ALASANNEWS, (Palu) – Di tengah dinamika pembangunan Sulawesi Tengah, program unggulan "9 Berani" merupalan visi misi Gubernur Dr H Anwar Hafid M.Si dan Wagub dr Renny A Lamadjido Sp.PK, M.Kes kini menjadi fokus utama perhatian berbagai pihak, termasuk kalangan akademisi.
Guru Besar Ekonomi Bisnis Universitas Tadulako (Untad) Palu Prof. Moh Ahlis Djirimu, Ph.D, memberikan analisis mendalam terkait implementasi program tersebut dalam kaitannya dengan kondisi fiskal dan tantangan SDM di daerah ini.
Menurut Prof. Ahlis, dua pilar utama dari visi tersebut, yakni Berani Cerdas dan Berani Sehat, sebenarnya telah tersosialisasi dengan sangat baik. Program ini bukan lagi sekadar slogan, melainkan sudah mulai familiar dan menjadi tumpuan harapan di tengah masyarakat Sulawesi Tengah. Namun, ia mengingatkan bahwa popularitas program harus dibarengi dengan ketepatan eksekusi dan pengelolaan anggaran yang cerdas.
Potret Buram SDM: Tantangan Besar di Balik Angka
Dibalik optimisme yang ada, Prof. Ahlis menyodorkan data empiris yang cukup mengejutkan mengenai kondisi riil pendidikan dan kesehatan di Sulawesi Tengah. Tantangan dunia pendidikan masih sangat terjal, yang tercermin dari tingginya angka anak tidak sekolah.
Data menunjukkan, pada kategori usia SD (7-12 tahun), terdapat 89.446 jiwa (30%) yang tidak mengenyam bangku sekolah. Kondisi ini berlanjut pada jenjang SMP (13-15 tahun) sebanyak 13.447 jiwa (9,10%), dan usia SMA/SMK (16-18 tahun) mencapai 29.064 jiwa (20,12%).
Angka yang paling memprihatinkan terlihat pada kelompok usia perguruan tinggi (19-24 tahun). Terdapat 203.930 jiwa atau 67,99% pemuda di Sulteng yang tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah. Sementara di sektor kesehatan, masih ada sekitar 712.223 jiwa atau 26% penduduk yang belum terlindungi oleh jaminan BPJS Kesehatan.
"Saya perlu sampaikan bahwa ini adalah investasi Sumber Daya Manusia (SDM) jangka panjang. Ada time lag atau grace period. Hasil dari kebijakan hari ini tidak bisa dilihat secara instan, melainkan baru akan dinikmati hasilnya 25 tahun ke depan," ungkap Prof. Ahlis melalui pesan WhatsApp kepada Alasannews, Sabtu (28/03/26).
Belajar dari Pengalaman: Menghindari Harapan Instan
Pakar ekonomi kenamaan Untad ini menekankan agar publik maupun pemerintah tidak terjebak pada keinginan melihat hasil yang serba cepat. Ia merujuk pada pengalaman empirisnya saat menangani investasi pendidikan jenjang SMP/MTs pada periode 2000-2003 silam.
Transformasi kualitas manusia, menurutnya, membutuhkan konsistensi dan kesabaran birokrasi.
Ia menyarankan agar pemerintah tidak hanya terpaku pada satu-dua aspek, melainkan membangun sinergi antara seluruh pilar dalam "9 Berani".
"Sebaiknya fokus juga diperluas pada keterkaitan erat antara program lainnya. Ada sisi kesejahteraan melalui Berani Sejahtera, Berani Makmur/Berani Tangkap Banyak, hingga Berani Berkah. Di sisi lain, infrastruktur dan tata kelola seperti Berani Lancar dan Berani Menyala harus berjalan beriringan. Ujung dari semua ini adalah terciptanya Berani Harmoni dan Berani Berintegritas," jelasnya detail.
Menakar Kesiapan OPD dan Administrasi Teknis
Salah satu poin krusial yang disoroti Prof. Ahlis adalah kesiapan instrumen pelaksana di tingkat bawah. Ia menilai tantangan terbesar saat ini berada pada tataran Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Belum semua OPD dianggap benar-benar familiar dengan rincian teknis 9 Program Berani, terutama dalam koordinasi lintas Kelompok Kerja (Pokja).
Untuk memitigasi hambatan tersebut, ia mendorong pemerintah segera merapikan aspek administratif dan panduan operasional.
"Sangat mendesak saat ini untuk menyiapkan logframe (kerangka logis), pedoman umum, pedoman teknis, hingga pedoman operasional DT-SEN. Tanpa itu, pelaksanaan di lapangan berisiko tumpang tindih dan tidak terukur," tegasnya.
Strategi Fiskal: Optimalisasi PAD dan Efisiensi Spending
Menutup analisisnya, Prof. Ahlis mengingatkan bahwa saat ini merupakan masa efisiensi dana pembangunan. Mengingat keterbatasan anggaran, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah saat ini dipimpin Gubernur Anwar Hafid harus melakukan langkah strategis agar visi "9 Berani" tetap berjalan tanpa terhambat masalah finansial.
Ada dua strategi utama yang ditawarkan:
Optimalisasi PAD (Pendapatan Asli Daerah): Pemprov harus lebih kreatif dan agresif dalam menggali sumber pendanaan mandiri agar tidak melulu bergantung pada dana transfer pusat.
Spending Management (Manajemen Pengeluaran): Melakukan belanja daerah yang efektif dan tepat sasaran. Program-program teknis di OPD harus disaring ketat agar benar-benar mendukung pencapaian visi dan misi yang telah ditetapkan
"Fokus pada 9 Berani bukan berarti mengabaikan tugas rutin OPD. Justru tantangannya adalah bagaimana menyelaraskan setiap kegiatan teknis tersebut agar tetap sinkron dan mempercepat pencapaian visi besar pembangunan Sulawesi Tengah," tutup Prof. Ahlis.***


