Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Harga Durian Monthong di China Menggiurkan, APDURIN Dorong Modernisasi Tata Kelola Durian Sulteng

| 14:14 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-15T07:14:03Z

 


ALASANNEWS, PALU — Pasar durian di China dinilai masih menjadi peluang besar bagi Sulawesi Tengah (Sulteng) untuk mengembangkan komoditas hortikultura bernilai ekonomi tinggi.


Tingginya permintaan pasar, harga yang relatif menarik, serta terbukanya ruang ekspor menjadi momentum bagi Sulteng untuk tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga membenahi tata kelola perkebunan durian dari hulu hingga hilir.


Ketua Asosiasi Perkebunan Durian Indonesia (APDURIN) Sulawesi Tengah, Hengky Mappangilei, mengatakan harga durian Monthong di China cukup menggiurkan jika dibandingkan dengan harga di tingkat petani di daerah produksi.


Menurut Hengky, harga durian Monthong di pasar grosir China mulai sekitar 28 yuan atau sekitar Rp62.000 per kilogram, salah satunya di pasar induk Kunming, Provinsi Yunnan.


Sementara di tingkat supermarket atau pasar eceran, harga durian Monthong dapat mencapai sekitar 40 hingga 60 yuan atau Rp89.000 hingga Rp133.000 per kilogram. Harga tersebut dapat berubah mengikuti musim, ketersediaan pasokan, kualitas buah, serta negara asal impor.


“Harga di pasar China cukup menarik. Pasar China menerima durian sebanyak-banyaknya karena pangsa pasarnya masih terbuka luas,” ujar Hengky.


Distribusi dan Musim Panen Memengaruhi Harga


Hengky menjelaskan, harga durian di China dipengaruhi sejumlah faktor, antara lain ketersediaan pasokan, musim panen, kualitas buah, serta jalur distribusi.


Menurut dia, berkembangnya infrastruktur transportasi kawasan Asia Tenggara turut mendukung kelancaran distribusi komoditas pertanian menuju China.


Salah satunya adalah China-Laos Railway yang menjadi bagian penting dari konektivitas perdagangan antara China dan kawasan Asia Tenggara.


Infrastruktur transportasi yang semakin baik, kata Hengky, dapat membantu menekan biaya logistik dan mempercepat distribusi sehingga pasokan durian ke pasar tujuan menjadi lebih lancar.


Selain distribusi, musim panen juga menjadi faktor penting. Ketika pasokan meningkat pada musim panen raya, harga eceran cenderung mengalami penyesuaian. Sebaliknya, ketika pasokan terbatas, harga dapat meningkat.


Kondisi tersebut menjadi pelajaran bagi Sulteng agar membangun sistem produksi dan distribusi yang lebih terencana sehingga mampu memasok pasar secara konsisten.


Sulteng Masih Menghadapi Persoalan Keseragaman Produk


Di balik besarnya potensi pasar, Hengky mengakui Sulteng masih menghadapi sejumlah persoalan, terutama menyangkut keseragaman bentuk fisik, ukuran, kualitas dan cita rasa durian.


Menurut dia, persoalan tersebut harus menjadi perhatian serius apabila Sulteng ingin meningkatkan penetrasi ke pasar internasional, khususnya China.


“Kita masih kalah soal menjaga keseragaman bentuk fisik buah dan rasa,” katanya.


Ia menilai Thailand, Vietnam, Laos dan sejumlah negara produsen lainnya telah lebih dahulu mengembangkan sistem perkebunan durian modern dengan dukungan teknologi, standar budidaya, intervensi pemerintah serta pengaturan rantai pasok.


Karena itu, Sulteng membutuhkan tata kelola perkebunan durian yang lebih modern, terintegrasi dan berorientasi pasar.


Modernisasi tersebut tidak hanya menyangkut produksi, tetapi dimulai sejak pembibitan, pemilihan varietas, penanaman, pemeliharaan, pemupukan, pengendalian penyakit, panen, pascapanen, sortasi, pengemasan, penyimpanan, distribusi hingga ekspor.


APDURIN Dorong Regulasi Tata Kelola Durian


APDURIN juga mendorong pemerintah daerah segera memperkuat regulasi mengenai tata kelola komoditas durian di Sulawesi Tengah.


