TOLITOLI, ALASANnews.com.– Upaya memperkuat kapasitas sumber daya manusia dalam penanganan kedaruratan terus dilakukan. Salah satunya melalui keikutsertaan personel Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tolitoli dalam Pelatihan Medical First Responder (MFR) yang diselenggarakan oleh BASARNAS.
Pelatihan ini merupakan bagian dari program peningkatan kompetensi bagi instansi mitra agar memiliki standar penanganan korban yang sama saat menghadapi operasi pencarian dan pertolongan (SAR), terutama pada kondisi bencana alam maupun kecelakaan.
Kolaborasi BASARNAS dan BPBD dinilai menjadi faktor penting di lapangan. Dalam setiap operasi SAR, BPBD berperan membuka akses menuju lokasi terdampak, melakukan asesmen awal, serta memberikan pertolongan pertama kepada korban sebelum dievakuasi atau diserahkan kepada tim medis lanjutan.
Melalui pelatihan tersebut, peserta dibekali kemampuan Bantuan Hidup Dasar (Basic Life Support/BLS), termasuk teknik resusitasi jantung paru (CPR) dan penggunaan Automated External Defibrillator (AED) apabila tersedia. Selain itu, peserta juga mempelajari penanganan trauma seperti pendarahan, patah tulang, luka bakar, hingga cedera kepala dan leher.
Materi lain yang menjadi fokus adalah triase korban massal, yaitu kemampuan mengklasifikasikan korban berdasarkan tingkat kegawatan pada situasi bencana berskala besar. Kompetensi ini menjadi bagian penting dalam mempercepat proses penyelamatan dan menentukan prioritas penanganan korban.
Standarisasi prosedur operasi menjadi tujuan utama pelatihan. Dengan menggunakan metode dan bahasa operasional yang sama, koordinasi antara BASARNAS, BPBD, tenaga kesehatan, serta unsur penolong lainnya di lapangan diharapkan semakin efektif.
Usai mengikuti pelatihan, personel BPBD diharapkan mampu menjalankan peran sebagai first responder di tingkat desa maupun kelurahan. Mereka dapat memberikan pertolongan awal, membantu operasi SAR pada bencana banjir, gempa bumi, maupun tanah longsor, serta menyampaikan data kondisi lapangan secara cepat dan akurat sebagai dasar BASARNAS dalam menentukan strategi pengerahan personel dan peralatan.
Melalui peningkatan kapasitas ini, sinergi antarinstansi diharapkan semakin kuat sehingga penanganan kedaruratan dapat dilakukan lebih cepat, tepat, dan profesional demi meminimalkan risiko korban saat bencana terjadi.***


