Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Dari Nikel ke Guangzhou: “Berani” Anwar Hafid Membuka Jalan Sulteng Menuju Panggung Dunia

| 14:26 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-07T07:26:02Z

 



Oleh: Elkana Lengkong/ Redaktur Eksekutif.


ALASANNEWS, PALU – Ada masa ketika Sulawesi Tengah lebih sering dipandang sebagai daerah yang kaya sumber daya alam, tetapi berada jauh dari pusat-pusat ekonomi dunia.


Kini, peta itu perlahan berubah.


Di satu sisi, perut bumi Sulawesi Tengah menyimpan nikel yang menjadi bagian penting dari revolusi kendaraan listrik. Di sisi lain, tanahnya menghasilkan komoditas pertanian dan hortikultura yang berpotensi menembus pasar global.


Namun, kekayaan alam saja tidak cukup.


Sebuah daerah membutuhkan keberanian untuk mengubah sumber daya menjadi nilai tambah, keberanian membangun konektivitas, sekaligus keberanian membuka pintu ke dunia.


Di titik itulah, dua tahun lebih kepemimpinan Gubernur Sulawesi Tengah Dr. H. Anwar Hafid, M.Si., mencoba menemukan momentumnya.


Dari hilirisasi nikel hingga penerbangan langsung Palu–Guangzhou, satu garis besar mulai terlihat: Sulawesi Tengah tidak ingin selamanya menjadi penonton dalam pertumbuhan ekonomi global.


Provinsi ini ingin ikut memainkan peran.


Dan untuk itu, jalannya tidak hanya melalui tambang dan kawasan industri, tetapi juga melalui bandara, perdagangan, pariwisata, pendidikan, riset, teknologi pertanian, serta jejaring kerja sama internasional.


Ketika Kekayaan Nikel Tidak Lagi Berhenti di Tanah


Nikel adalah salah satu kata kunci yang menjelaskan transformasi ekonomi Sulawesi Tengah dalam beberapa tahun terakhir.


Kekayaan mineral tersebut tidak lagi semata-mata dilihat sebagai komoditas yang digali, diangkut, kemudian dijual.


Arah kebijakan nasional mendorong nikel masuk ke tahap yang jauh lebih panjang: hilirisasi.


Dari bijih nikel menuju produk antara, kemudian menuju material baterai, hingga kelak menjadi bagian dari industri kendaraan listrik.


Perubahan paradigma inilah yang membuat Sulawesi Tengah memiliki posisi strategis dalam peta industri nasional.


Pengembangan industri nikel dan ekosistem baterai juga semakin terkoneksi dengan wilayah sekitar. Salah satu proyek besar yang menjadi bagian dari rantai industri tersebut adalah proyek High Pressure Acid Leaching (HPAL) PT Vale Indonesia Tbk di Pomalaa, Sulawesi Tenggara.


Proyek itu dijadwalkan memasuki tahap startup pada Agustus 2026.


Chief Sustainability & Corporate Affairs Officer PT Vale Indonesia, Budiawansyah, menyebut proyek tersebut sebagai salah satu cikal bakal ekosistem baterai di Indonesia.


“Nah, jika tidak ada halang melintang, bulan Agustus ini siap untuk di-startup. Ini adalah cikal bakal integrated ecosystem baterai, salah satu ekosistem baterai yang ada di Indonesia,” ujarnya dalam Grand Seminar HIPMI di Jakarta, Kamis (6/8/2026).


Kawasan Indonesia Pomalaa Industrial Park (IPIP) dirancang bukan sekadar sebagai lokasi pengolahan nikel.


Di dalamnya terdapat konsep industri jangkar yang melibatkan PT Vale, Huayou sebagai penyedia teknologi, serta Ford Motor.


Rantai industrinya diarahkan lebih panjang. Produk antara berupa Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) tidak berhenti sebagai produk akhir, tetapi diproyeksikan menjadi bahan bagi industri prekursor hingga katoda.


