TOLITOLI – Laut bukan sekadar hamparan air yang membentang di hadapan masyarakat Desa Ogotua, Kecamatan Dampal Utara. Laut adalah sumber kehidupan, tempat menggantungkan harapan, ruang mencari nafkah, sekaligus bagian tak terpisahkan dari identitas dan kebudayaan masyarakat pesisir.
Di tengah perubahan zaman dan tuntutan ekonomi yang semakin kompleks, masyarakat nelayan Desa Ogotua masih menjaga sebuah tradisi yang sarat makna: Syukuran dan Pesta Nelayan.
Tradisi tersebut kembali digelar di Pelabuhan Perikanan Pantai Ogotua, Minggu (1/11/2026). Bukan sekadar perayaan, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa hubungan manusia dengan laut tidak hanya sebatas aktivitas ekonomi, tetapi juga menyangkut nilai spiritual, kebersamaan, dan warisan budaya yang patut dipertahankan.
Bagi masyarakat nelayan, laut menyimpan dua sisi kehidupan. Ia memberikan rezeki, tetapi juga menghadirkan tantangan dan ketidakpastian. Karena itu, rasa syukur menjadi bagian penting dalam perjalanan kehidupan mereka.
Pesta Nelayan menjadi ruang untuk mengungkapkan rasa terima kasih atas hasil laut yang diperoleh sekaligus mempererat hubungan antarsesama warga. Di tempat inilah nilai gotong royong, persaudaraan, dan solidaritas sosial kembali menemukan maknanya.
Kehadiran Bupati Toli-Toli, Hi. Amran Hi. Yahya, dalam kegiatan tersebut menjadi bentuk perhatian pemerintah daerah terhadap tradisi masyarakat pesisir yang memiliki nilai budaya dan sosial.
Bupati mengapresiasi antusiasme masyarakat yang secara bersama-sama menyukseskan kegiatan tersebut. Ia berharap semangat gotong royong dan kebersamaan para nelayan terus dipelihara, seiring dengan upaya mendorong kemajuan sektor perikanan sebagai salah satu penopang perekonomian Kabupaten Toli-Toli.
Pesan itu penting. Sebab, pembangunan sektor perikanan tidak cukup hanya berbicara tentang produksi, fasilitas pelabuhan, teknologi penangkapan ikan, maupun peningkatan pendapatan nelayan. Ada aspek lain yang tidak kalah penting, yakni menjaga tradisi dan membangun kekuatan sosial masyarakat pesisir.
Kekayaan laut bukan hanya tentang berapa banyak ikan yang dapat ditangkap dan berapa besar nilai ekonomi yang dihasilkan. Lebih dari itu, laut telah membentuk karakter, kebiasaan, kearifan lokal, serta identitas masyarakat yang hidup berdampingan dengannya.
Di Ogotua, Pesta Nelayan menjadi salah satu cermin bagaimana budaya tetap hidup di tengah dinamika kehidupan modern.
Kemasan kegiatan yang semakin meriah melalui Lomba Dayung dengan melibatkan 23 peserta juga memperlihatkan bahwa tradisi dapat menjadi ruang rekreasi sekaligus sarana memperkenalkan kembali kedekatan masyarakat dengan kehidupan bahari.
Perlombaan tersebut bukan semata-mata soal siapa yang tercepat mencapai garis finis. Di balik kayuhan dayung, tersimpan semangat kerja sama, ketangkasan, keberanian, dan kebersamaan yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat nelayan.
Pesta Nelayan juga menghadirkan ruang perjumpaan antara pemerintah dan masyarakat. Kehadiran Ketua DPRD Toli-Toli Hj. Sriyanti Dg. Parebba bersama anggota DPRD, Sekretaris Daerah Moh. Asrul Bantilan, S.Sos., para kepala perangkat daerah, unsur Forkopimca Dampal Utara, Kepala UPT Pelabuhan Perikanan Ogotua, komunitas nelayan, serta masyarakat sekitar memperlihatkan pentingnya kebersamaan dalam menjaga kehidupan sosial masyarakat pesisir.
Namun, ada pesan yang lebih besar dari sekadar kemeriahan sebuah pesta.
Tradisi seperti ini perlu dirawat agar tidak berhenti sebagai agenda seremonial tahunan. Pemerintah daerah, komunitas nelayan, tokoh masyarakat, dan generasi muda perlu bersama-sama memastikan nilai-nilai budaya bahari tetap diwariskan.
Anak-anak muda perlu mengenal sejarah kehidupan nelayan, memahami kearifan masyarakat dalam memanfaatkan laut, serta menyadari bahwa identitas sebuah desa pesisir tidak dapat dipisahkan dari laut dan tradisinya.
Di tengah ancaman perubahan iklim, tekanan ekonomi, dan tantangan keberlanjutan sumber daya perikanan, menjaga hubungan harmonis antara manusia dan laut menjadi semakin penting.
Pesta Nelayan Ogotua seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran tersebut. Laut harus dijaga, sumber daya ikan harus dimanfaatkan secara bijaksana, dan kesejahteraan nelayan harus menjadi perhatian bersama.
Sebab, ketika tradisi mulai ditinggalkan, sebuah masyarakat berisiko kehilangan sebagian dari ingatan kolektifnya.
Ogotua memiliki kekayaan yang tidak hanya diukur dari hasil tangkapan ikan, tetapi juga dari nilai kebersamaan dan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Pesta Nelayan bukan sekadar merayakan hasil laut. Ia adalah pernyataan bahwa masyarakat Ogotua masih memiliki akar budaya, masih menghargai laut, dan masih menjaga persaudaraan.
Selama tradisi itu terus hidup, identitas masyarakat pesisir Ogotua akan tetap terjaga.***


