ALASANNEWS, (Palu) – Guru Besar Ekonomi Bisnis Internasional Universitas Tadulako (Untad) Palu, Prof. Moh. Ahlis Djirimu, Ph.D, memberikan sorotan tajam terhadap potensi kekayaan alam Sulawesi Tengah yang belum tergarap maksimal.
Ia mendesak Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah di bawah kepemimpinan Gubernur Dr. H. Anwar Hafid, M.Si, untuk segera mengambil langkah strategis dalam mengoptimalkan enam sumur minyak dan gas bumi (Migas) yang tersebar di wilayah "Bumi Tadulako".
Menurut Prof. Ahlis, langkah ini bukan sekadar opsi, melainkan kebutuhan mendesak untuk memperkuat struktur fiskal daerah. Ia memproyeksikan bahwa jika dikelola dengan manajemen yang tepat, satu sumur migas mampu menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) hingga Rp1,46 triliun.
Harta Karun di Cekungan Menui dan Salabangka
Dalam keterangannya kepada Alasannews melalui pesan singkat pada Rabu (22/4/2026), Prof. Ahlis memaparkan data teknis yang mencengangkan terkait cadangan migas di dua titik krusial: Cekungan Menui dan Cekungan Salabangka.
"Di Cekungan Menui, tercatat adanya potensi gas spekulatif sebesar 0.1 triliun cubic feet (TCF) serta cadangan minyak mentah (crude oil) mencapai 0.722 billion barel oil (BBO). Sementara itu, Cekungan Salabangka menyimpan potensi gas hipotesis yang lebih besar, yakni 1.42 TCF dengan minyak mentah sebesar 0.03 BBO." kata Ahlis Djirimu
Dikatakab angka-angka ini adalah modal raksasa bagi masa depan pembangunan Sulawesi Tengah. Kita memiliki enam sumur yang siap dikelola dan ini bisa mengubah wajah ekonomi daerah secara signifikan.
Desakan Regulasi dan Partisipasi Daerah (PI 10%)
Guna mengeksekusi potensi tersebut, Prof. Ahlis mendorong Pemprov Sulteng untuk segera merumuskan langkah konkret melalui regulasi daerah. Ia menyarankan pembentukan Peraturan Daerah (Perda) tentang Restrukturisasi dan Penyertaan Modal.
"Saya berharap Pemerintah Provinsi benar-benar serius. Nilai Rp1,46 triliun per sumur itu nantinya akan masuk ke pos Lain-lain Kekayaan Daerah yang Dipisahkan. Ini adalah suntikan dana segar yang luar biasa besar bagi fiskal kita," jelasnya.
Lebih lanjut, ia menguraikan skema Local Participating Interest (PI) 10% sebagai instrumen utama daerah mendapatkan keuntungan.
Berdasarkan kalkulasi ekonominya, potensi keuntungan bersih yang bisa diraup mencapai USD 42.525.000 (setelah dikurangi Farm in cost dan biaya operasional atau Cash Call).
Meskipun terdapat biaya Cash Call, Prof. Ahlis mengingatkan bahwa dana tersebut nantinya akan dikembalikan oleh Pemerintah Pusat melalui sistem Cost Recovery di setiap akhir tahun berjalan, sehingga beban daerah relatif terukur.
Visi Hilirisasi: Membangun 'Pohon Industri' Petrokimia
Tak hanya berhenti pada tahap ekstraksi, Prof. Ahlis juga menawarkan visi jangka panjang melalui hilirisasi industri. Ia mengusulkan agar Gubernur Anwar Hafid mendorong Pemerintah Pusat, khususnya Kementerian Perindustrian, untuk membangun tiga kawasan industri petrokimia strategis di Sulawesi Tengah:
Banggai Petrochemical Industrial Park (BPIP). Tomini Petrochemical Industrial Park (TPIP). Tolo Bay Petrochemical Industrial Park (TBPIP). Pembangunan kawasan ini diproyeksikan menjadi "pohon industri" yang mampu melahirkan hingga 400 produk turunan.
Strategi ini diyakini akan menciptakan efek domino (multiplier effect) yang masif, mulai dari pembukaan lapangan kerja skala besar hingga pertumbuhan ekonomi masyarakat lokal di sekitar kawasan.
"Hilirisasi adalah kunci agar kekayaan alam kita tidak hanya dinikmati sebagai bahan mentah. Kita ingin nilai tambahnya tinggal di Sulteng demi kesejahteraan rakyat," tegasnya menutup pembicaraan.
Kini, bola panas berada di tangan pemerintah daerah. Publik menanti sejauh mana keberanian dan kecepatan eksekusi Gubernur Anwar Hafid dalam merespons peluang emas yang dipaparkan oleh sang akademisi tersebut.***


