Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Dukung Visi Anwar Hafid, Prof. Ahlis Dorong NEPIE Parimo Jadi Pionir Hilirisasi Hijau dan Serap Tenaga Kerja Lokal

| 05:08 WIB | 0 Views Last Updated 2026-02-11T22:08:23Z

 


ALASANNEWS, (Palu)– Rencana transformasi ekonomi besar-besaran di Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) melalui pembangunan kawasan industri Neo Energi Parimo Industrial Estate (NEPIE) di Kecamatan Siniu kini tengah menjadi sorotan publik. 


Proyek ini dinilai sebagai langkah konkret dalam mendukung visi Gubernur Sulawesi Tengah, Dr. H. Anwar Hafid, M.Si, untuk memacu pertumbuhan ekonomi daerah melalui hilirisasi industri hijau yang berkelanjutan.


Guru Besar Ekonomi Bisnis Universitas Tadulako (Untad), Prof. Moh. Ahlis Djirimu, Ph.D. sangat apresiasi mendukung visi Gubernur Anwar Hafid atas kehadiran ptoyek ini. Namun, ia memberikan catatan kritis agar investasi raksasa ini tidak meninggalkan residu sosial bagi masyarakat. Menurutnya, kehadiran green smelter harus dipandang secara holistik dari hulu hingga ke hilir.


"Keberhasilan proyek ini tidak boleh hanya diukur dari angka pertumbuhan ekonomi makro, melainkan juga sejauh mana warga lokal terlibat aktif dalam rantai produksi tersebut," tegas Prof. Ahlis kepada Alsannews melalui pesan WhatsApp, Rabu (11/2/2026).


Warga Lokal Jangan Jadi Penonton


Prof. Ahlis menyoroti ketimpangan serapan tenaga kerja yang terjadi di Morowali sebagai pelajaran penting. Data menunjukkan 82% pekerja di sektor nikel Morowali merupakan pekerja migran, sementara warga lokal Sulawesi Tengah hanya menyerap porsi 12%.


Dominasi pekerja luar tersebut mayoritas diisi oleh tenaga ahli (57%) dengan spesialisasi Teknik Pertambangan, Geologi, dan Sipil. Ia mendesak pemerintah untuk melakukan intervensi nyata melalui penyiapan skill di Balai Latihan Kerja (BLK).


"Jangan sampai warga Parimo hanya menjadi penonton saat tanah mereka bertransformasi menjadi pusat industri dunia. Pemerintah Provinsi dan Kabupaten wajib menyiapkan tenaga kerja lokal dengan standar industri," ujar Ahlis Djirimu


Tinggalkan Batu Bara demi Daya Saing


Selain isu tenaga kerja, Prof. Ahlis mendorong NEPIE untuk meninggalkan energi batu bara dan beralih ke Liquid Natural Gas (LNG). Hal ini krusial karena standar "industri hijau" menjadi harga mati agar produk nikel Sulteng mampu bersaing dengan teknologi baterai Lithium-Ferro Phosphate (LFP) di pasar global.


Dikatakan Sulteng memiliki kekayaan gas melimpah dari 6 sumur, mulai dari Blok Gorontalo hingga Blok Surumana. "Sudah saatnya kita melakukan renegosiasi kontrak untuk periode 2027-2047. Fokus kita harus beralih dari menjual bahan mentah ke Jepang menjadi penunjang hilirisasi domestik," jelas pakar ekonomi Untad tersebut.


"Demi visi rendah karbon, agar kawasan NEPIE mengadopsi teknologi mutakhir seperti Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) dan High Pressure Acid Leaching (HPAL), serupa dengan standar global PT Vale Indonesia" ujar Ahlis Djirimu


Dengan teknologi tepat dan energi bersih, industri di Parimo diharapkan mampu memproduksi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) yang ramah lingkungan, sekaligus menjadi motor penggerak ekonomi yang inklusif bagi seluruh rakyat Sulawesi Tengah.***

×
Berita Terbaru Update