- Selaku Plt Ketua DPD I Partai Golkar Sulsel, H Muhidin Said lakukan rekonsolidasi ke DPD II Partai Golkar se-Sulsel. (Ist).
Oleh: Elkana Lengkong, Redaktur Eksekutif
Di balik suksesnya pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) XI DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan, terdapat sosok yang bekerja jauh dari sorotan, namun memegang peran strategis dalam menjaga stabilitas organisasi.
Sosok tersebut adalah Anggota Fraksi Partai Golkar DPR RI, H. Muhidin M. Said, yang dipercaya Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Ketua DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan.
Kepercayaan itu dijawab dengan tuntas. Muhidin berhasil mengawal masa transisi kepemimpinan Golkar Sulsel hingga berakhir dengan lahirnya kepengurusan baru secara damai, solid, dan melalui mekanisme aklamasi. Keberhasilan tersebut sekaligus menutup salah satu fase politik internal yang dinilai cukup menantang di tubuh Partai Golkar Sulawesi Selatan.
Apresiasi atas keberhasilan itu disampaikan langsung Ketua Umum DPP Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, yang memberikan penghargaan kepada Muhidin M. Said atas kemampuannya menjalankan mandat strategis DPP. Di bawah kepemimpinannya sebagai Plt Ketua DPD I, roda organisasi tetap berjalan, konsolidasi kader berlangsung efektif, serta seluruh tahapan Musda XI dapat terlaksana secara aman, tertib, demokratis, dan penuh semangat persatuan.
Puncak keberhasilan tersebut ditandai dengan pelaksanaan Musda XI DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan pada Sabtu (18/7/2026), yang menetapkan Ilham Arief Sirajuddin (IAS) sebagai Ketua DPD I Partai Golkar Sulsel periode 2026–2031 secara aklamasi.
Forum tertinggi partai di tingkat provinsi itu menjadi penanda berakhirnya masa transisi kepemimpinan yang selama beberapa bulan dikawal langsung oleh Muhidin M. Said. Tidak hanya sukses secara administratif, Musda juga berlangsung tanpa gejolak berarti, sesuatu yang dinilai sebagai capaian penting mengingat tingginya dinamika politik di Sulawesi Selatan.
Bagi Ilham Arief Sirajuddin, hasil Musda menjadi awal perjalanan kepemimpinan baru. Namun bagi Muhidin M. Said, momentum tersebut merupakan penutup dari sebuah amanah besar yang berhasil diselesaikan dengan baik. Ia menerima mandat dalam situasi organisasi yang penuh tantangan, lalu menyerahkan tongkat estafet kepada ketua definitif dalam kondisi partai tetap utuh, solid, dan siap menghadapi agenda politik berikutnya.
Arsitek Konsolidasi di Tengah Dinamika Politik
Penunjukan Muhidin sebagai Plt Ketua DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan pada Desember 2025 bukanlah keputusan tanpa pertimbangan. Sebagai Koordinator Wilayah (Korwil) Partai Golkar Sulawesi sekaligus politisi senior yang telah lama berkiprah di tingkat nasional, ia dinilai memiliki pengalaman, kapasitas, serta kematangan politik untuk mengawal salah satu wilayah dengan dinamika politik paling kompleks di Indonesia bagian timur.
Mandat yang diberikan DPP bukan perkara sederhana. Selain menjaga agar organisasi tetap berjalan normal, Muhidin juga bertugas melakukan konsolidasi menyeluruh hingga ke tingkat akar rumput serta mempersiapkan pelaksanaan Musda setelah berakhirnya masa kepengurusan sebelumnya.
Selama menjalankan amanah tersebut, Muhidin memilih pendekatan dialogis. Ia membangun komunikasi intensif dengan seluruh elemen partai, mulai dari pengurus provinsi, DPD II kabupaten/kota, organisasi sayap, hasta karya, hingga para tokoh senior Partai Golkar.
Pendekatan itu terbukti efektif. Berbagai perbedaan pandangan dapat dikelola secara dewasa melalui musyawarah sehingga potensi konflik yang sempat muncul berhasil diredam tanpa meninggalkan luka politik berkepanjangan.
Rekam Jejak Sang "Spesialis Aklamasi"
Keberhasilan mengawal transisi kepemimpinan Golkar Sulawesi Selatan semakin memperkuat reputasi Muhidin M. Said sebagai figur konsolidator yang piawai menyelesaikan dinamika internal partai.
