Oleh: Elkana Lengkong
Redaktur Eksekutif
ALASANNEWS, TOLITOLI — Angin laut berembus pelan menyusuri pesisir Tolitoli. Dari kejauhan, ombak memecah pantai dengan irama yang nyaris sama seperti puluhan tahun silam. Namun ada sesuatu yang hilang dari lanskap alam di kabupaten yang terletak di ujung utara Sulawesi Tengah itu. Hening kini lebih sering terdengar dibandingkan riuhnya suara kehidupan liar.
Bagi mereka yang tumbuh pada dekade 1960-an, Tolitoli bukan hanya dikenal sebagai daerah penghasil cengkeh. Daerah ini adalah bentang alam hijau yang nyaris tak terputus, di mana hutan tropis membentang dari lereng pegunungan hingga mendekati bibir pantai. Pepohonan raksasa berdiri kokoh, sungai-sungai mengalir jernih, dan satwa endemik Sulawesi hidup dalam keseimbangan yang telah berlangsung selama ribuan tahun.
Di antara pepohonan besar itu, masyarakat mengenal satu pohon yang begitu akrab dengan kehidupan mereka, yakni rao (Dracontomelon dao). Pohon ini menjulang setinggi lebih dari 40 meter dengan batang besar yang membutuhkan beberapa orang dewasa untuk memeluknya. Ketika musim berbuah tiba, ratusan buah berwarna hijau kekuningan bergelantungan di pucuk-pucuknya.
Buah rao memiliki rasa asam segar. Sebagian masyarakat memanfaatkannya sebagai bahan pangan tradisional, sementara bagi satwa liar, buah tersebut merupakan sumber makanan yang sangat penting.
Salah satu penikmat setia buah rao adalah burung alo, atau Julang Sulawesi (Rhyticeros cassidix), salah satu jenis rangkong endemik Pulau Sulawesi yang memiliki paruh besar berwarna kuning dengan balung merah menyala di bagian atasnya. Burung berukuran besar itu terbang melintasi tajuk hutan dengan kepakan sayap yang keras, menghasilkan suara khas yang dapat terdengar dari kejauhan.
Pada masa itu, keberadaan pohon rao hampir selalu menjadi penanda kehadiran kawanan burung alo.
Ketika pohon mulai berbuah, langit hutan dipenuhi aktivitas burung-burung tersebut. Mereka datang berkelompok, memakan buah, kemudian terbang menuju bagian hutan lainnya sambil membawa biji-biji rao di dalam saluran pencernaannya.
Tanpa disadari manusia, burung alo menjalankan tugas penting sebagai penyebar benih alami. Biji-biji yang dikeluarkan bersama kotorannya tumbuh menjadi pohon-pohon baru, menjaga regenerasi hutan berlangsung secara alami.
Sebaliknya, pohon-pohon rao tua menyediakan batang besar yang memiliki lubang alami sebagai tempat bersarang burung alo. Di sanalah burung betina bertelur dan membesarkan anaknya dengan aman dari gangguan predator.
Hubungan keduanya menjadi salah satu contoh paling indah tentang bagaimana alam bekerja tanpa campur tangan manusia.
"Dulu, suara kepakan sayap burung alo yang berat dan lengkingannya menjadi penanda waktu bagi warga yang beraktivitas di kebun maupun di pinggir hutan. Di mana ada pohon rao berbuah, di situlah langit dipenuhi burung alo," kenang sejumlah warga lanjut usia Tolitoli.
Namun kisah itu kini perlahan berubah menjadi nostalgia.
Memasuki dekade 1970-an hingga 1990-an, pembukaan lahan perkebunan cengkeh, kakao, kelapa, dan berbagai komoditas lainnya berlangsung besar-besaran. Hutan primer yang selama ribuan tahun menjadi rumah berbagai satwa mulai menyusut.Pohon-pohon raksasa ditebang.Habitat burung alo terfragmentasi.
