- H. Muhidin Said SE, MBA Wakil Ketua Banggar DPR-RI (Ist)
ALASANNEWS, (Jakarta) – Wajah masa depan ekonomi Sulawesi Tengah (Sulteng) mulai bergeser ke Parigi Moutong (Parimo) Langkah berani Gubernur Sulteng, Dr. H. Anwar Hafid, M.Si, yang hendak menyulap Kecamatan Siniu Kanupaten Parimo menjadi kawasan industri nikel raksasa ramah lingkungan lewat Neo Energi Parimo Industrial Estate (NEPIE), mendapat apresiasi dari Senayan Jakarta.
Wakil Ketua Banggar DPR-RI, H. Muhidin Said, SE, MBA, menyatakan dukungannya terhadap proyek yang masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) berdasarkan Permenko Perekonomian No. 12 Tahun 2024 lampiran 114 tersebut. Kalau tidak sekarang kapan lagi.
"Saya apresiasi gebrakan Gubernur Anwar Hafid. Ini peluang emas. Tanpa investasi besar seperti ini, sulit bagi daerah khususnya Sulteng untuk melonjakkan pertumbuhan ekonomi dan menyerap tenaga kerja secara masif," Kata Wakil Ketua Banggar DPR-RI Muhidin Said SE, MBA kepada Alasannews melalui kontak WhatsApp, Selasa (10/2/26).
Belajar Danau Lindu
Politisi senior Partai Golkar ini mengingatkan agar Sulteng tidak mengulangi sejarah pahit masa lalu. Ia mengenang era Gubernur HA Azis Lamadjido, di mana bantuan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Ait (PLTA) dari pemerintah Perancis yang memanfaatkan Danau Lindu ditolak atas nama lingkungan.
"Hasilnya? Ketika daerah ini pernah mengalami krisis listrik dan akhirnya menyesal. Sekarang, saatnya kita berpikir positif. Banyak negara berebut investasi, jangan sampai investor kabur ke daerah atau negara lain karena kita tidak siap," tegas Anggota Komisi XI DPR-RI Dapil Sulteng ini.
Amdal adalah Harga Mati
Meski mendukung penuh proyek ini, Muhidin menitipkan "catatan penting" bagi Pemprov Sulteng sebelum proyek ininp mulai bekerja. Baginya, kenyamanan masyarakat lokal adalah kunci kesuksesan investasi. Masyarakat Siniu harus dirangkul dan diberi pemahaman agar tidak hanya menjadi kasus sosial dikemudian hari. Begitu ketika kawasan industri ini beroperasi justru tenaga kerja direkrut lebih banyak dari luar daerah dan warga setempat tidak hanya jadi penonton tapi juga pemain di tanah sendiri.
"Hal mendesak optimalisasi Balai Latihan Kerja (BLK) yang ada dengan pelatihan agar tenaga kerja lokal memiliki skill yang dibutuhkan industri nikel. termasuk Amdal ketat, mengingat konsepnya adalah Green Industry, penataan Analisis Dampak Lingkungan (Amdal) harus benar-benar presisi untuk mencegah masalah sosial dan lingkungan di masa depan" ujar Muhidin Said.
Begitu optimisnya, Muhidin Said kehadiran investasi industri smelter nikel ramah lingkungan di Siniu Parimo, ia bahkan menyarankan agar konsep industri hijau serupa juga perlu dikembangkan raksasa industri di wilayah Kabupaten Banggai. Menurutnya, efek domino dari kawasan industri seperti yang dikelola PT Anugrah Neo Energy Materials (ANEM) ini akan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru yang luar biasa bagi rakyat Sulawesi Tengah.
"Dunia sedang berlomba menangkap investasi hijau. Kalau Siniu sukses, kenapa Banggai tidak? Mari kita mudahkan investor agar Sulteng benar-benar melompat maju," ujar Muhidin Said.***