Sebelum dipercaya di Sulawesi Selatan, Muhidin telah sukses mengawal proses Musyawarah Daerah Partai Golkar di Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, dan Maluku Utara.
Di berbagai daerah tersebut, pendekatan komunikasi yang dibangunnya mampu mempertemukan berbagai kepentingan politik melalui musyawarah dan mufakat hingga menghasilkan proses pemilihan yang berlangsung damai, kondusif, bahkan berakhir melalui aklamasi.
Catatan keberhasilan itu membuat Muhidin dikenal di internal Partai Golkar sebagai sosok yang mampu menjembatani berbagai kepentingan tanpa menimbulkan polarisasi.
Kepemimpinan yang Menyatukan
Kader Partai Golkar Sulawesi Tengah, Salihudin, menilai keberhasilan Muhidin merupakan buah dari pengalaman panjangnya dalam memimpin organisasi.
Menurutnya, sejak menerima mandat dari DPP, Muhidin memahami bahwa tugas utama seorang pelaksana tugas bukan memenangkan kelompok tertentu, melainkan memastikan seluruh kader tetap berada dalam satu barisan.
"Ketika DPP menunjuk Pak Muhidin sebagai Plt Ketua Golkar Sulsel pada Desember 2025 lalu, ada tanggung jawab besar yang harus dipikul. DPP memberikan dua mandat utama, yakni melakukan konsolidasi organisasi hingga ke akar rumput dan mempersiapkan pelaksanaan Musda setelah berakhirnya masa kepengurusan sebelumnya. Mengingat dinamika politik Sulsel yang sangat tinggi, tugas tersebut membutuhkan kepemimpinan yang matang," ujar Salihudin kepada Alasannews, Senin (20/7/2026).
Ia menambahkan bahwa Muhidin menjalankan perannya sebagai pemimpin yang berdiri di atas seluruh kepentingan.
"Beliau hadir bukan sebagai kontestan, tetapi sebagai penghubung yang adil bagi seluruh kader. Posisi itu membuat semua kelompok merasa dihargai dan diberikan ruang yang sama," katanya.
Pandangan senada disampaikan politisi senior Partai Golkar, H. Helmy D. Yambas, SE, yang menilai keberhasilan Musda Golkar Sulawesi Tengah sebelumnya juga tidak terlepas dari sentuhan kepemimpinan Muhidin M. Said.
"Musda DPD I Partai Golkar Sulteng juga menempuh musyawarah mufakat hingga aklamasi. Dan ini merupakan peranan H. Muhidin Said, politisi senior yang punya inovasi. Persatuan dan kesatuan dalam berpolitik untuk kemajuan partai memang membutuhkan musyawarah dengan aklamasi," ujarnya.
Menjinakkan Dinamika Politik Bumi Sawerigading
Sulawesi Selatan merupakan salah satu basis terbesar Partai Golkar di Indonesia. Beragam tokoh senior, kepala daerah, anggota legislatif, mantan pejabat publik, pengurus DPD II, organisasi sayap, hingga organisasi hasta karya berhimpun di provinsi ini.
Keberagaman tersebut menjadi kekuatan sekaligus tantangan. Tanpa pengelolaan yang tepat, perbedaan pandangan berpotensi berkembang menjadi fragmentasi internal.
Muhidin memilih strategi merangkul seluruh elemen. Ia membuka ruang dialog bagi semua kader tanpa membedakan latar belakang maupun afiliasi politik.
Seluruh pihak diberikan kesempatan menyampaikan pandangan, kritik, serta aspirasi melalui mekanisme organisasi yang terbuka. Pendekatan persuasif tersebut perlahan membangun kembali rasa saling percaya sehingga berbagai perbedaan dapat diselesaikan melalui musyawarah.
Bridging Leadership dalam Praktik Nyata
Dalam perspektif manajemen organisasi modern, gaya kepemimpinan Muhidin mencerminkan konsep bridging leadership, yakni kepemimpinan yang membangun jembatan di antara kelompok-kelompok dengan kepentingan berbeda.
Alih-alih mempertajam perbedaan, ia justru menjadikannya sebagai modal memperkuat organisasi.
Langkah awal yang ditempuh ialah membentuk kepengurusan transisi yang bersifat inklusif dengan melibatkan 162 kader dari berbagai unsur.
Muhidin menunjuk Rahman Pina sebagai Sekretaris DPD I dan Andi Ina Kartika Sari sebagai Bendahara DPD I.
