Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Dr Herman Hofi: UMKM Kalbar Butuh Pendampingan Nyata, Bukan Sekadar Kredit dan Acara Gebyar!

| 00:10 WIB | 0 Views Last Updated 2026-01-11T17:10:35Z


Alasannews.com | Pontianak — Pengamat Hukum dan Kebijakan Publik, Dr. Herman Hofi Munawar, SH, menegaskan bahwa memasuki awal tahun 2026, ekspektasi publik terhadap dunia perbankan semakin besar, khususnya dalam memberikan dukungan nyata bagi sektor Usaha Mikro dan Ultra Mikro (UMKM). Hal tersebut disampaikannya pada Minggu, 11 Januari 2026.


Menurut Herman, sejarah telah membuktikan bahwa ketika badai krisis ekonomi melanda Indonesia pada 1998, UMKM tampil sebagai tulang punggung yang mampu menyelamatkan perekonomian nasional, termasuk di Kalimantan Barat. Dengan daya serap tenaga kerja yang mencapai sekitar 80 persen, sektor ini bukan sekadar pelengkap, melainkan penggerak utama roda ekonomi masyarakat.


Namun demikian, realitas di lapangan menunjukkan bahwa hingga awal tahun 2026, geliat usaha mikro dan ultra mikro belum menunjukkan lonjakan signifikan. Situasi ini, kata Herman, menuntut keseriusan dunia perbankan untuk menghadirkan program pembinaan yang terencana, sistematis, dan terukur.

“Publik tidak lagi membutuhkan acara seremonial tanpa tindak lanjut yang jelas. Masyarakat merindukan keberlanjutan,” ujarnya.


Ia menilai, perbankan di Kalbar diharapkan mengambil peran yang lebih substantif, tidak sebatas menyelenggarakan kegiatan seperti “Gebyar UMKM” atau pelatihan pemasaran singkat yang minim dampak jangka panjang.


Transformasi yang diharapkan, lanjut Herman, adalah kehadiran inkubator bisnis yang melekat pada fungsi perbankan. Bank tidak hanya berperan sebagai penyalur kredit dan penagih cicilan, tetapi juga sebagai penyedia mentor bisnis yang andal.

Selain itu, perbankan diharapkan mampu menjadi jembatan agar UMKM lokal dapat masuk ke dalam rantai pasok perusahaan-perusahaan besar di Kalimantan Barat melalui skema kemitraan yang adil dan saling menguntungkan.


Herman juga mengungkapkan bahwa berdasarkan data per Januari 2026, tingkat kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) perbankan di Kalbar masih berada pada level yang sangat sehat. Hal ini, menurutnya, menjadi indikator kuat bahwa pelaku UMKM di daerah memiliki tingkat kepatuhan dan integritas yang tinggi dalam memenuhi kewajiban finansialnya.

“Melihat potensi dan kepatuhan tersebut, sudah saatnya konsep pembinaan diubah,” tegasnya.


Keberhasilan pembinaan, kata Herman, tidak boleh lagi diukur semata dari besaran nominal kredit yang disalurkan, melainkan dari kualitas pendampingan yang diberikan kepada pelaku usaha. Publik berharap bank hadir sebagai mitra strategis yang membantu UMKM dalam berbagai aspek, antara lain:


Digitalisasi bisnis untuk memperluas jangkauan pasar;

Penyusunan business plan dan pembukuan yang akuntabel;

Penguatan mentalitas dan strategi usaha agar lebih tangguh menghadapi dinamika pasar yang fluktuatif.


Dengan kolaborasi yang kuat antara perbankan dan pelaku usaha, Herman optimistis UMKM Kalimantan Barat tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga naik kelas dan menjadi motor pertumbuhan ekonomi yang inklusif sepanjang tahun 2026.

“UMKM Kalbar harus kita dorong bukan sekadar survive, tetapi tumbuh, berdaya saing, dan berkontribusi besar bagi ekonomi daerah,” pungkas Herman Hofi Law.



Sumber : Dr.Herman Hofi Munawar, SH 

Red/Gun*

×
Berita Terbaru Update