya dilakukan setelah banjir terjadi.
Lebih dari itu, diperlukan pemetaan kawasan rawan genangan agar penanganannya tidak bersifat sementara. Infrastruktur drainase harus dirancang sesuai perkembangan kawasan permukiman dan kebutuhan lingkungan perkotaan.
Peristiwa ini seharusnya menjadi alarm bagi pemerintah daerah. Jangan sampai setiap hujan deras datang, masyarakat kembali menghadapi persoalan yang sama: jalan terendam, kendaraan kesulitan melintas, dan air mengancam masuk ke rumah.
Hujan boleh datang setelah kemarau panjang, tetapi buruknya sistem pengendalian air perkotaan tidak boleh menjadi persoalan yang terus diwariskan.
Kini publik menunggu langkah nyata pemerintah. Sebab, yang dibutuhkan warga bukan sekadar penjelasan ketika banjir terjadi, melainkan solusi agar Kota Tolitoli tidak terus-menerus lumpuh setiap kali hujan turun.