Komposisi kepengurusan tersebut dinilai mampu mengakomodasi berbagai kekuatan internal sehingga seluruh elemen merasa memiliki ruang untuk berkontribusi terhadap kemajuan Partai Golkar.
Konsolidasi Total hingga ke Daerah
Setelah struktur organisasi tingkat provinsi terbentuk, Muhidin melanjutkan agenda konsolidasi ke seluruh wilayah Sulawesi Selatan.
Safari organisasi dilakukan secara maraton di tiga daerah pemilihan dengan melibatkan seluruh DPD II Partai Golkar dari 24 kabupaten dan kota.
Dalam setiap kunjungan, Muhidin tidak hanya menyampaikan arahan organisasi, tetapi juga mendengarkan secara langsung aspirasi, kritik, serta masukan dari para kader.
Pola komunikasi dua arah tersebut menjadi salah satu faktor yang memperkuat hubungan antara kepengurusan provinsi dengan seluruh jajaran di daerah.
Puncak konsolidasi berlangsung di Kabupaten Soppeng pada Mei 2026. Saat itu Muhidin menyatakan keyakinannya bahwa Golkar Sulawesi Selatan telah berada dalam kondisi solid dan siap melaksanakan Musda.
Optimisme tersebut terbukti. Musda XI berjalan aman, tertib, demokratis, serta menghasilkan kepemimpinan baru tanpa menyisakan konflik internal yang berkepanjangan.
Politik Percakapan Mengalahkan Politik Kegaduhan
Selama memimpin masa transisi, Muhidin konsisten mengedepankan dialog dibanding konfrontasi.
Ia berulang kali mengingatkan bahwa perbedaan pilihan merupakan bagian dari demokrasi, tetapi tidak boleh mengorbankan persatuan organisasi.
Baginya, Musyawarah Daerah bukan sekadar forum memilih ketua baru, melainkan momentum mempererat persaudaraan, memperkuat solidaritas, dan membangun kembali semangat kebersamaan seluruh kader.
Prinsip tersebut menjadi fondasi seluruh proses konsolidasi sehingga tahapan Musda berlangsung dalam suasana sejuk meski sebelumnya sempat diwarnai dinamika politik yang cukup tinggi.
Sebagai Korwil Partai Golkar Sulawesi, Muhidin menegaskan bahwa masa depan partai sangat ditentukan oleh kedewasaan para kader dalam menyikapi perbedaan.
"Pentingnya soliditas internal partai dalam setiap Musda demi persatuan dan kesatuan guna mengedepankan musyawarah mufakat dan aklamasi demi kebesaran partai di masa datang," tegas Muhidin.
Tongkat Estafet Diserahkan dalam Keadaan Utuh
Terpilihnya Ilham Arief Sirajuddin sebagai Ketua DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan periode 2026–2031 menjadi penutup manis dari seluruh proses transisi yang dikawal Muhidin M. Said.
Tongkat estafet kepemimpinan berpindah kepada pengurus definitif dalam suasana penuh kekeluargaan, sementara mesin organisasi tetap berada dalam kondisi prima dan siap menghadapi berbagai agenda politik mendatang.
Keberhasilan Muhidin tidak semata diukur dari suksesnya penyelenggaraan Musda XI secara teknis maupun administratif. Lebih jauh, keberhasilannya terletak pada kemampuannya menjaga persatuan, membangun komunikasi lintas kelompok, serta mengubah potensi rivalitas menjadi energi kolektif untuk memperkuat Partai Golkar.
Dengan rekam jejak sukses mengawal Musda di Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Maluku Utara, hingga Sulawesi Selatan, Muhidin M. Said semakin menegaskan posisinya sebagai salah satu konsolidator organisasi paling berpengalaman di tubuh Partai Golkar.
Amanah yang diberikan DPP berhasil dituntaskan dengan baik. Ketika organisasi membutuhkan sosok yang mampu menjadi penyejuk di tengah badai dinamika politik, Muhidin hadir dengan gaya kepemimpinan yang tenang, komunikatif, inklusif, dan mengedepankan musyawarah.
Ia mungkin bekerja tanpa banyak sorotan. Namun, warisan yang ditinggalkannya jauh lebih berharga daripada sekadar keberhasilan sebuah forum organisasi: persatuan yang tetap terjaga, stabilitas yang kokoh, serta fondasi yang kuat bagi kepemimpinan baru untuk membawa Partai Golkar Sulawesi Selatan menghadapi tantangan politik menuju Pemilu 2029.


