- Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, saat menerima audiensi PT Indonesia China Economic Cooperation Chamber (ICECC) yang dipimpin Zhang Zhixiang, Senin (24/11/2025) di kediamannya. (Ist).
ALASANNEWS, Palu – Sebuah visi besar sedang dirajut dari ruang kerja Gubernur Sulawesi Tengah. Anwar Hafid, sang nakhoda Negeri Seribu Megalit, tengah mempersiapkan langkah diplomasi ekonomi yang diprediksi akan mengubah peta kekuatan ekonomi kawasan Timur Indonesia.
Melalui inisiasi kerja sama Sister Province dengan dua raksasa Tiongkok—Hainan dan Sichuan—Sulawesi Tengah (Sulteng) bersiap melakukan lompatan kuantum menjadi pusat agromaritim dan destinasi wisata kelas dunia.
Langkah strategis ini dijadwalkan akan dikukuhkan melalui lawatan resmi pada Mei dan Juni 2026. Bukan sekadar kunjungan seremonial, misi ini membawa agenda besar: mentransfer teknologi, menarik investasi masif, dan membuka keran ekspor komoditas unggulan langsung ke jantung perekonomian Asia.
Mencontoh Hainan: Sang Raja Akuakultur Modern
Pemilihan Hainan sebagai mitra bukan tanpa alasan. Provinsi pulau paling selatan di Tiongkok ini dikenal sebagai "Hawaii-nya China" karena keindahan pantai tropis dan iklimnya yang hangat sepanjang tahun. Namun, di balik pesona pariwisatanya, Hainan adalah pemimpin global dalam industri Marine Aquaculture (budidaya laut) modern.
Hainan telah membuktikan diri mampu menjinakkan laut dalam melalui teknologi karamba raksasa dan manajemen pelabuhan perdagangan bebas internasional yang masif. Bagi Sulteng, Hainan adalah cermin masa depan.
Pakar Akuakultur Indonesia asal Sulteng, Dr. Hasanuddin Atjo MP, menilai langkah Anwar Hafid sangat visioner. "Karakter perairan dan iklim kita serupa dengan mereka. Jika kerja sama ini terealisasi, investasi karamba ikan raksasa di Teluk Tomini dan Tolo akan sangat masif," ujar Dr. Atjo kepada Alasannews melalui pesan WhatsApp, Selasa (5/5/2026).
Sichuan: Inspirasi Lumbung Pangan dan Agrowisata
Jika Hainan adalah kiblat maritim, maka Sichuan adalah kompas bagi pengembangan daratan Sulteng. Sebagai lumbung pangan nasional Tiongkok, Sichuan unggul dalam pengelolaan hortikultura dan peternakan.
Dari jeruk hingga apel, dari manajemen pergudangan canggih hingga teknologi freeze-drying (pengeringan beku), Sichuan memiliki ekosistem pertanian yang utuh. Sulteng ingin mereplikasi keberhasilan Sichuan dalam mengintegrasikan pertanian dengan pariwisata (agro-tourism).
Di Sichuan, desa-desa bukan lagi sekadar tempat bercocok tanam, melainkan destinasi wisata yang menghasilkan pendapatan triliunan yuan. Inovasi seperti pengolahan tanaman herbal di wilayah Daofu menjadi bukti nyata bagaimana ekonomi perdesaan bisa digaspol melalui sentuhan teknologi dan kreativitas.
Momentum Emas 2026: Bandara Internasional dan Ekspor Durian
Rencana besar ini hadir di saat yang sangat tepat. Tahun 2026 menjadi tahun bersejarah bagi Sulteng seiring dengan kenaikan status Bandara Mutiara Sis Al-Jufri menjadi Bandara Internasional. Infrastruktur ini akan menjadi "jembatan udara" yang menghubungkan langsung investor dan turis dari Haikou (Hainan) maupun Chengdu (Sichuan) ke Bumi Tadulako.
Selain itu, sektor hortikultura Sulteng, khususnya durian, telah memiliki fondasi kuat dengan dimulainya ekspor ke China sejak 2025. Kehadiran teknologi dari Sichuan diharapkan mampu mendongkrak standar produksi petani lokal agar bisa bersaing di level global.
Dr. Atjo menekankan bahwa Sulteng memiliki modal geografis yang luar biasa dengan empat kawasan pengembangan terintegrasi: Selat Makassar, Laut Sulawesi, Teluk Tomini, dan Teluk Tolo. "Ini adalah kekayaan yang menunggu sentuhan investasi internasional," tambahnya.
Tantangan: Dari Roadmap hingga Peran BUMD
Meski prospeknya cerah, Dr. Atjo memberikan catatan kritis agar mimpi besar ini tidak menguap begitu saja. Di tengah tren pemangkasan dana transfer dari pemerintah pusat, Sulteng harus mandiri. Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dituntut untuk tidak lagi sekadar menjadi penonton, melainkan pemain utama dalam skema kerja sama internasional ini guna mendulang Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Lebih lanjut, ia mendesak agar Pemerintah Provinsi segera menyusun Roadmap (peta jalan) yang konkret dan transparan.
"Rencana Sister Province ini harus mendapat legitimasi dari DPRD Provinsi. Ini penting agar kebijakan ini memiliki dasar hukum yang kuat, keberlanjutannya terjaga meski kepemimpinan berganti, dan benar-benar memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat Sulawesi Tengah," tegas Dr. Atjo.
Menuju Masa Depan
Upaya Gubernur Anwar Hafid menggandeng Hainan dan Sichuan adalah pesan jelas kepada dunia: Sulawesi Tengah tidak lagi ingin hanya menjadi daerah pendukung. Dengan posisi geografis strategis dan kekayaan alam melimpah, Sulteng sedang bersiap memoles dirinya menjadi permata agromaritim di khatulistiwa.
Jika roadmap dijalankan dengan disiplin dan investasi mulai mengalir, bukan mustahil dalam beberapa tahun ke depan, dunia akan mengenal Sulawesi Tengah sebagai pusat inovasi pangan dan wisata bahari yang bersanding sejajar dengan Hainan di kancah global. (Elkana Lengkong***


