Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Membangun Asa dari Balik Dinding Lapuk: Visi Besar Anwar Hafid Mengikis Kemiskinan Melalui "BERANI Bedah Rumah"

| 11:48 WIB | 0 Views Last Updated 2026-03-31T04:48:33Z

 



Tulisan : Elkana Lengkong


ALASANNEWS, (Donggala) – Di bawah naungan nyiur yang melambai di Desa Dalaka, Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala, terselip sebuah potret kontradiktif. Di balik keindahan alam Sulawesi Tengah, berdiri sebuah rumah kayu yang seolah sedang berbisik tentang getirnya kehidupan.


Dindingnya yang lapuk dimakan usia dan atapnya yang mulai menyerah pada air hujan adalah saksi bisu keseharian Ibu Hasima—seorang warga yang bertahan di tengah keterbatasan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).


Melansir status Medsos dari akun Sisi Sulteng menyebut kondisi Ibu Hasima bukanlah sekadar angka statistik dalam buku laporan pemerintah. Ia adalah representasi dari ribuan kepala keluarga di Sulawesi Tengah yang masih merindukan tempat berteduh yang manusiawi. Namun, di tengah kepasrahan itu, sebuah harapan besar kini ditiupkan oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah.


Komitmen Nyata: Bukan Sekadar Janji, Tapi Bukti


Di bawah komando Gubernur Anwar Hafid, isu kemiskinan tidak lagi diselesaikan dengan retorika di balik meja formalitas. Melalui program unggulan BERANI Bedah Rumah, Anwar Hafid menegaskan bahwa negara harus hadir hingga ke depan pintu rumah rakyat yang paling membutuhkan.


Program ini merupakan urat nadi dari BERANI Sejahtera, satu dari sembilan pilar strategis dalam "9 Program BERANI". Anwar Hafid memahami betul bahwa rumah bukan sekadar struktur fisik yang terdiri dari tiang dan atap. Rumah adalah fondasi peradaban terkecil keluarga. Jika rumahnya rapuh, maka kesehatan, pendidikan, dan produktivitas penghuninya pun akan ikut terancam.


Filosofi di Balik "BERANI Bedah Rumah"


Ada tiga esensi utama yang diusung oleh Anwar Hafid melalui gerakan bedah rumah ini:


Restorasi Harkat dan Martabat: Memastikan setiap warga Sulawesi Tengah memiliki hunian yang sehat, aman, dan nyaman adalah bentuk penghormatan pemerintah terhadap hak asasi manusia.


Akselerasi Ekonomi Keluarga: Dengan rumah yang layak, masyarakat berpenghasilan rendah dapat mengalihkan fokus dan biaya yang tadinya untuk perbaikan rumah yang tak kunjung usai, menjadi modal usaha atau biaya pendidikan anak.


Kesehatan Lingkungan: Rumah yang dibedah disesuaikan dengan standar kesehatan (sanitasi dan ventilasi), yang secara otomatis menekan angka stunting dan penyakit menular di pemukiman padat atau terpencil.


Mengubah Wajah Sulawesi Tengah yang Inklusif


Kisah Ibu Hasima di Donggala kini menjadi titik tolak perubahan. Bagi Pemprov Sulteng, pengentasan kemiskinan adalah kerja multidimensi. Membagi bantuan pangan memang penting, namun memberikan hunian permanen yang layak adalah investasi jangka panjang untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi


“Kita ingin memastikan bahwa tidak ada lagi rakyat Sulawesi Tengah yang merasa asing di tanahnya sendiri karena tinggal di rumah yang tidak layak. Keadilan sosial harus dirasakan melalui sentuhan nyata di dinding-dinding rumah mereka,” ungkap narasi komitmen yang sering digaungkan oleh tim transisi program tersebut.


Menatap Masa Depan


Melalui Program BERANI Bedah Rumah, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah sedang membangun sebuah monumen hidup. Setiap rumah yang berhasil direnovasi adalah simbol kemenangan kecil dalam perang besar melawan kemiskinan.


Langkah konkret Anwar Hafid ini membuktikan bahwa kepemimpinan yang kuat adalah kepemimpinan yang mampu merasakan dinginnya angin yang masuk ke sela-sela dinding rumah rakyatnya, dan memiliki keberanian untuk memperbaikinya.


Dari Desa Dalaka hingga ke pelosok Sulteng lainnya, api harapan kini mulai menyala, membakar semangat untuk menjemput kehidupan yang lebih inklusif, adil, dan sejahtera.***

×
Berita Terbaru Update