Oleh: Elkana Lengkong
Redaktur Eksekutif
ALASANNEWS, PALU — Dalam perjalanan politik dan pemerintahan di Sulawesi Tengah, nama keluarga H. Abdul Azis Lamadjido, S.H., tidak sekadar tercatat dalam lembaran sejarah. Nama tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang pengabdian kepada masyarakat yang berlangsung lintas generasi.
Jejak pengabdian itu kembali mendapat perhatian setelah dr. Hj. Reny Arniwaty Lamadjido, Sp.PK., M.Kes., dipercaya menduduki posisi Wakil Gubernur Sulawesi Tengah mendampingi Gubernur Dr. H. Anwar Hafid, M.Si.
Duet Anwar Hafid–Reny Lamadjido kini mengemban amanah menjalankan berbagai agenda pembangunan melalui sembilan program prioritas yang dikenal dengan 9 Berani, di antaranya Berani Sehat dan Berani Cerdas.
Pengalaman panjang dr. Reny di bidang kesehatan menjadi salah satu kekuatan dalam pemerintahan tersebut. Gubernur Anwar Hafid bahkan pernah melontarkan candaan bahwa Sulawesi Tengah memiliki “dua gubernur”.
Menurut Anwar, dalam urusan kesehatan, dr. Reny adalah “gubernurnya”, sedangkan dirinya menjadi wakilnya.
Pernyataan itu disampaikan dalam suasana bercanda. Namun, ungkapan tersebut sekaligus menggambarkan besarnya kepercayaan yang diberikan kepada dr. Reny dalam mengawal sektor kesehatan di Sulawesi Tengah.
Dari Dokter hingga Kepala Dinas Kesehatan
Dr. Reny Lamadjido memiliki rekam jejak panjang di dunia kesehatan. Sebelum memasuki panggung politik, ia meniti karier sebagai tenaga profesional sekaligus birokrat di bidang kesehatan.
Perempuan kelahiran Makassar, 17 Desember 1962, itu menyelesaikan pendidikan kedokteran, kemudian melanjutkan pendidikan spesialis Patologi Klinik hingga meraih gelar Magister Kesehatan (M.Kes.) di Universitas Hasanuddin.
Kariernya dibangun dari bawah melalui dunia pelayanan kesehatan.
Ia pernah dipercaya menjadi Direktur RSUD Undata Palu, kemudian menjabat Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Sulawesi Tengah, hingga menduduki posisi strategis sebagai Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah.
Pengalaman tersebut membentuk pemahamannya terhadap persoalan kesehatan masyarakat sekaligus tata kelola birokrasi pemerintahan.
Pengalaman panjang di bidang kesehatan kemudian membawanya masuk ke panggung politik. Dr. Reny dipercaya menjadi Wakil Wali Kota Palu periode 2021–2024, mendampingi Wali Kota Hadianto Rasyid.
Kedekatannya dengan pelayanan kesehatan dan berbagai persoalan masyarakat menjadi modal penting ketika kemudian dipercaya mendampingi Anwar Hafid dalam kontestasi politik tingkat provinsi.
Kini, sebagai Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, dr. Reny mengemban tanggung jawab besar untuk ikut memastikan berbagai program pembangunan, khususnya pelayanan kesehatan, benar-benar menyentuh masyarakat.
Sang Pionir Gerbos Bangdesa
Untuk memahami perjalanan keluarga Lamadjido, tidak lengkap tanpa menengok sosok almarhum H. Abdul Azis Lamadjido, S.H.
Azis Lamadjido lahir pada 1 September 1932 dan meninggal dunia pada 11 Mei 2011. Lulusan Universitas Hasanuddin tersebut mengawali karier sebagai jaksa, antara lain dengan menjabat Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Donggala, sebelum memasuki dunia pemerintahan.
Pengalaman kepemimpinannya semakin ditempa ketika dipercaya menjadi Bupati Donggala selama dua periode, 1966–1978.
Kariernya kemudian mencapai puncak ketika ia dipercaya menjabat Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tengah. Setelah itu, ia dipercaya menjadi Gubernur Sulawesi Tengah ke-8 selama dua periode, 1986–1996.
Salah satu warisan yang paling melekat dari kepemimpinannya adalah Gerbos Bangdesa, singkatan dari Gerakan Terobosan Pembangunan Desa.
Program tersebut lahir dari gagasan untuk mempercepat pembangunan wilayah pedesaan sekaligus membuka keterisolasian sejumlah daerah.
Pembangunan infrastruktur dasar, pembukaan akses jalan, perluasan jaringan listrik dan telekomunikasi, hingga pengembangan potensi ekonomi lokal menjadi bagian dari semangat pembangunan tersebut.