Koridor hutan yang sebelumnya saling terhubung berubah menjadi hamparan kebun dan permukiman.
Ketika pohon-pohon besar menghilang, burung alo kehilangan tempat bersarang. Ketika pohon rao semakin jarang ditemukan, sumber pakan pun ikut berkurang.
Perlahan tetapi pasti, populasi burung itu ikut menurun.
Kini, tidak mudah lagi menemukan pohon rao berukuran raksasa di sekitar Tolitoli. Burung alo pun semakin jarang terlihat di kawasan yang dahulu menjadi habitat alaminya.
Padahal, Julang Sulawesi merupakan satwa endemik yang hanya hidup di Sulawesi dan pulau-pulau sekitarnya. Keberadaannya memiliki arti penting bagi keseimbangan ekosistem hutan tropis.
Para ahli menyebut rangkong sebagai "petani hutan" karena kemampuannya menyebarkan biji berbagai jenis pohon hingga puluhan kilometer. Tanpa burung-burung ini, regenerasi banyak jenis pohon hutan akan berlangsung jauh lebih lambat.
Hilangnya hubungan antara pohon rao dan burung alo bukan sekadar hilangnya satu spesies tumbuhan atau satwa. Yang lenyap adalah mata rantai kehidupan yang selama ribuan tahun menjaga hutan tetap lestari.
Dampaknya kini mulai dirasakan manusia.
Ketika tutupan hutan berkurang, kemampuan tanah menyerap air hujan ikut menurun. Air yang dahulu meresap perlahan ke dalam tanah kini mengalir deras menuju sungai dan kawasan permukiman.
Di musim penghujan, banjir dan longsor lebih mudah terjadi.
Sebaliknya, saat musim kemarau datang, cadangan air tanah semakin menipis.
Perubahan itu menunjukkan bahwa kerusakan ekosistem bukan hanya persoalan satwa liar, melainkan menyangkut keselamatan manusia sendiri.
Ironisnya, pembangunan ekonomi yang dahulu dianggap sebagai simbol kemajuan justru meninggalkan persoalan lingkungan yang harus ditanggung oleh generasi sekarang.
Padahal, kekayaan hayati Tolitoli sesungguhnya merupakan modal pembangunan yang tidak ternilai.
Hutan yang sehat menjaga sumber air, menyimpan karbon, melindungi tanah dari erosi, sekaligus menjadi rumah bagi ratusan spesies flora dan fauna endemik Sulawesi.
Di berbagai negara, pelestarian hutan bahkan telah menjadi sumber ekonomi baru melalui ekowisata, penelitian ilmiah, hingga perdagangan karbon.
Tolitoli memiliki peluang yang sama apabila sisa-sisa hutannya mampu dijaga dan dipulihkan.
Penanaman kembali pohon-pohon asli seperti rao, nyatoh, damar, beringin, dan berbagai jenis pohon hutan lainnya dapat menjadi langkah awal mengembalikan keseimbangan alam.
Perlindungan habitat Julang Sulawesi juga harus menjadi bagian dari kebijakan konservasi daerah, bukan hanya untuk menyelamatkan satwa langka, tetapi juga memastikan proses regenerasi hutan tetap berlangsung secara alami.
Sebab, ketika pohon rao kembali tumbuh menjulang, bukan tidak mungkin burung alo akan kembali mengitari langit Tolitoli.
Suara kepakan sayapnya mungkin kembali terdengar di antara rimbunnya tajuk hutan, menjadi pertanda bahwa alam sedang memulihkan dirinya.
Hutan yang lestari bukanlah warisan dari nenek moyang semata, melainkan titipan bagi anak cucu.
Dan Tolitoli, yang dahulu dikenal sebagai simfoni hijau di pesisir utara Sulawesi, masih memiliki kesempatan untuk menuliskan babak baru: bukan sebagai daerah yang kehilangan hutannya, tetapi sebagai daerah yang berhasil menghidupkan kembali harmoni antara manusia dan alam.