Proyek HPAL Pomalaa memiliki kapasitas produksi sekitar 120 ribu ton MHP per tahun, dengan nilai investasi sekitar US$4,5 miliar.


Di balik angka-angka itu, ada satu pesan besar: nikel sedang dipaksa keluar dari paradigma lama sebagai bahan mentah menuju industri bernilai tambah tinggi.


Dan Sulawesi Tengah berada di jantung perubahan tersebut.


Dari Morowali, Anwar Hafid Memahami Persoalan Itu


Bagi Anwar Hafid, isu hilirisasi bukan sesuatu yang sepenuhnya baru.


Pengalamannya memimpin Morowali selama dua periode membuatnya berhadapan langsung dengan geliat industri pertambangan sekaligus persoalan yang mengiringinya.


Di tengah investasi besar, pembangunan smelter, dan aktivitas industri yang tumbuh pesat, muncul pertanyaan klasik: sejauh mana daerah penghasil memperoleh manfaat dari kekayaan alamnya sendiri?


Pertanyaan itu kemudian dibawa Anwar ke level provinsi.


Salah satunya terkait Dana Bagi Hasil (DBH) sektor pertambangan.


Anwar menilai persoalan DBH tidak semata-mata lahir dari Keputusan Menteri ESDM Nomor 157 Tahun 2026. Menurutnya, akar masalah berada pada formula pembagian yang selama ini lebih mengakomodasi komoditas bijih nikel atau ore, sementara nilai tambah hasil hilirisasi belum sepenuhnya tercermin dalam pembagian kepada daerah.


Ia mengaku telah menyuarakan persoalan tersebut sejak 2014, ketika masih menjabat Bupati Morowali.


“Dari dulu memang kita tidak mendapatkan daerah tambang (nilai tambah industri). Sejak 2014 saya menjadi Bupati Morowali, saya sering menyuarakan bahwa kita hanya mendapatkan ore-nya saja. Ini yang terus saya perjuangkan. Mengapa DBH kita kecil, tidak seperti industri PT Vale,” kata Anwar kepada Alasannews, Jumat (7/8/2026).


Di sinilah paradoks pembangunan berbasis sumber daya alam muncul.


Investasi boleh tumbuh. Industri boleh berkembang. Ekspor boleh meningkat.


Tetapi bagi pemerintah daerah, pertanyaan akhirnya tetap sama: berapa besar nilai tambah yang benar-benar kembali kepada rakyat dan daerah penghasil?


Pertanyaan itu menjadi pekerjaan rumah yang tidak kalah penting dibandingkan membangun smelter.


Sebab Dunia Tidak Hanya Datang Lewat Tambang


Tetapi Sulawesi Tengah tidak ingin menggantungkan masa depannya hanya pada nikel.


Ada kesadaran bahwa ekonomi yang terlalu bertumpu pada satu komoditas akan menghadapi risiko ketika harga berubah, pasar bergeser, atau teknologi menemukan substitusi baru.


Karena itu, pintu lain harus dibuka.


Pertanian menjadi salah satunya.


Hortikultura, termasuk durian Montong, diproyeksikan tidak hanya untuk memenuhi pasar domestik, tetapi juga memiliki peluang masuk ke pasar internasional.


Untuk mewujudkan itu, teknologi dan akses pasar menjadi dua kebutuhan penting.


Anwar kemudian memilih pendekatan yang lebih agresif: mendatangi langsung pusat-pusat pengetahuan dan teknologi pertanian di China.


Kerja sama Sister Province dengan Provinsi Hainan dan Sichuan menjadi bagian dari strategi tersebut.


Dari Sulawesi Tengah ke China, gagasannya sederhana tetapi memiliki dampak besar: jangan menunggu dunia datang; jemput peluang itu sebelum orang lain mengambilnya.


Kerja sama tersebut tidak semata-mata diarahkan pada investasi.


Ada pertanian, riset, teknologi, pendidikan, perdagangan, hingga pertukaran pengalaman dalam pengembangan daerah.