Potensi rotan dan kayu juga dikembangkan sebagai bagian dari upaya mendorong perekonomian masyarakat.
Tidak mengherankan jika kemudian nama Azis Lamadjido begitu lekat dengan Gerbos Bangdesa. Bagi sebagian masyarakat, program tersebut menjadi salah satu identitas penting dari kepemimpinannya.
Dalam sebuah kesempatan, Azis Lamadjido pernah menggambarkan gaya kepemimpinannya yang terbuka terhadap masyarakat.
«“Sebagai pemimpin saya tak ada protokoler khusus. Warga bersandal jepit pun bisa menemui saya. Mengapa? Mereka jauh-jauh dari pelosok desa ingin menemui pemimpinnya, lantas saya tolak. Betapa kecewanya. Dan itu bukan pribadi saya.”»
Pernyataan tersebut menggambarkan pendekatan kepemimpinan Azis Lamadjido yang menempatkan akses masyarakat kepada pemimpin sebagai bagian penting dari pelayanan pemerintahan.
Estafet Pengabdian Tanpa Jalan Pintas
Menariknya, perjalanan keluarga Lamadjido tidak selalu ditempuh melalui jalur yang mudah.
Mengutip pemberitaan media Alkhairaat pada 15 Februari 2025, Azis Lamadjido dan istrinya, Daeng Ani Lamadjido, membesarkan tujuh anak tanpa secara khusus mempersiapkan mereka untuk terjun ke dunia politik.
“Kami sekeluarga berjalan apa adanya, tergantung kehendak Tuhan. Tidak ada yang dikhususkan atau dipersiapkan untuk menjadi kepala daerah,” ungkap putra ketiga mereka, H. Rully Azis Lamadjido, sebagaimana dikutip dalam pemberitaan tersebut.
Rully menjadi salah satu contoh perjalanan karier yang dibangun dari bawah.
Ia disebut pernah tiga kali gagal dalam tes calon pegawai negeri sipil (CPNS). Namun, kegagalan tersebut tidak menghentikan langkahnya.
Rully kemudian meniti karier sebagai tenaga honorer. Dari posisi tersebut, ia secara bertahap membangun karier melalui pengalaman dan prestasi kerja.
Perjalanan panjang itu akhirnya membawanya dipercaya menjadi Wali Kota Administratif Palu periode 1995–2000.
Pada masa kepemimpinannya, status Palu kemudian berubah dari kota administratif menjadi kotamadya.
Setelah menyelesaikan tugas sebagai wali kota, Rully dipercaya menduduki jabatan Wakil Gubernur Sulawesi Tengah periode 2001–2006.
Selain Rully, keluarga Lamadjido juga memiliki jejak pengabdian di tingkat nasional. Rendy Affandy Lamadjido pernah dipercaya menjadi anggota DPR RI.
Rangkaian perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa pengabdian keluarga Lamadjido berlangsung melalui berbagai jalur, mulai dari pemerintahan daerah, birokrasi, kesehatan hingga politik nasional.
Reny Lamadjido dan Babak Baru
Jika Azis Lamadjido dikenal melalui pembangunan pedesaan dan Gerbos Bangdesa, sementara Rully memiliki catatan dalam perjalanan pemerintahan Kota Palu dan pemerintahan provinsi, maka dr. Reny Lamadjido membawa pengalaman profesional di bidang kesehatan ke tingkat pemerintahan provinsi.
Sektor kesehatan merupakan ruang pengabdian yang telah digelutinya selama puluhan tahun.
Karena itu, ketika dipercaya sebagai Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, pengalaman tersebut menjadi modal penting dalam mengawal pelayanan kesehatan masyarakat.
Melalui program Berani Sehat, pemerintahan Anwar Hafid–Reny Lamadjido berupaya memperkuat akses pelayanan kesehatan bagi masyarakat Sulawesi Tengah.
Di sisi lain, Berani Cerdas menjadi bagian dari agenda peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui sektor pendidikan.
Dua program tersebut menunjukkan bahwa tantangan pembangunan Sulawesi Tengah saat ini tidak lagi semata-mata berkaitan dengan keterisolasian wilayah.
Tantangan pembangunan telah berkembang menjadi persoalan kualitas hidup, akses pelayanan dasar, pendidikan, kesehatan, ekonomi, pengentasan kemiskinan, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Dalam konteks itulah kehadiran dr. Reny Lamadjido memiliki relevansi tersendiri.
Pengalaman panjangnya sebagai dokter dan birokrat kesehatan diharapkan dapat memperkuat kebijakan pelayanan publik, terutama di bidang kesehatan.
