Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Tak Abaikan Janji Gebrakan Hijau dari Siniu! Gubernur Anwar Hafid Jadikan Parimo Kawasan Raksasa Industri Nikel Masa Depan Ramah Lingkungan Tanpa Asap, Tanpa Polusi!

| 07:34 WIB | 0 Views Last Updated 2026-02-06T00:34:59Z

 


  • Kecamatan Siniu Parimo sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) mengusung konsep green industry kawasan industri nikel Neo Energi Parimo Industrial Estate (NEPIE) (Ist).

ALASANNEWS, (Palu) – Tak abaikan janji jadikan Kabupaten Parigi Moutong sebagai kawasan hijau perlu gebrakan Gubernur Sulawesi Tengah Dr H Anwar Hafid M.Si wujudkan Kabupaten Parimo Jadi Raksasa Industri Nikel Masa Depan ramah lingkungan tanpa asap, tanpa polusi perlu diapresiasi pengembangan kawasan industri nikel Neo Energi Parimo Industrial Estate (NEPIE) sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) mengusung konsep green industry 


“Mengapa saya dukung, sebab proyek ini merupakan proyek strategi nasional yang dikembangkan sebagai kawasan industri dengan konsep green industry. Kawasan industri ramah lingkungan" kata Dr H Anwar Hafid M.Si kepada Alasannews Kamis (5/2/26) lewat pesan Whatsapp.


Proyek ini kata Anwar Hafid dirancang dengan model industri terintegrasi. Bijih nikel kadar rendah (low grade) yang berasal dari Morowali akan diolah menjadi produk setengah jadi di fasilitas perusahaan di sana. Selanjutnya produk tersebut akan dikirim ke smelter dan pabrik hilir yang akan dibangun di Kecamatan Siniu, Parigi Moutong.


“Dari Morowali mengolah tanah mengandung nikel setengah jadi. Hasil itu kemudian diangkut dibawa ke Parigi. Di Parigi nanti akan dibangun macam-macam sampai ke hilir,” ujar Anwar Hafid 


Menurut  Anwar Hafid keunggulan utama lokasi di Siniu, Parimo adalah penggunaan energi bersih. Untuk memastikan hal itu, industri ini akan dialiri listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Banggaiba di Kabupaten Sigi dengan kapasitas 145 Megawatt, yang dibangun khusus.


“Saya tidak inginkan lagi kalau kondisi terjadi seperti di Morowali akan terjadi juga di Parimo. Kita lihat Morowali itu kan penuh asap, batubara. Kalau di Parimo ini tidak akan terjadi. Sebab kawasan industri yang masuk di Siniu konsep ramah lingkungan green industri tidak berasap. Apalagi industri ini adalah industri masa depan" ujar Anwar Hafid, 


Dijelaskan kehadiran industri ini juga diproyeksikan mendorong pembangunan infrastruktur pendukung. Perusahaan akan membuka akses jalan baru dari Siniu menuju Pelabuhan Pantoloan di Palu, yang hanya berjarak sekitar 20 kilometer lebih. Hal ini akan menambah alternatif jalur masuk ke Kota Palu.


Anwar Hafid optimis proyek ini akan membuka lapangan kerja secara besar-besaran. Pada tahap hilir, industri ini berpotensi memproduksi komponen untuk kendaraan masa depan yang akan memacu pertumbuhan ekonomi daerah Sulteng. “Kalau saya tidak salah dengar nanti diproduksi disitu ya, baterai dan. juga mobil listrik,” ujar mantan Bupati Morowali dua periode.


Terpisah Guru Besar Ekologi dan Lingkungan Hidup Universitas Tadulako (Untad) Palu, Prof. Dr. Ir. Muh Nur Sangadji, DEA, memberikan apresiasi tinggi terhadap gagasan Gubernur Dr. H. Anwar Hafid, M.Si, terkait pengembangan kawasan industri nikel Neo Energi Parimo Industrial Estate (NEPIE) di Kabupaten Parigi Moutong (Parimo).


Proyek yang telah berstatus Proyek Strategis Nasional (PSN) tersebut direncanakan mengusung konsep green industry atau industri hijau yang ramah lingkungan. "Pengembangan kawasan industri berstatus PSN di Kabupaten Parimo patut diapresiasi. Semoga gagasan Gubernur Anwar Hafid ini berwujud nyata. Dengan demikian, penghargaan PROPER di bidang lingkungan hidup akan berwujud fakta," kata Prof. Dr Ir Muh Nur Sangadji DEA kepada Alasannews, Kamis (5/2/26), melalui pesan WhatsApp.


Lanjut Prof. Nur Sangadji, instrumen PROPER (Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup) dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) akan menjadi fungsional jika bersinergi dengan kebijakan lokal. Evaluasi tahunan ini bertujuan mendorong ketaatan industri terhadap regulasi, efisiensi sumber daya, dan tanggung jawab sosial gayung bersambut dengan kebijakan pemerintah lokal.


"Sesungguhnya ide adanya pabrik nikel ramah lingkungan sudah lama kami bicarakan di kampus. Bukan hanya nikel, tapi juga logam mulia dan pengelolaan SDA secara umum. Penting ada preseden baik atau best practices yang bisa dijadikan patokan sekaligus sumber belajar bagi pihak perusahaan," jelasnya.


Ia menyebutkan bahwa Indonesia sudah memiliki contoh nyata, seperti PT Ceria Nugraha Indotama yang menggunakan teknologi tinggi untuk pengurangan emisi karbon. Untuk pemanfaatan energi surya, serta pengelolaan limbah melalui metode HPAL/STAL. Langkah ini krusial untuk menghasilkan bahan baku baterai kendaraan listrik (EV battery) yang rendah karbon.


"Tapi, soal pertambangan ramah lingkungan harusnya adalah sektor yang sedikit lebih minim resiko sehingga  sangat mungkin terwujud. Bila kita jujur.  Secara praktis, ikuti saja semua anjuran tahapan dalam penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)nya" ujar Muh Nur Sangadji.


Guru Besar Ekologi dan Lingkungan Untad Palu mengingatkan pertama , penyusun AMDAL adalah orang orang ahli yang kredibel. Mereka dalam satu tahun hanya boleh terlibat menyusun dua atau tiga dokumen saja. Ini menyangkut beban kerja dan kualitas dokumennya. Berikutnya , dari aktor kredibel ini, akan lahir dokumen yang bermutu. Mulai dari dokumen Kerangka Acuan (KA), analisa dampak (ANDAL), Rencana Kelola Lingkungan (RKL)  dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL).


"Dibutuhkan komitmen kuat (strong comitment) dari pemrakarsa atau pihak perusahaan. Cara mengetahuinya sederhana sekali. Cukup dengan memeriksa pelaksanaan RKL melalui dokumen RPLnya. Periode pemeriksaan ini dilakukan relatif 6 bulan sekali. Dengan begitu, saya berpandangan bahwa gagasan Gubernur Sulawesi Tengah ini bisa berwujud nyata" ujar Muh Nur Sangadji.***


×
Berita Terbaru Update