Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Progres Capai 97,95 Persen, Kualitas Revetment Proyek Banjir Vatutela–Paneki Disorot karena Rongga Batu

| 18:08 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-05T11:08:44Z

 



ALASANNEWS, PALU – Proyek Pembangunan Pengendali Banjir Sungai Vatutela di Kota Palu dan Sungai Paneki di Kabupaten Sigi kembali menjadi sorotan. Meski progres fisik telah mencapai 97,95 persen per 3 Agustus 2026, masih terlihat rongga (void) pada sejumlah pasangan revetment batu boulder.


Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai mutu pekerjaan dan kesesuaiannya dengan spesifikasi teknis kontrak, terutama menyangkut ketahanan konstruksi menghadapi debit air tinggi dan banjir besar.


Proyek yang dikerjakan PT Datu Karsa Trimulti ini merupakan bagian dari program pengendalian banjir di wilayah Sungai Vatutela dan Paneki, di bawah Kementerian Pekerjaan Umum melalui Balai Wilayah Sungai Sulawesi III Palu.


Kepala BWSS III Sulteng Medya Ramdhan, ST menyatakan progres per 29 Juli 2026 sebesar 93,98 persen, sedangkan target sesuai time schedule 96,70 persen sehingga terdapat deviasi negatif 2,72 persen.


Untuk realisasi keuangan per 29 Juli 2026, tercatat Rp7,63 miliar atau sekitar 69,72 persen dari nilai addendum kontrak Rp10,947 miliar.


Void Akan Diperiksa Kembali


Kepala Satuan Kerja (Kasatker) SNVT Pelaksanaan Jaringan Sumber Air BWSS III Palu, Hariadi Mantong, mengatakan progres pekerjaan per 3 Agustus 2026 telah mencapai 97,95 persen.


Terkait adanya rongga pada pasangan batu boulder, Hariadi mengatakan pihaknya akan melakukan pemeriksaan kembali.


“Void-nya memang akan dicek lagi,” kata Hariadi.


Menurut penjelasan BWSS III, keberadaan rongga pada pasangan batu harus dilihat berdasarkan tahapan pekerjaan. Pada pemasangan revetment, batu utama terlebih dahulu disusun dan dikunci, kemudian rongga diisi dengan batu pengunci (choking stone) dan dilakukan perapihan akhir.


Rongga yang berlebihan pada hasil akhir, susunan batu yang tidak saling mengunci, maupun material yang tidak sesuai spesifikasi tidak dapat diterima.


Konsultan supervisi juga telah memberikan instruksi agar penyedia jasa menata kembali batu yang belum stabil, menambahkan batu pengunci, serta memastikan ketebalan, elevasi, kemiringan dan geometri sesuai gambar kerja.


Pekerjaan yang belum memenuhi spesifikasi wajib diperbaiki atau dibongkar dan dikerjakan kembali sebelum dapat dinyatakan memenuhi syarat dan dibayarkan.


Material dari Quarry Loli


BWSS III menyebut material batu boulder berasal dari Quarry Loli, Desa Loli, Kecamatan Banawa, Kabupaten Donggala, dengan pemasok PT Bosowa Tambang Indonesia.


Material tersebut, menurut BWSS III, telah dilengkapi dokumen legalitas pertambangan dan persetujuan RKAB Tahun 2026.


Selain legalitas sumber, batu boulder juga wajib memenuhi persyaratan teknis, antara lain ukuran, gradasi, kekerasan, ketahanan, kebersihan dan kesesuaian dengan spesifikasi pekerjaan.


Pengujian dilakukan melalui UPT Laboratorium dan Pengujian Bahan Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang Provinsi Sulawesi Tengah.


“Apabila ditemukan material yang tidak memenuhi spesifikasi maupun kelengkapan administrasi, material tersebut tidak diperkenankan digunakan dalam pekerjaan,” tegas Medya.


Volume Revetment


Berdasarkan kontrak, volume rencana pekerjaan batu boulder mencapai 4.512 meter kubik. Hingga 29 Juli 2026, sekitar 2.580 meter kubik telah terpasang dan diperiksa dengan panjang revetment sekitar 326 meter.


BWSS III menegaskan pembayaran tidak didasarkan pada jumlah material yang masuk ke lokasi, melainkan volume pekerjaan yang telah terpasang, diperiksa dan dinyatakan memenuhi spesifikasi kontrak.


Konsultan perencana proyek adalah Yachiyo Engineering Co., Ltd, sedangkan konsultan supervisi PT Total Prakasa Utama.


Sebagai bagian dari prinsip keberimbangan, ALASANNEWS telah meminta konfirmasi kepada Direktur PT Datu Karsa Trimulti, Fidelia Alto Lino Allo, melalui Theo Kristian Seleng pada Rabu ,(6/8/2026) namun tak ada j


Pertanyaan yang disampaikan mencakup keberadaan void, sumber dan legalitas batu boulder, serta kesesuaian pekerjaan dengan kontrak dan spesifikasi teknis.


Hingga berita ini diterbitkan, tanggapan pihak kontraktor belum diperoleh.


Proyek yang nilainya mencapai belasan miliar rupiah ini diharapkan tidak hanya selesai secara administratif, tetapi juga menghasilkan konstruksi yang kuat dan berfungsi optimal dalam menghadapi ancaman banjir serta erosi tebing Sungai Vatutela dan Sungai Paneki.


Publik kini menunggu hasil pemeriksaan akhir terhadap pasangan revetment, khususnya memastikan rongga yang ditemukan berada dalam batas toleransi sesuai spesifikasi dan seluruh konstruksi benar-benar memenuhi standar teknis sebelum pekerjaan dinyatakan selesai.

×
Berita Terbaru Update