TOLI-TOLI, ALASANnews.com — Dentingan alu yang menghantam lesung bergema di Dusun Talamandu, Desa Lalos, Kecamatan Galang, Minggu (13/9/2026). Bukan sekadar bunyi pesta panen, suara itu menjadi penanda bahwa tradisi Mappadendang masih hidup di tengah masyarakat Toli-Toli.
Kelompok Padendang Petani Talamandu menggelar pesta panen atau Mappadendang sebagai wujud syukur atas hasil panen padi sekaligus upaya mempertahankan warisan budaya masyarakat Bugis yang telah turun-temurun dilakukan.
Tradisi tersebut berlangsung meriah dengan prosesi menumbuk padi menggunakan alu secara bersama-sama, diiringi nyanyian dan musik tradisional. Suasana kebersamaan pun terasa kuat ketika para petani mengikuti rangkaian adat tersebut.
Kehadiran Wakil Bupati Toli-Toli Moh. Besar Bantilan menjadi perhatian dalam kegiatan tersebut. Ia hadir bersama sejumlah pejabat daerah, tokoh masyarakat, kelompok tani dan warga Desa Lalos.
Rangkaian kegiatan diawali dengan penyambutan Wakil Bupati, dilanjutkan pembukaan, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Lagu Patriot Baolan, serta laporan panitia.
Kepala Desa Lalos Sudjono G. Darus, NL.P., mengapresiasi Kelompok Padendang Petani Talamandu yang masih mempertahankan tradisi tersebut.
Menurutnya, pelestarian Mappadendang penting agar generasi muda tidak kehilangan jejak budaya yang telah diwariskan oleh para pendahulu.
“Harapan kami, melalui kegiatan ini tradisi Mappadendang tetap hidup dan bisa dikenal lebih luas, serta meningkatkan motivasi petani untuk terus berproduksi,” katanya.
Sementara itu, Wakil Bupati Moh. Besar Bantilan menegaskan bahwa Mappadendang memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar pesta setelah panen.
Menurutnya, tradisi tersebut merupakan bentuk rasa syukur sekaligus gambaran semangat gotong royong yang masih tumbuh di tengah masyarakat.
“Pesta panen seperti ini harus terus kita jaga dan lestarikan. Selain sebagai wujud syukur, kegiatan ini juga menunjukkan semangat gotong royong dan kekayaan budaya Toli-Toli,” ujar Moh. Besar.
Ia juga melihat Mappadendang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai daya tarik wisata budaya. Tradisi lokal, menurutnya, dapat menjadi bagian dari identitas daerah sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Toli-Toli kepada masyarakat yang lebih luas.
Pesan tersebut menjadi penting di tengah perubahan zaman. Ketika tradisi lokal berhadapan dengan modernisasi, Mappadendang menjadi salah satu ruang untuk menjaga hubungan masyarakat dengan akar budayanya.
Puncak kegiatan ditandai dengan prosesi adat Mappadendang yang diikuti anggota kelompok tani dengan penuh semangat. Para petani bersama masyarakat larut dalam suasana syukur dan kebersamaan atas hasil pertanian yang diperoleh.
Kegiatan itu turut disaksikan Asisten Administrasi Umum Mukti, S.T., Ketua GOW Kabupaten Toli-Toli Ny. Caroline Pangalila Bantilan, Ketua KKSS Kabupaten Toli-Toli Andi Ahmad Syarif, Anggota DPRD sekaligus Ketua KTNA Kabupaten Toli-Toli Taufik, S.E., Camat Galang Agus Salim Bin Bustan, S.H., unsur Forkopimca Kecamatan Galang, Kadis Tanaman Pangan dan Hortikultura Ellyah HP. Sagala, S.P., Kepala Desa Lalos serta masyarakat Desa Lalos.
Mappadendang di Talamandu akhirnya bukan hanya menjadi pesta untuk merayakan hasil panen. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi pesan bahwa kemajuan daerah tidak harus membuat masyarakat meninggalkan tradisi. Budaya, pertanian dan kebersamaan justru dapat berjalan beriringan.


