Oleh: Elkana Lengkong — Redaktur Eksekutif
ALASANNEWS, PALU – Suasana hangat dan penuh keakraban terlihat di Warkop Fore, Jalan Moh. Yamin (Jalur Dua), Kota Palu, Senin pagi (14/9/2026). Dua tokoh politik nasional asal Sulawesi Tengah, Gubernur Sulawesi Tengah Dr. H. Anwar Hafid, M.Si. dan H. Ahmad Ali, terlihat duduk semeja menikmati kopi pagi.
Pertemuan tersebut menarik perhatian karena keduanya memiliki sejarah politik yang cukup kuat di Sulawesi Tengah. Pada Pilkada Gubernur dan Wakil Gubernur Sulteng 2024, Anwar Hafid dan Ahmad Ali berada di kubu yang berseberangan. Kontestasi itu akhirnya dimenangkan pasangan Anwar Hafid-Reny A. Lamadjido.
Namun, suasana pertemuan Senin pagi itu justru memperlihatkan sisi berbeda. Tidak terlihat sekat politik maupun formalitas kekuasaan. Keduanya tampak berbincang santai, diselingi gelak tawa dan diskusi ringan.
Anwar Hafid mengakui pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana kekeluargaan. Ketika ditanya apakah ada agenda politik tertentu di balik pertemuan itu, Gubernur Sulteng tersebut menjawab dengan nada santai.
“Hahahhaha!! Tak ada agenda politik, hanya silaturahmi biasa saja, lepas kangen,” kata Anwar Hafid kepada Alasannews melalui pesan WhatsApp, Senin (14/9/2026).
Dua Tokoh Asal Wosu
Pertemuan itu memiliki kedekatan tersendiri karena Anwar Hafid dan Ahmad Ali sama-sama memiliki akar dari Wosu, Kabupaten Morowali.
Kesamaan latar belakang tersebut membuat hubungan keduanya tidak semata-mata dapat dilihat dari perspektif politik. Setelah melalui dinamika kontestasi Pilkada 2024, pertemuan dalam suasana santai menjadi gambaran bahwa kompetisi politik tidak harus menghilangkan hubungan persaudaraan.
Sejak sekitar pukul 07.00 WITA, keduanya sudah terlihat duduk bersama di Warkop Fore. Anwar Hafid datang setelah menyelesaikan olahraga ringan. Ia mengenakan pakaian kasual berupa kaus berwarna kuning tua dan sepatu kets.
Gubernur Sulteng itu kemudian mengambil posisi duduk di samping Ahmad Ali. Keduanya tampak berbincang dalam suasana yang jauh dari kesan pertemuan politik formal.
Ahmad Ali dalam pertemuan tersebut didampingi sejumlah pengurus Ahmad Ali Center (AAC) Sulteng. Mereka antara lain Fachruddin Yunus hingga Hidayat Lamakarate yang mengenakan kaus putih bertuliskan AAC.
Kehadiran jajaran AAC semakin mencairkan suasana. Percakapan berlangsung santai, sesekali diselingi tawa, sementara pembahasan yang muncul disebut berkaitan dengan berbagai dinamika terkini di Sulawesi Tengah.
Setelah Pilkada, Tetap Bersilaturahmi
Pertemuan Anwar Hafid dan Ahmad Ali menjadi menarik karena publik masih mengingat persaingan keduanya dalam Pilkada Sulteng 2024.
Pilkada tersebut merupakan salah satu kontestasi politik yang mendapat perhatian luas di Sulawesi Tengah. Anwar Hafid bersama Reny A. Lamadjido akhirnya memperoleh mandat masyarakat untuk memimpin Sulteng periode 2025–2030.
Sementara Ahmad Ali tetap menjadi salah satu figur politik nasional yang memiliki pengaruh kuat di daerah tersebut.
Karena itu, pertemuan keduanya dalam suasana informal dapat dimaknai sebagai pesan bahwa perbedaan pilihan politik tidak harus berujung pada hubungan yang terputus.
Keduanya kini berada pada ruang masing-masing, tetapi tetap memiliki kepentingan yang sama dalam konteks lebih luas, yakni kemajuan Sulawesi Tengah.
Dinamika Politik yang Cair
Pertemuan di Warkop Fore juga memperlihatkan bahwa komunikasi antartokoh politik dapat berlangsung dalam suasana yang cair dan kekeluargaan.
Sejumlah warga yang berada di lokasi menilai pertemuan tersebut memberikan contoh positif bahwa tokoh-tokoh politik dapat tetap membangun komunikasi dan persaudaraan meskipun pernah berada dalam arena politik yang berbeda.
“Pak bos (Ahmad Ali) sepertinya ingin menjadi kakak yang baik untuk adik-adiknya di Sulteng ini. Kebetulan beliau sesekali ke Palu bertemu ‘adik-adik politiknya’. Ya sekalian bercengkerama sembari diskusi-diskusi ringan,” ungkap salah seorang warga yang ikut ngopi bersama.
Pertemuan tersebut pun menjadi gambaran bahwa dinamika politik tidak selalu harus berlangsung dalam ruang formal. Warung kopi dapat menjadi tempat membangun komunikasi, mempererat silaturahmi, sekaligus mencairkan hubungan antartokoh.
Pada akhirnya, pertemuan Anwar Hafid dan Ahmad Ali menyampaikan pesan sederhana: perbedaan pilihan politik dalam sebuah kontestasi tidak harus menghapus hubungan persaudaraan.
Bagi Sulawesi Tengah, komunikasi yang tetap terjaga di antara para tokoh daerah menjadi modal sosial penting untuk membangun suasana politik yang sehat, dewasa, dan tetap mengedepankan kepentingan masyarakat.