Sulawesi Tengah ingin belajar bagaimana teknologi dapat meningkatkan produktivitas sekaligus membuka pasar bagi produk lokal.


Kamis Malam yang Mengubah Arah Bandara Mutiara


Kemudian, pada Kamis malam, 6 Agustus 2026, sebuah peristiwa berlangsung di Bandara Internasional Mutiara SIS Al-Jufri Palu.


Pesawat Garuda Indonesia bersiap menjalankan penerbangan perdana Inaugural Charter Flight Palu–Guangzhou.


Tidak ada yang sederhana dari momen tersebut.


Selama bertahun-tahun, penerbangan internasional dari Palu lebih banyak menjadi harapan yang dibicarakan.


Malam itu, harapan tersebut berubah menjadi kenyataan.


Gubernur Anwar Hafid hadir langsung meresmikan penerbangan tersebut.


Ia menyebutnya sebagai sejarah baru bagi Sulawesi Tengah.


“Ini adalah sejarah baru bagi Sulawesi Tengah. Penantian panjang masyarakat akhirnya terjawab. Melalui kerja sama pemerintah pusat, pemerintah daerah, pengelola bandara, Garuda Indonesia, dan semua pihak, malam ini kita berhasil membuka penerbangan internasional pertama dari Palu,” ujarnya.


Ada sesuatu yang menarik dari cara Anwar melihat penerbangan tersebut.


Ia tidak memandangnya sekadar sebagai sarana membawa penumpang dari Palu ke Guangzhou.


Pesawat itu dilihat sebagai jembatan ekonomi.


Di satu sisi ada investasi. Di sisi lain ada perdagangan.


Di antara keduanya ada pariwisata, pendidikan, teknologi, riset, dan pertukaran manusia.


Guangzhou bukan sekadar nama kota tujuan.


Ia adalah salah satu simpul perdagangan, industri, dan logistik penting di Asia.


Dengan konektivitas langsung, jarak geografis yang selama ini menjadi salah satu hambatan Sulawesi Tengah diharapkan dapat dipangkas.


“Kami Ingin Dunia Mengenal Sulteng”


Anwar mengatakan, Sulawesi Tengah tidak ingin dikenal dunia hanya karena industri pertambangan.


Pernyataan itu penting.


Sebab selama ini citra Sulteng di mata dunia internasional sangat kuat dikaitkan dengan nikel dan industri pengolahan.


Padahal, provinsi ini juga memiliki garis pantai yang panjang, kepulauan, kekayaan budaya, sejarah, serta komoditas pertanian yang beragam.


“Kami ingin dunia mengenal Sulawesi Tengah bukan hanya karena industrinya, tetapi juga karena pariwisata, budaya, dan warisan sejarahnya,” kata Anwar.


Di sinilah penerbangan internasional memperoleh makna yang lebih luas.


Pesawat bukan hanya membawa orang.


Pesawat membawa peluang.


Investor bisa datang lebih cepat. Wisatawan memiliki akses lebih mudah. Pelaku usaha memiliki jalur baru menuju pasar. Peneliti dapat bergerak lebih cepat. Bahkan produk unggulan daerah memperoleh peluang untuk diperkenalkan langsung kepada konsumen global.


Garuda Melihat Peluang Ekonomi


Wakil Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Thomas Sugiarto Oentoro menilai Sulawesi Tengah memiliki potensi ekonomi yang terus berkembang.


Karena itu, konektivitas internasional dinilai penting untuk mendukung pertumbuhan daerah.


“Rute ini bukan sekadar menambah jaringan penerbangan Garuda Indonesia. Kami ingin menghadirkan konektivitas yang mampu membuka peluang ekonomi baru dan memperkuat daya saing daerah,” kata Thomas.


Pesan tersebut sejalan dengan agenda pemerintah daerah.


Konektivitas harus menghasilkan aktivitas ekonomi.


Sebab penerbangan internasional tidak akan memiliki arti strategis jika hanya menjadi simbol tanpa penumpang, tanpa wisatawan, tanpa perdagangan, dan tanpa investasi.