Dari Gerbos Bangdesa Menuju Pelayanan Publik Modern
Jika perjalanan keluarga Lamadjido dilihat dalam satu garis sejarah, terlihat adanya perubahan tantangan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Pada masa Azis Lamadjido, pembangunan infrastruktur dan pembukaan akses wilayah menjadi kebutuhan mendesak. Gerbos Bangdesa hadir sebagai salah satu jawaban terhadap kondisi tersebut.
Kini, kebutuhan masyarakat telah berkembang.
Pelayanan kesehatan yang mudah dijangkau, pendidikan berkualitas, penciptaan lapangan kerja, pengentasan kemiskinan, peningkatan kesejahteraan, serta penguatan kualitas sumber daya manusia menjadi bagian penting dari agenda pembangunan.
Dalam konteks itulah pengalaman dr. Reny Lamadjido menjadi relevan.
Dunia kesehatan yang selama puluhan tahun menjadi ruang pengabdiannya kini berada dalam lingkup tanggung jawab pemerintahan provinsi.
Tantangannya pun tidak ringan. Luas wilayah Sulawesi Tengah, karakter geografis yang beragam, serta kebutuhan masyarakat di wilayah perkotaan hingga pelosok menjadi pekerjaan besar yang membutuhkan kebijakan, koordinasi, dan pelayanan yang konsisten.
Tujuh Anak, Beragam Jalan Pengabdian
H. Abdul Azis Lamadjido dan istrinya, Daeng Ani Lamadjido, memiliki tujuh anak, terdiri atas empat laki-laki dan tiga perempuan.
Ketujuhnya adalah dr. Riri A. Lamadjido, H. Rully A. Lamadjido, Aswarni A. Lamadjido, Syafruddin A. Lamadjido, Rendy Affandy Lamadjido, dr. Reny Lamadjido, dan Burhanuddin A. Lamadjido.
Jejak pengabdian keluarga tersebut kemudian berkembang melalui berbagai profesi dan bidang pelayanan publik.
H. Rully Lamadjido, S.H., menorehkan catatan dalam perkembangan pemerintahan Kota Palu sebelum dipercaya menjadi Wakil Gubernur Sulawesi Tengah.
Rendy Affandy Lamadjido mengabdi melalui lembaga legislatif nasional.
Sementara itu, dr. Riri A. Lamadjido juga memiliki rekam jejak di bidang kesehatan dan pernah dipercaya memimpin RSUD Undata Palu.
Sejumlah anggota keluarga lainnya juga meniti karier di bidang profesional dan pemerintahan.
Rangkaian perjalanan tersebut menunjukkan bahwa keluarga Lamadjido tidak berada dalam satu jalur pengabdian yang seragam. Ada yang memilih birokrasi, kesehatan, pemerintahan, politik, hingga profesi lainnya.
Hal tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa estafet pengabdian tidak selalu berarti meneruskan jabatan yang sama. Nilai yang diwariskan dapat hadir dalam bentuk semangat bekerja, melayani, dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Politik sebagai Jalan Pengabdian
Pada akhirnya, perjalanan keluarga Azis Lamadjido bukan semata-mata tentang kekuasaan atau jabatan.
Ada satu benang merah yang terlihat, yakni pengabdian kepada masyarakat.
H. Abdul Azis Lamadjido meninggalkan jejak melalui Gerbos Bangdesa. Sebagian putra-putrinya kemudian mengikuti jalan pengabdian di birokrasi, pemerintahan, kesehatan, dan politik.
Rully Lamadjido menorehkan catatan dalam perjalanan pemerintahan Kota Palu dan Provinsi Sulawesi Tengah. Rendy Affandy Lamadjido mengabdi melalui lembaga legislatif nasional. Sementara dr. Reny Lamadjido melanjutkan perjalanan tersebut melalui sektor kesehatan, birokrasi, dan pemerintahan provinsi.
Setiap generasi tentu menghadapi tantangan yang berbeda.
Karena itu, warisan sebuah keluarga dalam politik tidak cukup diukur dari panjangnya daftar jabatan yang pernah diduduki.
Warisan kepemimpinan justru diuji dari seberapa besar manfaat yang ditinggalkan bagi masyarakat.
Dari semangat Gerbos Bangdesa pada masa lalu hingga penguatan pelayanan kesehatan dan pendidikan pada masa kini, perjalanan keluarga Lamadjido memperlihatkan bahwa politik dapat menjadi jalan pengabdian apabila kekuasaan ditempatkan sebagai amanah.
Pada akhirnya, nama besar bukanlah tujuan.
Yang jauh lebih penting adalah bagaimana nama tersebut terus diikuti kerja nyata, pelayanan, integritas, dan keberpihakan kepada masyarakat.
Sebab, sejarah kepemimpinan tidak semata-mata dikenang karena siapa yang pernah berkuasa, tetapi karena apa yang telah diperbuat untuk rakyat.



