Palu, AlasanNews.com — Menjelang akhir Ramadan 1447 Hijriah tahun 2026, anggota Komisi II DPR RI Longki Djanggola tetap menjalankan tugasnya sebagai wakil rakyat dengan turun langsung menemui konstituen di Kota Palu.
Kali ini, Longki menggelar kegiatan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan dengan mengangkat tema Spirit Ramadan. Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber Zaenal Abidin, yang merupakan salah satu Ketua **Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulawesi Tengah.
Selain diikuti puluhan mahasiswa dari berbagai universitas di Kota Palu, kegiatan sosialisasi juga melibatkan tokoh pemuda dan tokoh agama.
Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan tersebut berlangsung selama dua hari di dua lokasi berbeda. Kegiatan pertama digelar pada Sabtu (14/3) di Jalan Elang, Kelurahan Birobuli Utara, Kota Palu.
Sementara kegiatan kedua dilaksanakan pada Senin (16/3) sekitar pukul 15.00 WITA di Aula Bakeswi Palu, Jalan Kelinci, Talise, Kecamatan Mantikulore. Pada kegiatan ini, hadir pula narasumber Abdul Gani Jumat, Dekan Fakultas Sains dan Ilmu Pengetahuan di UIN Datokarama Palu.
Dalam sambutan tertulisnya pada kegiatan tersebut, Longki Djanggola menekankan pentingnya menjaga persatuan bangsa di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
Menurutnya, bangsa Indonesia memiliki kemajemukan bahasa, suku, dan agama yang harus dijaga dengan baik agar menjadi kekuatan bangsa, bukan justru sumber perpecahan.
“Perbedaan adalah kenyataan yang harus kita terima. Yang terpenting adalah menjaga silaturahmi sesama anak bangsa serta memperkuat toleransi dalam kehidupan beragama,” ujar Longki.
Sementara itu, Prof. Zaenal Abidin dalam pandangannya menegaskan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan warisan berharga dari para pendiri bangsa yang harus dijaga bersama.
Menurutnya, para pendahulu bangsa rela mengorbankan harta bahkan nyawa demi berdirinya NKRI.
“Harga NKRI yang diwariskan para pendahulu bangsa sangat mahal. Mereka rela mengorbankan segalanya demi republik tercinta ini,” ungkapnya.
Pada kesempatan yang sama, Dr. Abdul Gani Jumat menyoroti pentingnya menjaga dan melestarikan kearifan lokal sebagai bagian dari identitas masyarakat Sulawesi Tengah.
Ia mencontohkan bagaimana para raja di wilayah Palu pada masa lalu memberikan ruang kepada Guru Tua untuk menyebarkan syiar Islam di tanah Tadulako.
Menurutnya, keterbukaan para pemimpin daerah saat itu menunjukkan bahwa nilai toleransi telah lama menjadi budaya masyarakat Sulawesi Tengah.
Bahkan, lanjutnya, dalam perjalanan dakwah tersebut Guru Tua juga pernah merekrut seorang pengajar matematika nonmuslim untuk mengajar di sekolah Islam Alkhairaat.
“Itulah bukti bahwa toleransi di Sulawesi Tengah sudah menjadi budaya sejak lama,” jelas Abdul Gani.
Menariknya, dalam forum tersebut Abdul Gani juga mengutip pernyataan Prof. Zaenal Abidin yang disambut antusias peserta.
“Pak Longki Djanggola sekarang bukan sedang menggendong cucu. Tapi beliau saat ini sedang menggendong rakyat Sulawesi Tengah,” ujarnya yang langsung diamini para peserta.az



