Oleh Hasanuddin Atjo,
Pemprov Sulteng saat rapat Koordinasi para Gubernur se Sulawesi bersama Bappenas di Manado ( 2019) menggagas membangun jalan "Tol Tambu Kasimbar", menghubungkan Selat Makassar pada ( ALKI II) dengan Teluk Tomini pada (ALKI III).
Sejumlah alasan mendasari gagasan tersebut antara lain kontribusi dari wilayah timur ( Sulawesi, Maluku, Papua) terhadap pembentukan PDB (produk domestik bruto) pada saat itu tidak lebih dari 10 %, dengan laju pertumbuhan yang rendah.
Selain itu, konsekwensi dari negara Kepulauan seperti Ibdonesia adalah mahalnya ongkos logistik, distribusikan barang dan komoditi dari wilayah Timur ke Barat dan sebaliknya, yang kemudian berdampak pada hambatan peningkatan daya saing.
Berdasarkan data yang ada, ongkos logistik mengangkut barang maupun komoditi dari wilayah Timur ke Barat dan sebaliknya mencapai 37, 5 % terhadap harga barang atau komoditi. Sementara itu pada Negara Asean lainnya ongkos logistik berada dibawah 20 %.
Salah satu program prioritas Presiden Prabowo Subianto lima tahun kedepan adalah swasembada dan ketahanan pangan. Dan untuk mencapai target itu maka wilayah timur
duarahkan menjadi tulang punggungnya.
Pulau Jawa dengan penduduk
tahun 2024 sebanyak 157 juta jiwa atau lebih 50 % dari total penduduk Indonesia sebesar
287 juta jiwa (BPS, 2024) merupakan pasar potensial sejumlah komoditi terutama pangan yang berasal dari timur.
Selain itu pulau Jawa adalah pusat hilirisasi dari sejumlah komoditi karena didukung ketersediaan tenaga kerja dan infrastruktur ditambah dengan kebijakan menunjuk wilayah Timur sebagai pusat produksi pangan yang baru.
Kalimantan juga merupakan pasar yang potensial. Pulau ini memiliki penduduk 23,5 juta jiwa dengan penghasilan utama Batubara. Sekitar 24 % merupakan wilayah Malaysia (Sabah, dan Serawak) dan 1 % Brunei Darusalam
Karenanya gagasan bangun infrastruktur darat (jalan Tol) Tambu - Kasimbar kemudian diintegrasikan dengan moda transportasi laut tentunya makin relevan direalisasikan memenuhi tuntutan maupun kebutuhan
Akan terjadi efisiensi dalam transportasi bila gagasan itu direalisasikan. Komoditi dari Timur (Sulawesi, Maluku dan Papua) yang duangkut cargo laut tidak perlu lagi harus berputar di sebelah Utara atau Selatan Pulau Sulawesi apabila menuju pulau Jawa dan Kalimantan.
Ilustrasinya bahwa kargo laut (Fery) berlayar menuju Teluk Tomimi (Pelabuhan laut di Kasimbar, Parigi Moutong). kemudian truck pengangkut melintasi jalan Tol Tambu Kasimbar sepanjang 28 km dan tiba di selat Makassar (Pelabuhan Tambu Donggala) sekitar 60 menit kemudian, untuk seterusnya berlayar ke Jawa atau Kalimantan.
Selanjutnya progran 9 Berani Gubernur Sulteng, Anwar Hafid dinilai relevan untuk merealisasikan gagasan itu, terutama mewujudkan Berani lancar, panen raya, tangkap banyak dan Berani sejahtera.
Terakhir bahwa Integrasi Tol darat Tambu-Kasimbar dan moda transportasi laut tentu menjadi kebutuhan Nasional khususnya swasembada dan ketahanan pangan. Karena itu nantinya diharap projek ini menjadi salah satu PSN (projek strategis nasional).elle.***


