Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Resiliensi Ekonomi di Tengah Badai Fiskal: Strategi Anwar Hafid Membawa Sulteng Tetap Eksis

| 10:33 WIB | 0 Views Last Updated 2026-05-08T03:33:05Z

 



Tulisan: Elkana Lengkong/ Redaktur Eksekutif


ALASANNEWS, (Palu)– Di tengah guncangan ekonomi global dan kebijakan pengetatan fiskal dari pusat, Sulawesi Tengah (Sulteng) menunjukkan daya tahan yang luar biasa. Meski dihantam pemotongan Dana Transfer Daerah yang mencapai angka fantastis, ekonomi Negeri Seribu Megalit ini justru terus menggeliat dan mencatatkan pertumbuhan yang signifikan.


Dalam Forum Ekonomi Keuangan Sulawesi Tengah dan Diseminasi Laporan Perekonomian Provinsi yang digelar di Sriti Convention Hall Palu, Kamis (7/5/2026), Gubernur Sulawesi Tengah, Dr. H. Anwar Hafid, M.Si., memaparkan realitas pahit sekaligus optimisme baru bagi masa depan daerahnya.


Tantangan Fiskal: Kehilangan Rp1,7 Triliun dalam Dua Tahun


Gubernur Anwar mengungkapkan fakta yang mengejutkan terkait kapasitas belanja daerah. Sulawesi Tengah harus menghadapi kenyataan terpangkasnya anggaran secara berturut-turut. Pada tahun 2025, Sulteng kehilangan transfer daerah sebesar Rp530 miliar. Kondisi ini berlanjut pada tahun 2026 dengan pengurangan yang lebih drastis, yakni mencapai Rp1,2 triliun.


"APBD kita sebelumnya hampir Rp6 triliun, sekarang tinggal sekitar Rp4,3 triliun. Itu sangat memengaruhi belanja pemerintah dan aktivitas birokrasi," ujar Anwar dengan nada serius.


Penurunan kapasitas fiskal ini sempat memicu kontraksi ekonomi secara kuartalan (qtq) sebesar 6,98 persen dibanding triwulan IV tahun 2025, terutama dipicu oleh melemahnya aktivitas administrasi pemerintahan. Namun, Anwar menegaskan bahwa Sulteng tidak tumbang.


Pertumbuhan 8,32 Persen: Lepas dari Ketergantungan APBD


Meski anggaran pemerintah berkurang, ekonomi Sulteng justru tumbuh kokoh secara tahunan (yoy). Pada Triwulan I tahun 2026, ekonomi Sulawesi Tengah mencatatkan pertumbuhan sebesar 8,32 persen.


Angka ini membuktikan satu hal: struktur ekonomi Sulawesi Tengah telah berevolusi. Ekonomi daerah kini tidak lagi sepenuhnya bergantung pada "nafas" APBD. Sektor industri pengolahan menjadi motor utama dengan kontribusi 43,43 persen terhadap struktur ekonomi, diikuti oleh sektor perdagangan dan investasi yang terus mekar.


"Kita bersyukur karena Sulawesi Tengah tidak lagi hanya bergantung pada APBD. Pertumbuhan ekonomi kita kini digerakkan oleh sektor-sektor produktif dan kontribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang terus meningkat," jelasnya.


Diversifikasi Ekonomi: Menatap "Blue and Green Economy"


Sadar bahwa ketergantungan pada industri nikel memiliki risiko jangka panjang, Anwar Hafid mulai melakukan reposisi arah pembangunan. Ia menilai investasi di sektor pertanian dan perikanan masih sangat minim, padahal keduanya adalah akar rumput ekonomi masyarakat Sulteng.

Langkah konkret pun diambil.


Gubernur tengah menggagas kerja sama sister city dengan Provinsi Hainan dan Sichuan di Tiongkok. Puncaknya, pada 17 Mei 2026 mendatang, Gubernur bersama Rektor Universitas Tadulako dijadwalkan menandatangani MoU untuk memperkuat teknologi dan investasi di bidang pertanian serta perikanan.


"Kita tidak lagi hanya fokus pada industri pengolahan nikel. Kita mulai fokus memperkuat fondasi ekonomi masa depan melalui pertanian dan perikanan," tegas Anwar.


Memerangi Kemiskinan Melalui Perbaikan Hunian


Di balik angka pertumbuhan yang mentereng, Anwar tidak menutup mata terhadap realitas sosial. Tren kemiskinan memang menurun—sekitar 10 ribu warga berhasil keluar dari kategori miskin dalam setahun terakhir—namun tantangan besar masih membentang.


Gubernur menemukan korelasi kuat antara kemiskinan dengan kualitas hunian. Data menunjukkan ada sekitar 87 ribu rumah tidak layak huni (RTLH) di Sulteng. Wilayah dengan angka RTLH tinggi seperti Kabupaten Donggala, Sigi, dan Tojo Una-Una, cenderung memiliki angka kemiskinan yang juga tinggi.


"Daerah yang rumah tidak layak huninya tinggi, angka kemiskinannya juga tinggi. Ini menjadi perhatian serius kami ke depan," tambahnya.


Sinergi untuk Masa Depan


Menutup paparannya, Gubernur mengapresiasi sinergi antara pemerintah daerah, Bank Indonesia (BI), OJK, dan BPS. Berkat kolaborasi ini, inflasi di Sulawesi Tengah berhasil terkendali dengan baik pada triwulan pertama tahun 2026.


Melalui Forum Ekonomi ini, Anwar berharap lahir rekomendasi konkret yang tidak hanya memperkuat angka-angka di atas kertas, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat, ketahanan fiskal, dan kedaulatan pangan Sulawesi Tengah.


Sulawesi Tengah telah membuktikan bahwa kehilangan dana transfer ratusan miliar bukan berarti kehilangan masa depan. Dengan kemandirian ekonomi dan diversifikasi sektor produktif, Bumi Tadulako tetap tegak berdiri dan terus bereksistensi.***

×
Berita Terbaru Update