Karena itu, tantangan berikutnya justru lebih besar: bagaimana membuat rute tersebut hidup dan berkelanjutan.


Palu–Guangzhou Hanya Awal


Anwar menyadari bahwa satu rute penerbangan belum cukup untuk membawa Sulawesi Tengah sepenuhnya ke panggung internasional.


Karena itu, pemerintah daerah mendorong pembukaan jaringan berikutnya.


China Southern Airlines dijadwalkan membuka penerbangan langsung Guangzhou–Palu.


Sejumlah maskapai internasional lainnya juga disebut tengah menjajaki rute menuju Malaysia dan India.


Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah bersama Kementerian Perhubungan juga terus mendorong pengembangan Bandara Internasional Mutiara SIS Al-Jufri.


Salah satu agenda penting adalah pengembangan runway agar mampu melayani pesawat berbadan lebar.


Lebih jauh, pengembangan tersebut juga diarahkan untuk mendukung rencana strategis menjadikan Bandara Mutiara SIS Al-Jufri sebagai embarkasi haji pada masa mendatang.


Artinya, bandara tersebut tidak lagi diposisikan hanya sebagai fasilitas transportasi.


Ia sedang diproyeksikan menjadi salah satu simpul pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah.


Dari “Berani” Menjadi “Terhubung”


Pada akhirnya, cerita dua tahun lebih kepemimpinan Anwar Hafid bukan hanya soal siapa yang membuka penerbangan internasional atau siapa yang mengawal hilirisasi.


Lebih dari itu, ini adalah cerita tentang bagaimana sebuah daerah mencoba mengubah posisi.


Dari daerah penghasil menjadi daerah bernilai tambah.


Dari daerah yang menunggu investasi menjadi daerah yang aktif menjemput investasi.


Dari pasar domestik menuju pasar internasional.


Dari mengandalkan sumber daya alam menuju pengembangan ekonomi yang lebih beragam.


Nikel memberi Sulteng posisi dalam rantai industri kendaraan listrik.


Pertanian memberi peluang diversifikasi ekonomi.


Kerja sama dengan Hainan dan Sichuan membuka jalur pengetahuan dan teknologi.


Sementara Palu–Guangzhou menjadi pintu fisik yang menghubungkan semuanya dengan dunia.


Namun, pekerjaan belum selesai.


Hilirisasi harus memastikan manfaat ekonomi tidak hanya terkonsentrasi pada kawasan industri.


DBH harus diperjuangkan agar daerah penghasil memperoleh manfaat yang lebih adil.


Pertanian harus ditopang teknologi dan standar mutu agar mampu bersaing.


Pariwisata membutuhkan promosi dan infrastruktur.


Dan penerbangan internasional harus dijaga agar tidak sekadar menjadi seremoni pembukaan, tetapi berkembang menjadi jalur ekonomi yang benar-benar produktif.


Di situlah ukuran keberanian sebenarnya.


Bukan hanya berani membuka pintu, tetapi berani memastikan apa yang masuk dan keluar dari pintu itu benar-benar membawa kesejahteraan bagi masyarakat.


Anwar Hafid menyimpan optimisme bahwa Palu–Guangzhou akan berkembang dan menjadi awal dari semakin terbukanya Sulawesi Tengah ke dunia.


“Harapan kami, penerbangan ini terus berkembang, frekuensinya bertambah, investasi meningkat, wisatawan semakin banyak datang, dan Sulawesi Tengah semakin dikenal dunia,” pungkasnya.


Kalimat itu sekaligus menjadi pekerjaan rumah.


Sebab setelah pintu dunia terbuka, pertanyaan berikutnya bukan lagi apakah Sulawesi Tengah bisa masuk ke pasar global. 


Pertanyaannya adalah: seberapa besar Sulteng mampu mengambil manfaat dari dunia yang kini datang lebih dekat Dan perjalanan itu baru saja dimulai.

×
Berita Terbaru Update