Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Anwar Hafid: Didepan Ratusan Wisudawan Universitas Trisakti Pendidikan Adalah Kontrak Sosial

| 17:53 WIB | 0 Views Last Updated 2026-05-05T10:53:51Z

 


  • Aulia Anwar, S.Ked., putri Gubernur Anwar Hafid salah satu wisudawati terbaik Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti raih IPK 3,5 dengan mssa belajar 3,5 tahun. Saat menerima ijazah. (Ist).

ALASANNEWS, (Jakarta) – Suasana Jakarta Convention Center (JCC) pada Selasa, 5 Mei 2026, terasa lebih dari sekadar seremoni akademik biasa. Di tengah ribuan toga yang berjajar rapi, hadir sosok Gubernur Sulawesi Tengah, Dr. H. Anwar Hafid, M.Si.


Namun, kehadirannya hari itu bukan sekadar tamu kehormatan, melainkan sebagai seorang ayah yang menyaksikan putrinya, Aulia Anwar, S.Ked., lulus sebagai salah satu wisudawati terbaik Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti raih IPK 3,5 dengan mssa belajar 3,5 tahun.


Didampingi istri tercinta, Ir. Sry Nirwanti Bahasoan, Anwar Hafid didaulat memberikan sambutan mewakili orang tua wisudawan. Di mimbar itulah, tokoh yang dikenal dengan program "Berani Cerdas" ini memberikan kuliah kehidupan yang menggetarkan: bahwa pendidikan bukanlah sekadar pencapaian pribadi, melainkan sebuah Kontrak Sosial.


Gelar Bukan Tinta, Tapi Amanah


Bagi Anwar Hafid, ijazah yang diterima para wisudawan tidak boleh berhenti menjadi pajangan di dinding rumah. Ia menegaskan bahwa gelar akademik adalah sebuah perjanjian tak tertulis antara pemilik ilmu dengan kemanusiaan.


"Untuk para wisudawan dan wisudawati, gelar yang kalian dapat bukan sekadar tinta di atas ijazah. Gelar itu adalah kontrak sosial antara kalian dengan kemanusiaan," tegas Anwar dengan nada yang mantap.



Pernyataan ini mencerminkan filosofi kepemimpinan Anwar selama ini. Baginya, intelektualitas tanpa pengabdian adalah kesia-siaan. Pendidikan harus menjadi alat pembebasan, bukan alat untuk menciptakan jarak sosial antara kaum terpelajar dan rakyat jelata.


Melampaui Kebanggaan Simbolik


Sebagai mantan Bupati Morowali dua periode yang sukses membangun daerah melalui sektor pendidikan, Anwar mengingatkan agar alumni Universitas Trisakti tidak terjebak dalam euforia nama besar almamater. Menurutnya, reputasi kampus ternama hanyalah pintu masuk, sementara pembuktian sesungguhnya ada pada kemaslahatan yang dihasilkan.


“Jangan pernah bangga kalian lulus dari universitas ternama ini. Berbanggalah jika kalian menjadi alasan seseorang kembali bahagia, kembali sembuh, atau sebuah kebijakan menjadi lebih adil karena buah pikiran kalian,” pesannya.


Kalimat ini menjadi pengingat tajam, terutama bagi lulusan kedokteran dan disiplin ilmu lainnya, bahwa indikator keberhasilan seorang sarjana bukan terletak pada seberapa cepat mereka lulus, melainkan seberapa besar dampak yang mereka ciptakan bagi mereka yang terpinggirkan.


Mewarisi Spirit Reformasi


Memilih Universitas Trisakti sebagai tempat menempa ilmu bagi putrinya tentu bukan tanpa alasan. Anwar mengakui sejarah besar Trisakti sebagai episentrum gerakan reformasi di Indonesia. Ia memandang para wisudawan sebagai "baja yang ditempa zaman" di tanah para pahlawan reformasi.


Ia melihat masa depan Indonesia sedang mekar di hadapannya. Semangat perubahan yang pernah menggetarkan bangsa dari kampus ini diharapkan terus mengalir dalam nadi para alumni. Pendidikan, di mata Anwar, adalah instrumen utama perubahan peradaban.


Konsistensi Sang "Gubernur Pendidikan"


Kehadiran dan pesan Anwar Hafid di JCC semakin mempertegas karakternya sebagai pemimpin yang visioner. Di Sulawesi Tengah, komitmen ini diwujudkan melalui program Berani Cerdas, sebuah inisiatif yang memastikan anak-anak daerah memiliki akses seluas-luasnya menuju pendidikan tinggi. 


Bagi Anwar, melihat putrinya sukses meraih gelar sarjana kedokteran dalam waktu singkat (3,5 tahun) dengan predikat luar biasa adalah kebahagiaan personal. 


Namun, sebagai pemimpin, ia memiliki ambisi yang lebih besar: melihat seluruh anak muda di Sulawesi Tengah dan Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk menunaikan "kontrak sosial" mereka kepada bangsa.


Pesan Anwar Hafid di JCC hari itu menjadi pengingat bagi kita semua: bahwa pendidikan adalah tentang memanusiakan manusia. Dunia mungkin tidak bertanya berapa lama kita duduk di bangku kuliah, namun dunia akan selalu menagih apa yang telah kita berikan untuk kehidupan.***

×
Berita Terbaru Update