Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Muhidin Said: Perang di Timur Tengah Tak Ganggu APBN 2026 Jika Berlangsung Kurang dari 10 Hari

| 18:48 WIB | 0 Views Last Updated 2026-03-05T11:48:27Z

 


  • H Muhidin Said

ALASANNEWS, (Palu) – Wakil Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR-RI, H. Muhidin Said, SE., MBA, memberikan analisis optimis terkait dinamika geopolitik global yang tengah memanas di Timur Tengah. 


Muhidin menegaskan bahwa potensi ketegangan antara Israel, Amerika Serikat (AS), dan Iran tidak akan mengguncang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 dari sisi penerimaan BBM, dengan catatan situasi tersebut tidak berlarut-larut.


"Sampai detik ini, dampak signifikan itu tidak terjadi, kecuali jika perang berlangsung lebih dari 10 hari. Namun, jika kurang dari itu, tidak akan memengaruhi APBN 2026 dari sektor BBM. Sebab, stok cadangan BBM nasional kita saat ini cukup untuk memenuhi kebutuhan selama 20 hari," ujar Muhidin Said saat diwawancarai khusus oleh Alasannews, Kamis (5/3/2026) di Palu.


Politisi senior dari Fraksi Partai Golkar ini menambahkan bahwa kewaspadaan baru akan ditingkatkan jika krisis melampaui batas cadangan tersebut.


"Kecuali lewat 20 hari, itu baru warning yang perlu diwaspadai. Tapi saya yakin ini hanyalah ekses geopolitik sesaat dan tidak akan berlangsung lebih dari 10 hari," lanjutnya.


Optimisme di Tengah Eskalasi


Muhidin meyakini jalur diplomasi akan tetap menjadi prioritas bagi negara-negara yang bertikai. Meski demikian, ia melontarkan pandangan pragmatis terkait konflik tersebut.


"Tentu ada perundingan yang mereka lakukan. Namun, jika tidak ada titik temu, lebih baik jika memang perang terjadi, sebaiknya sekaligus agar segera ada pihak yang menyerah, itu lebih pasti. Tapi saya rasa itu tidak mungkin terjadi," tuturnya.


Lebih lanjut, ia menyoroti keamanan jalur logistik energi global. Berdasarkan informasi yang diterimanya, pengamanan ketat telah dilakukan di titik-titik krusial. 


"Apalagi kapal tanker pengangkut BBM saat melewati Teluk Hormuz, saya dengar telah mendapatkan pengawalan dari kapal perang Amerika," jelas Anggota Komisi XI DPR-RI Dapil Sulteng.


Faktor Trump dan Ketahanan Pangan


Muhidin juga menyentuh aspek kepemimpinan global, di mana ia menilai Presiden Donald Trump akan berhitung cermat sebelum mengambil keputusan fatal jika petang masih berlanjut. 


Menurutnya, perang jangka panjang hanya akan membawa kehancuran kolektif bagi semua negara, sesuatu yang pasti dihindari oleh para pemimpin dunia.


Di sisi lain, ia mengapresiasi fundamental ekonomi Indonesia yang dinilai lebih tangguh menghadapi guncangan luar. Salah satu poin krusial adalah keberhasilan Indonesia dalam mencapai swasembada pangan.


"Harus diakui, satu kehebatan negara kita saat ini adalah sudah swasembada pangan. Jadi kita tidak terlalu khawatir. Sebab, jika pangan masih harus impor, itu yang sangat berbahaya saat terjadi perang," tegas Muhidin.


Menutup pernyatannya, ia tetap berharap perdamaian dunia terjaga demi stabilitas harga energi.


"Bagaimanapun, jika perang terjadi dalam waktu lama, harga BBM pasti naik. Saya berharap perang ini tidak berlanjut, karena fokus kita adalah menjaga stabilitas nasional dengan stok BBM yang tersedia untuk 20 hari ke depan," pungkasnya.***

×
Berita Terbaru Update