Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Simfoni Kemanusiaan dari Mimbar ke Vatutela: Prof. Slamet Riadi Puji Pesan Menyejukkan Gubernur Anwar Hafid

| 16:14 WIB | 0 Views Last Updated 2026-03-24T09:14:07Z

 


Tulisan: Elkana Lengkong

ALASANNEWS, (Palu) – Momentum Idulfitri 1447 Hijriah di Sulawesi Tengah tahun ini meninggalkan kesan mendalam yang melampaui sekadar ritual tahunan. 


Kepemimpinan Gubernur Dr. H. Anwar Hafid, M.Si, kembali menjadi perbincangan hangat, bukan karena kebijakan teknis semata, melainkan karena sentuhan kemanusiaan dan narasi damai yang ia gaungkan dari mimbar masjid hingga ke pelosok dataran tinggi.


Dukungan dan apresiasi mengalir deras, salah satunya datang dari figur akademisi terpandang, Prof. Dr. Slamet Riadi Cante, M.Si. Guru Besar Kebijakan Publik Universitas Tadulako (Untad) ini menilai bahwa gaya kepemimpinan Anwar Hafid telah menunjukkan harmoni antara retorika spiritual dan aksi nyata di lapangan.


Pesan Penyejuk sebagai Khatib


Pada Sabtu (20/3/26), dihadapan ribuan jemaah memadati Masjid Raya Baitul Khairaat untuk menunaikan salat Idulfitri. Di sana, Gubernur Anwar Hafid berdiri sebagai khatib, menyampaikan khotbah yang disebut-sebut mampu meredam ego sektoral dan mempererat kohesi sosial masyarakat pasca-bulan suci.


Prof. Slamet Riadi menilai, pidato Anwar Hafid bukan sekadar ceramah agama biasa. Penggunaan istilah "Tadulako" sebagai simbol pemimpin yang mengayomi dan berani oleh sang Gubernur dianggap sebagai langkah strategis dalam membangun psikologi massa yang positif


"Pesan menyejukkan yang disampaikan Gubernur adalah modal sosial yang tak ternilai. Ini sangat dibutuhkan untuk membangun harmoni di lingkungan birokrasi dan seluruh stakeholder di Sulawesi Tengah," ungkap Prof. Slamet kepada Alasannews, Senin (23/3/2026).


Menurut Prof. Slamet, keberhasilan program unggulan "Sembilan Berani" mustahil tercapai tanpa adanya stabilitas dan kemitraan yang kuat. "Pesan ini menjadi fondasi untuk mewujudkan kerja sama yang inklusif. Tanpa kedamaian di hati para pengambil kebijakan dan rakyatnya, pembangunan hanya akan menjadi angka-angka tanpa jiwa," tambahnya.


Menembus Batas: Dari Open House ke Dusun Vatutela


Gubernur Anwar Hafid tampaknya enggan terjebak dalam protokoler yang kaku. Setelah menghabiskan dua hari pertama Lebaran dengan membuka pintu rumah jabatannya untuk masyarakat umum (open house), ia segera mengganti setelan formalnya dengan pakaian lapangan.


Pada Senin (23/3/2026), didampingi Wakil Gubernur Dr. Reny Lamadjido serta Ketua TP PKK Sulteng Sry Nirwanti Bahasoan, Anwar Hafid melakukan perjalanan menuju Dusun Vatutela, Kelurahan Tondo, Kecamatan Mantikulore. Wilayah yang terletak di dataran tinggi ini jarang tersentuh oleh hiruk-pikuk kunjungan pejabat setingkat gubernur secara informal.


Langkah "jemput bola" ini adalah bukti bahwa sang "Tadulako" lebih memilih mendengar jeritan hati warga di teras rumah mereka ketimbang sekadar menerima laporan di balik meja empuk kantor gubernuran.


Dialog di Teras Rumah: Mendengar Suara dari Pinggiran


Suasana di Vatutela berubah haru saat rombongan gubernur tiba. Tanpa sekat pembatas, Anwar Hafid duduk bersila bersama warga, berdialog dalam suasana kekeluargaan yang kental. Momen ini dimanfaatkan warga untuk mencurahkan isi hati mereka mengenai kondisi riil pasca-Lebaran dan tantangan hidup sehari-hari.


Sambil menyerahkan bantuan paket sembako sebagai jaring pengaman sosial, Anwar Hafid mendengarkan dengan seksama keluhan warga mengenai akses infrastruktur jalan yang masih sulit dan minimnya fasilitas pendukung di wilayah dataran tinggi tersebut.


Seorang tokoh masyarakat setempat mengungkapkan rasa syukur yang mendalam. “Alhamdulillah, kami merasa sangat dihargai. Baru kali ini ada pimpinan daerah yang mau duduk bersama kami di sini untuk mendengar langsung masalah jalan dan kehidupan kami,” tuturnya dengan suara bergetar.


Komitmen Pembangunan yang Inklusif


Merespons aspirasi tersebut, Anwar Hafid menegaskan bahwa kunjungan ini bukan sekadar silaturahmi politik, melainkan bagian dari evaluasi kebijakan. Ia berjanji akan mengoordinasikan masukan warga dengan Pemerintah Kota Palu maupun melalui kewenangan Provinsi


Bagi Anwar Hafid, pembangunan Sulawesi Tengah tidak boleh meninggalkan mereka yang berada di pinggiran. Semangat Idulfitri 1447 H ini ia jadikan momentum untuk memperkuat fondasi Sulawesi Tengah yang lebih maju dan inklusif.


Kunjungan yang ditutup dengan doa bersama di tengah udara sejuk Vatutela itu menjadi simbol bahwa kepemimpinan yang menyejukkan adalah kepemimpinan yang hadir saat rakyat membutuhkan, bukan sekadar kata-kata manis di podium, melainkan langkah nyata yang membekas di hati masyarakat.***

×
Berita Terbaru Update