Hengky berharap regulasi tersebut dapat memberikan kepastian bagi petani, pengumpul, perusahaan, investor, pengolah hingga eksportir.


Menurut dia, regulasi yang jelas diperlukan untuk menciptakan ekosistem usaha yang sehat sekaligus memberikan perlindungan kepada petani.


“Regulasi itu untuk memastikan semua pihak yang terlibat dalam tata kelola durian ini terjamin, baik dari aspek keamanan dan kenyamanan investasi, kepastian harga bagi petani maupun pelaku usaha, dan aspek lainnya,” jelasnya.


Menurut Hengky, kepastian regulasi akan menjadi fondasi penting dalam menarik investasi.


Dengan aturan yang jelas, hubungan antara petani, pelaku usaha, investor, pengumpul, pengolah dan eksportir dapat dibangun secara lebih transparan, profesional dan berkelanjutan.


Potensi Produksi Sulteng Besar


Besarnya peluang pasar China semakin menarik karena Sulawesi Tengah memiliki wilayah perkebunan durian yang cukup luas.


Hengky menggambarkan, dalam luasan satu hektare dengan asumsi terdapat sekitar 100 pohon durian, produksi dalam satu kali panen secara potensial dapat mencapai sekitar 10 ton.


Namun, angka tersebut sangat bergantung pada umur tanaman, varietas, tingkat produktivitas, kondisi kebun, pemeliharaan dan faktor cuaca.


Potensi itu menunjukkan bahwa perkebunan durian apabila dikelola secara intensif dapat menjadi salah satu sumber pendapatan baru masyarakat sekaligus memperkuat sektor pertanian Sulteng.


Hengky menyebutkan, pengiriman durian ke China saat ini tercatat sekitar 7.344 ton. Menurut dia, angka tersebut masih berpeluang ditingkatkan mengingat besarnya permintaan pasar China.


“Pasar China menerima durian sebanyak-banyaknya karena pangsa pasar masih terbuka luas,” ujarnya.


Pasar Domestik Tetap Menjanjikan


Meski pasar ekspor menjadi sasaran penting, Hengky mengingatkan agar kebutuhan pasar dalam negeri tetap diperhatikan.


Ia memperkirakan pengiriman untuk kebutuhan domestik rata-rata mencapai sekitar 30 persen dari jumlah ekspor.


Kondisi ini menunjukkan bahwa durian Sulteng memiliki pasar yang relatif luas, baik di dalam negeri maupun mancanegara.


Dari pantauan ALASANNEWS, harga durian Monthong asal Palu di salah satu swalayan kawasan Jatimakmur, Bekasi, tercatat sekitar Rp7.990 per 100 gram.


Sementara di salah satu supermarket kawasan Tomang, Jakarta Barat, harga durian disebut mencapai sekitar Rp250.000 untuk dua buah.


Perbedaan harga tersebut menunjukkan adanya rantai nilai yang panjang antara sentra produksi dan konsumen akhir.


Durian dari berbagai daerah di Sulawesi Tengah masuk ke jaringan pengepul, pemasok, perusahaan dan distributor sebelum akhirnya dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia maupun ke pasar ekspor.


Sentra Produksi Tersebar di Sulteng


Hengky menyebut produksi durian Sulteng berasal dari sejumlah wilayah.


Di antaranya Parigi Moutong (Parimo), Poso, Sigi, Morowali, Morowali Utara, Tolitoli, Buol dan Banggai.


Kabupaten Poso, khususnya wilayah Pendolo, disebut sebagai salah satu daerah dengan produksi durian yang cukup besar.


Potensi tersebut perlu diperkuat melalui peningkatan kualitas kebun, penggunaan teknologi pertanian modern, penyediaan bibit unggul, standar budidaya, pengendalian organisme pengganggu tanaman serta pembangunan fasilitas pascapanen.


Sulteng juga berada dalam jaringan perdagangan regional dengan pasokan durian yang berasal dari sejumlah wilayah di luar daerah, termasuk Sulawesi Selatan, Gorontalo dan Sulawesi Barat.


Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan industri durian tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan membutuhkan ekosistem perdagangan dan distribusi yang terintegrasi.


Penyakit Tanaman Jadi Perhatian


Selain persoalan kualitas dan keseragaman buah, pengendalian penyakit tanaman juga menjadi tantangan penting dalam pengembangan perkebunan durian Sulteng.


