Oleh: Elkana Lengkong/Redaktur Eksekutif
ALASANNEWS, (Palu) – Kepemimpinan bukan sekadar duduk di kursi empuk kekuasaan, melainkan tentang keberanian merasakan denyut nadi rakyat yang paling dalam. Filosofi inilah yang menjadi napas perjuangan Dr. Anwar Hafid, M.Si. Sebagai figur yang sering dijuluki The Visioner Leader.
Perjalanan panjang Anwar dari panggung pengabdian sebagai Bupati Morowali dua periode hingga kini menakhodai Sulawesi Tengah sebagai Gubernur, telah membawa warna baru dalam peta pembangunan daerah.
Bagi Anwar, kehadiran pemerintah harus menjadi jawaban nyata atas jeritan kemiskinan yang masih membelenggu sebagian warga.
"Kita sering mendengungkan rakyat sejahtera, tapi di lapangan kemiskinan masih terasa. Pemimpin harus hadir di sana, di tengah mereka," ungkapnya
Kesetiaan pada Pasangan dan Keteguhan Visi
Meski kontestasi Pilkada Gubernur Sulteng tahun 2030 secara kalender politik masih terbilang jauh, riak-riak figur mulai bermunculan. Nama-nama besar seperti Hadiyanto Rasyid (Wali Kota Palu), H. Ahmad Ali, hingga Rizal Intjenae (Bupati Sigi) mulai menghiasi perbincangan publik.
Ilustrasi
Namun, Anwar Hafid mengambil langkah eksklusif dan tegas komitmennya untuk tetap menggandeng dr. Renny A. Lamadjido, Sp.PK, M.Kes sebagai pendampingnya. Duet Anwar-Renny simbol keselarasan visi dalam menjalankan instrumen "9 Program Berani".
"Insya Allah, saya akan tetap bersama dr. Renny Lamadjido di Pilkada 2030. Fokus kami saat ini adalah bekerja, agar rakyat bisa merasakan manfaat nyata dari program '9 Berani' untuk hidup yang lebih sejahtera," tegas Anwar kepada Alasannews belum lama ini
Strategi di Tengah Pemangkasan Anggaran
Tantangan terbesar kepemimpinan Anwar-Renny saat ini bukanlah lawan politik, melainkan realitas fiskal yang mencekik. Dalam Forum Ekonomi Keuangan di Sriti Convention Hall Palu, Kamis (7/5/2026), terungkap fakta pahit: Sulawesi Tengah harus kehilangan potensi anggaran sebesar Rp1,7 triliun dalam dua tahun terakhir akibat pemangkasan transfer daerah dari pusat.
Namun, di sinilah kecerdasan strategis Anwar diuji. Alih-alih menyerah pada keadaan, ia justru memacu performa makro daerah. Data BPS 2025 menunjukkan hasil yang impresif: Indeks Pembangunan Manusia (IPM) naik ke angka 72,80, pertumbuhan ekonomi tetap menjadi salah satu yang tertinggi di Sulawesi, dan yang paling krusial, sebanyak 35 ribu warga berhasil keluar dari garis kemiskinan.
Kebangkitan Timur dan Keajaiban Sulawesi Tengah
Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis laporan yang membawa angin segar bagi optimisme nasional.
Ekonomi Indonesia pada Triwulan I-2026 tercatat tumbuh impresif sebesar 5,61 persen (yoy). Di balik angka nasional tersebut, Sulawesi Tengah di bawah kepemimpinan Anwar-Renny berhasil mengukuhkan diri di peringkat ketiga nasional dengan pertumbuhan sebesar 8,32 persen.
Meski baru setahun menakhodai "Negeri Seribu Megalit", pasangan ini sukses mengonversi kekayaan sumber daya alam menjadi kekuatan ekonomi riil. Sulawesi Tengah kini mempertegas dominasi wilayah Timur Indonesia dalam peta pertumbuhan berbasis industri manufaktur dan hilirisasi, bersaing ketat dengan Maluku Utara dan NTB.
Ekspansi ke Tiongkok: Memburu Teknologi, Bukan Sekadar Investasi
Menyadari keterbatasan APBN, Anwar Hafid melakukan langkah "jemput bola" ke Negeri Tirai Bambu pada Mei-Juni 2026. Kerja sama Sister Province dengan Provinsi Hainan dan Sichuan bukan sekadar kunjungan seremonial. Anwar membidik industrialisasi sektor pertanian dan perikanan dengan teknologi ramah lingkungan.
"Di China, BUMD bidang pangan dan perikana dan kelautan sangat maju. Kita akan manfaatkan teknologi mereka untuk memacu ekonomi Sulteng tanpa merusak alam," ujar Anwar.
Langkah ini mendapat legitimasi intelektual dari Prof. Dr. Muhd Nur Sangadji, DEA, Guru Besar Ekologi dan Lingkungan Universitas Tadulako.
Menurutnya, China adalah cermin bagi Indonesia untuk berhenti memproduksi alasan. "Mereka telah mengawinkan tradisi dengan teknologi—mulai dari AI di sawah hingga mengubah gurun menjadi lumbung pangan," urai Prof. Sangadji.
Filosofi Perlindungan: Memuliakan Petani dan Nelayan
Satu hal yang menjadi sorotan dalam analisis Prof. Sangadji adalah sistem perlindungan petani di China yang menanggung risiko gagal panen hingga 80%. Hal ini sejalan dengan apa yang jadi harapan Gubernur Anwar Hafid melalui program "9 Berani". Anwar ingin memastikan petani Sulawesi Tengah tidak lagi berjuang sendirian melawan jeratan tengkulak atau mahalnya pupuk.
Adopsi teknologi dari Tiongkok nantinya akan disaring melalui lima filter ketat: Economically Profitable (Menguntungkan dompet petani).
Technically Possible (Bisa diterapkan secara geografis). Socially Acceptable (Diterima masyarakat). Ecologically Sustainable (Ramah lingkungan). Supported by Local Resources (Didukung sumber daya lokal).
Revolusi Hijau dari Sulteng
Sinergi antara visi politik Anwar-Renny dan kerangka berpikir akademis dari para pakar diharapkan mampu menciptakan revolusi hijau baru di Sulawesi Tengah. Perjalanan ke Tiongkok menjadi titik balik di mana potensi besar SDA Sulteng benar-benar dikelola dengan teknologi tinggi untuk kemakmuran rakyat bawah.
Sebuah kepemimpinan yang mengakar, sebuah visi yang berani, dan sebuah komitmen yang tak tergoyahkan untuk memastikan bahwa masyarakatnya menikmat kesejahteraan yang sesungguhnya di bumi Tadulako tercinta ini. Semoga.***



