Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Dirjen Bimas Kristen Kemenag Dorong Transformasi Nyata di Wisuda ke-XVI STTAI Surabaya

| 14:18 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-08T07:18:34Z

 



ALASANNEWS, SURABAYA – Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat (Bimas) Kristen Kementerian Agama (Kemenag), Dr. Jeane Marie Tulung, S.Th., M.Pd., menegaskan perguruan tinggi keagamaan Kristen tidak boleh lagi menjalankan pola kerja konvensional di tengah tuntutan transformasi digital dan meningkatnya ekspektasi publik.


Menurutnya, wisuda bukan sekadar seremoni penyerahan ijazah, tetapi momentum untuk mengukur sekaligus membuktikan kualitas dan kredibilitas sebuah perguruan tinggi.


Pesan tersebut disampaikan Jeane Marie Tulung saat menghadiri Rapat Terbuka Senat Wisuda ke-XVI Sekolah Tinggi Teologi Anugrah Indonesia (STTAI) Surabaya di Grand Ballroom Novotel Samator, Rungkut, Surabaya, Kamis (6/8/2026).


Pada wisuda tahun ini, STTAI Surabaya meluluskan 187 wisudawan dari berbagai jenjang pendidikan, yakni Sarjana (S1) Teologi, S1 Pendidikan Agama Kristen (PAK), Magister (S2) Teologi, S2 PAK, serta Doktor (S3).


Mutu Lulusan Menjadi Kesaksian Perguruan Tinggi


Dalam orasinya di hadapan civitas akademika STTAI Surabaya, Jeane menegaskan bahwa momentum wisuda semestinya menjadi ruang evaluasi terhadap seluruh proses pendidikan yang telah dijalankan perguruan tinggi.


Ia mengatakan, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari banyaknya mahasiswa yang menyelesaikan studi dan menerima ijazah. Lebih dari itu, perguruan tinggi harus mampu menghasilkan lulusan yang memiliki pengetahuan, keterampilan, integritas, kematangan spiritual, serta mampu menjawab kebutuhan gereja, masyarakat, bangsa, dan negara.


“Ijazah adalah tanda kelulusan, tetapi mutu lulusan yang menjadi kesaksian sesungguhnya tentang mutu sebuah perguruan tinggi,” ujar Jeane.


Menurutnya, tantangan perguruan tinggi semakin kompleks seiring perkembangan teknologi digital dan perubahan kebutuhan dunia kerja.


Karena itu, transparansi dan akuntabilitas menjadi bagian penting dalam membangun serta mempertahankan kepercayaan publik.


Jeane mendorong perguruan tinggi keagamaan Kristen memanfaatkan teknologi secara optimal untuk mendukung proses akademik dan tata kelola kelembagaan. Namun, teknologi tidak boleh menggantikan tanggung jawab akademik, relasi kemanusiaan, maupun proses pembentukan karakter mahasiswa.


Transformasi Harus Menyentuh Tata Kelola dan Mutu Akademik


Sejalan dengan arah kebijakan Kementerian Agama, Ditjen Bimas Kristen terus mendorong perguruan tinggi keagamaan Kristen melakukan transformasi secara nyata dan berkelanjutan.


Transformasi tersebut mencakup penguatan tata kelola yang sehat dan akuntabel, penerapan sistem penjaminan mutu internal secara konsisten, peningkatan akreditasi, pengembangan kompetensi dosen, penertiban serta validasi data, hingga peningkatan kualitas pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi.


Jeane juga mengingatkan agar pendidikan teologi tidak terjebak pada ruang akademik yang terpisah dari realitas kehidupan masyarakat.


Menurutnya, ilmu pengetahuan yang diperoleh mahasiswa harus mampu menjawab berbagai persoalan nyata yang dihadapi bangsa.


Mulai dari kemiskinan, kekerasan, kerusakan lingkungan, krisis integritas, hingga persoalan intoleransi harus menjadi bagian dari perhatian pendidikan teologi.


“Lulusan tidak hanya dituntut memiliki kompetensi akademik, tetapi juga karakter Kristiani yang kuat, wawasan kebangsaan, serta kepedulian terhadap kelompok masyarakat yang lemah,” pesannya.


Akreditasi Jangan Hanya Menjadi Target Administratif


Dalam kesempatan tersebut, Jeane menekankan bahwa akreditasi harus ditempatkan sebagai bagian dari budaya mutu perguruan tinggi, bukan sekadar persiapan administratif menjelang asesmen.


Menurutnya, akreditasi merupakan bentuk pertanggungjawaban lembaga pendidikan kepada publik sekaligus salah satu instrumen untuk memastikan proses pendidikan berjalan sesuai standar yang ditetapkan.


Akreditasi yang baik, kata dia, juga berhubungan erat dengan tingkat kepercayaan masyarakat, orang tua mahasiswa, gereja, maupun dunia kerja terhadap kredibilitas sebuah perguruan tinggi.


Jeane mengapresiasi capaian akreditasi yang telah diraih STTAI Surabaya. Namun, capaian tersebut diminta tidak berhenti sebagai predikat, melainkan menjadi pijakan untuk meningkatkan kualitas kelembagaan secara berkelanjutan.


Program studi yang telah memperoleh predikat “Baik Sekali” didorong menyusun langkah terukur untuk mencapai predikat “Unggul”. Sementara program studi yang masih berstatus “Baik” diminta segera mengidentifikasi dan memperbaiki berbagai kesenjangan mutu.


“Jangan menunggu masa reakreditasi baru bekerja. Mutu harus menjadi kebiasaan sehari-hari yang hidup dalam perkuliahan, penelitian, layanan administrasi, pengambilan keputusan pimpinan, hingga pendampingan mahasiswa,” tegasnya.


Wisuda sebagai Awal Pengabdian


Lebih jauh, Jeane mengingatkan para wisudawan bahwa wisuda bukanlah akhir dari perjalanan akademik. Sebaliknya, momentum tersebut merupakan awal dari tanggung jawab yang lebih besar di tengah masyarakat.


Lulusan STTAI diharapkan mampu membawa pengetahuan, kompetensi, iman, dan karakter yang diperoleh selama menempuh pendidikan untuk memberikan kontribusi nyata bagi gereja dan masyarakat.


Perguruan tinggi keagamaan Kristen, lanjutnya, memiliki tanggung jawab strategis dalam membentuk sumber daya manusia yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas moral, spiritualitas, kepedulian sosial, serta komitmen kebangsaan.


Dengan demikian, transformasi perguruan tinggi tidak berhenti pada digitalisasi layanan maupun peningkatan administrasi. Transformasi harus bermuara pada peningkatan mutu lulusan dan semakin kuatnya kepercayaan publik.


Wisuda ke-XVI STTAI Surabaya pun menjadi momentum untuk meneguhkan komitmen tersebut: bahwa kualitas pendidikan, karakter Kristiani, tata kelola yang akuntabel, dan pengabdian kepada masyarakat harus berjalan beriringan dalam menjawab tantangan zaman.

×
Berita Terbaru Update