Hengky berharap para pakar, baik dari kalangan akademisi maupun praktisi di lapangan, dapat bersama-sama mencari solusi terhadap berbagai penyakit yang menyerang tanaman durian.


Menurut dia, penanganan penyakit harus dilakukan berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga tidak hanya mengandalkan pengalaman petani.


Upaya tersebut penting karena peningkatan produksi tanpa pengendalian penyakit dapat mengganggu produktivitas kebun dan kontinuitas pasokan.


Karena itu, pengembangan pusat penelitian, penyuluhan, laboratorium, pendampingan petani serta sistem deteksi dini penyakit menjadi bagian penting dari modernisasi perkebunan durian.


Poso dan Daerah Lain Perlu Diperkuat


Potensi Poso, khususnya Pendolo, sebagai salah satu sentra durian harus diikuti dengan peningkatan kualitas produksi.


Hal serupa perlu dilakukan di Parimo, Sigi, Morowali, Morowali Utara, Tolitoli, Buol dan Banggai.


Pemerintah daerah bersama APDURIN dan para pelaku usaha dapat mendorong pemetaan sentra produksi berdasarkan varietas, umur tanaman, produktivitas, kualitas buah dan kalender panen.


Data tersebut penting untuk mengetahui kapan dan di mana pasokan durian tersedia sehingga pembeli dan eksportir dapat merencanakan kebutuhan secara lebih baik.


Dengan demikian, produksi durian Sulteng tidak hanya mengejar volume, tetapi juga kualitas, keseragaman, kontinuitas dan kepastian pasokan.


Membangun Industri Durian dari Hulu hingga Hilir


Hengky menilai momentum terbukanya pasar China harus dimanfaatkan Sulteng untuk membangun industri durian dari hulu hingga hilir.


Pemerintah, petani, asosiasi, akademisi, pelaku usaha, investor, pengumpul, perusahaan pengolahan dan eksportir perlu duduk bersama menyusun ekosistem perkebunan durian yang mampu memenuhi kebutuhan pasar internasional.


Modernisasi tersebut antara lain dapat dilakukan melalui penggunaan bibit unggul, standar budidaya, teknologi pemupukan, mekanisasi, pengendalian penyakit, pencatatan produksi, sertifikasi, fasilitas sortasi dan grading, pengemasan, rantai dingin serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia.


Langkah tersebut sekaligus dapat meningkatkan posisi tawar petani.


Petani tidak lagi hanya menjual buah berdasarkan ukuran dan kondisi sesaat, tetapi dapat menghasilkan produk dengan standar kualitas yang jelas dan memiliki akses pasar yang lebih luas.


Peluang Ekonomi Baru Sulteng


Jika tata kelola tersebut dapat diwujudkan, durian tidak sekadar menjadi komoditas buah lokal, tetapi berpotensi berkembang menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi Sulawesi Tengah.


Peluang pasar China memberikan ruang bagi Sulteng untuk meningkatkan nilai tambah sektor pertanian sekaligus membuka lapangan kerja di daerah.


Namun, peluang tersebut tidak boleh hanya dilihat dari sisi harga.


Yang lebih penting adalah kemampuan Sulteng membangun kualitas, kontinuitas, efisiensi logistik, kepastian regulasi dan perlindungan terhadap petani.


Pasar China memang menawarkan peluang besar. Tetapi pasar internasional juga memiliki persyaratan yang semakin ketat.


Karena itu, pekerjaan rumah Sulteng bukan sekadar memperbanyak pohon durian, melainkan membangun industri durian yang profesional dan berdaya saing.


Dari kebun hingga konsumen, setiap mata rantai harus diperkuat.


Dengan tata kelola yang modern, dukungan regulasi, penerapan teknologi, pengendalian penyakit, penguatan kelembagaan petani serta investasi pada infrastruktur pascapanen, durian Sulteng diharapkan mampu naik kelas dari komoditas lokal menjadi produk hortikultura berorientasi global.


Pasar China sudah terbuka. Tantangannya kini adalah bagaimana Sulteng mampu menjaga kualitas, kontinuitas pasokan dan efisiensi distribusi sekaligus memberikan kepastian kepada petani dan investor agar peluang tersebut benar-benar berbuah kesejahteraan masyarakat.

×
Berita Terbaru Update