Oleh: Elkana Lengkong
ALASANNEWS, (Palu) – Di panggung kekuasaan yang kerap riuh dengan hiruk-piruk pencitraan, pujian sering kali menjelma menjadi hal yang meninabobokan.
Ia terasa manis di telinga, namun terkadang melenakan langkah, membuat seorang pemimpin merasa telah sampai di puncak Padahal pendakian yang sesungguhnya baru saja dimulai. Sebaliknya, kritik sering kali dianggap sebagai kerikil yang mengganggu .
Namun, bagi Dr. H. Anwar Hafid, M.Si, Gubernur Sulawesi Tengah, esensi kepemimpinan bukan tentang menghindari melainkan sebagai seorang Tadulako (pemimpin/panglima) di negeri yang kaya akan sumber daya alam ini, Anwar Hafid menempatkan dengan bijak kritik itu secara positif
Kritik Sebagai Denyut Nadi Harapan
Memasuki dua tahun masa pengabdiannya bersama Renny A. Lamadjido, tak lepas derasnya sorotan terhadap kinerja Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah seolah tak kunjung surut. Sorotan tajam terutama mengarah pada kebijakannys.
Bagi Gubernur, derasnya kritik, harus ditanggapi dengan bijak. Sebab visi dan misinya yakni program 9 Berani terutama Berani Sehat dan Berani Cerdas adalah bukti otentik bahwa rakyat sedang menaruh harapan yang sangat besar.
Menurut Anwar Hafid program-program ini bukanlah sekadar komoditas politik di atas kertas, melainkan tumpuan hidup masyarakat. Ketika sebuah kebijakan bersentuhan langsung dengan hajat hidup orang banyak, maka wajar jika mata publik tak pernah berkedip mengawasinya.
"Sebagai pemimpin, sorotan atau kritik yang sifatnya membangun bagi saya adalah hal yang bijak. Ia justru menjadi pendorong semangat bagi saya dan Renny A Lamadjido untuk bekerja lebih keras bagi kesejahteraan rakyat di daerah yang kita cintai ini," ujar Gubernur Anwar Hafid kepada Alasannews, Jumat (10/4/2026), melalui pesan singkat WhatsApp.
Filosofi Pohon dan Buah yang Manis
Ada sebuah peribahasa tua yang selalu relevan dalam dinamika kepemimpinan: "Hanya pohon yang berbuah manis yang akan dilempari batu.". Tetapi Pohon yang kering, kerontang, dan tak menghasilkan apa pun tidak akan pernah dilirik, apalagi dilempar batu oleh pejalan kaki.
Begitu pula dalam dunia kepemimpinan. Kritik yang mengalir deras kepada seorang figur adalah indikator kuat bahwa sosok tersebut memiliki "buah" atau hasil kerja yang sedang dinantikan manfaatnya oleh rakyat. Rakyat tidak akan membuang energi untuk mengkritik pemimpin yang kinerjanya tidak berdampak atau yang kehadirannya tidak mereka harapkan.
Anwar Hafid meyakini bahwa kritik yang konstruktif adalah bentuk komunikasi rakyat yang paling jujur dan murni. "Itu adalah tanda bahwa rakyat masih peduli. Mereka masih menginginkan pemimpinnya berhasil karena program yang dijalankan memang tepat sasaran dan dibutuhkan, khususnya sebagai penolong bagi rakyat yang kurang mampu," tambahnya dengan nada optimis.
Belajar dari Kearifan Spiritual
Dalam meniti kepemimpinan politis Ketua DPD Partai Demokrat Sulteng ini sering kali mengambil inspirasi dari kearifan spiritual untuk menjaga keteguhan hatinya. Salah satunya adalah pesan legendaris dari Imam Syafi'i mengenai cara menilai kebenaran dalam sebuah perjuangan:
Imam As Syafi’i : Kalau kamu ingin mengetahui, carilah pemimpin yang banyak kritikan menuju kepadanya. Maka kamu ikutilah pemimpin yang banyak dikritik itu, karena sesunguhnya dia sedang berjuang dijalan yang BENAR.”
Dari catatan Alasannews mengapa kebenaran sering kali memanen kritik? Karena setiap langkah perubahan yang nyata pasti akan membentur dinding kemapanan (status quo). Terobosan yang berpihak pada rakyat kecil sering kali mengusik zona nyaman yang selama ini diuntungkan oleh keadaan.
Di situlah kritik lahir sebagai reaksi balik dari ketidaknyamanan tersebut. Pemimpin yang hanya ingin "zone aman" dan sekadar ingin disukai semua orang biasanya adalah pemimpin yang tidak melakukan terobosan atau perubahan berarti bagi daerahnya.
Menjaga "Sulteng Nambaso"
Bagi Anwar Hafid, komitmen mewujudkan Sulteng Nambaso melalui 9 Program Berani adalah kontrak sosial yang sakral dan harus dijaga dengan penuh tanggung jawab. Kritik berfungsi sebagai alat kendali mutu (quality control).
Kritik memastikan bahwa Berani Sehat tidak hanya terlihat megah dalam baliho kampanye, tetapi benar-benar ramah dan solutif di lorong-lorong rumah sakit. Kritik memastikan Berani Cerdas bukan sekadar soal angka statistik, melainkan jaminan masa depan bagi generasi masa depan di Sulawesi Tengah agar mampu bersaing di kancah nasional maupun global.
Tugas utama seorang Tadulako bukanlah mencari popularitas semu melalui polesan pencitraan yang manipulatif. Tugas sejati seorang pemimpin adalah menegakkan keadilan dan memastikan kemakmuran merata hingga ke pelosok desa di Sulawesi Tengah.
Pada akhirnya, tajamnya kritik adalah bukti nyata bahwa cinta rakyat itu masih ada. Rakyat yang kritis adalah rakyat yang mencintai pemimpinnya dengan cara menuntutnya untuk terus berjalan tegak di jalur yang benar.
Semoga langkah Anwar Hafid sang Tadulako tetap teguh, karena di pundaknya, jutaan rakyat Sulteng masih menantikan gebrakan penuh inovasi
***


