Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Jejak Historis Junus Johan Lengkong Dari Agen KLM di Kolonodale Hingga Sekda Pertama Buol Tolitoli

| 19:08 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-16T13:12:21Z

 



Oleh: Elkana Lengkong Redaktur Eksekutif*


ALASANNEWS, PALU — Sejarah besar sering kali tidak hanya tertulis di dalam buku-buku teks resmi, melainkan tersimpan rapat dalam memori lisan (oral history) keluarga para pelakunya. Salah satu fragmen sejarah perintisan penerbangan komersial internasional dan pembentukan birokrasi awal di wilayah Sulawesi Tengah melekat kuat pada sosok Junus Johan Lengkong (1912–1999).


Seluruh rangkaian perjalanan hidup yang luar biasa ini diwariskan melalui untaian cerita yang disampaikan langsung oleh ayah saya Junus Johan Lengkong semasa hidupnya. Memori berharga tersebut dirawat dengan sangat baik dalam ingatan keluarga besar, terutama berdasarkan catatan kisah lisan dari mendiang kakak sulung penulis, Ibu Estefin Martina Malonda Lengkong. Semasa hidupnya, Ibu Estefin merupakan saksi sejarah utama yang banyak mengikuti, menyaksikan, dan merekam langsung pasang surut perjalanan hidup keluarga besar Lengkong sejak zaman perang hingga masa kemerdekaan.


Lahir di era kolonial dan wafat dalam usia senja 87 tahun di Tolitoli pada Juni 1999, kisah lisan yang diwariskan beliau mencerminkan ketangguhan seorang abdi sipil yang melintasi tiga zaman: Hindia Belanda, pendudukan Jepang, hingga fajar kemerdekaan Republik Indonesia.


Didikan MULO Minahasa Menuju Lingkaran Swapraja Buol


Lahir di Desa Kuwil pada tanggal 15 Februari 1912, Junus Johan Lengkong tumbuh besar dengan mengenyam pendidikan formal zaman kolonial. Ia berhasil menyelesaikan studinya di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) Airmadidi, Minahasa Utara, sebuah sekolah setingkat sekolah menengah pertama dengan pengantar bahasa Belanda yang kala itu hanya bisa diakses oleh kalangan terbatas. Bekal pendidikan modern ini membentuk karakter intelektual, kedisiplinan, dan kefasihannya dalam berbahasa Belanda.


Memasuki masa muda, Junus memutuskan untuk meninggalkan tanah kelahirannya di Minahasa Utara untuk merantau. Ia mengikuti pamannya, George Dampoli, yang kala itu berprofesi sebagai seorang hakim kolonial Belanda dan mendapatkan tugas penempatan di wilayah Buol, Sulawesi Tengah.


Kepiawaian Junus dalam hal baca-tulis, administrasi, serta latar belakang pendidikannya yang tinggi segera menarik perhatian otoritas lokal. Tidak butuh waktu lama bagi pemuda Minahasa ini untuk masuk ke dalam lingkaran pemerintahan adat. Ia kemudian diangkat menjadi juru tulis resmi Raja Buol saat itu, Raja Ahmad Turungku. Pengalaman awal sebagai juru tulis swapraja inilah yang menjadi kawah candradimuka bagi Junus dalam menguasai tata laksana birokrasi dan urusan pemerintahan di masa depan.


Membangun Keluarga di Tanah Rantau


Di tanah Buol pula, Junus menemukan tambatan hatinya. Pada tahun 1932, Junus resmi mempersunting Frederika Ticoalu, seorang gadis kelahiran Paleleh tahun 1915. Pasangan ini kemudian dikaruniai 10 orang anak, yang menjadi kekuatan dan penyemangat dalam setiap langkah pengabdian panjangnya di berbagai pelosok Sulawesi.


Waktu terus berjalan memutar roda generasi. Dari 10 bersaudara anak-anak Junus Johan Lengkong dan Frederika Ticoalu, kini tersisa enam orang yang masih hidup melanjutkan estafet keluarga, setelah kedua orang tua beserta tiga saudara lainnya telah dipanggil Yang Maha Kuasa.


Duka pertama di masa lalu menyelimuti keluarga ini ketika putri kedua mereka, Rosa Kayes Lengkong, meninggal dunia akibat sakit saat masih kecil di Leok, Buol. Kehilangan di tanah rantau tersebut disusul tahun-tahun berikutnya oleh sang anak sulung, Ibu Estefin Martina Malonda Lengkong, yang berpulang di Tolitoli pada usia 80-an tahun. Pilar keluarga lainnya, JB Lengkong, juga telah wafat di Manado pada usia lanjut pada tahun 2008, serta Drs. Nico E. Lengkong yang berpulang di Palu pada tahun 2024 kemarin.


Saksi Bisu Pendaratan Catalina di Teluk Tomori


Dari Buol, jalan hidup membawa Junus bertolak ke wilayah selatan. Beliau ditunjuk sebagai perwakilan resmi KLM di Tanah Mori, Kolonodale (sekarang ibu kota Kabupaten Morowali Utara). Sebagai agen lokal (vertegenwoordiger), Junus bertanggung jawab atas logistik krusial, terutama memastikan ketersediaan dan pengisian bahan bakar di laut setiap kali pesawat Catalina mendarat di atas tenangnya perairan Teluk Tomori. Selain logistik, pembersihan jalur perairan dari perahu kayu lokal dan koordinasi dokumen pos komersial berada di bawah kendalinya.


Namun, ketenangan operasional KLM di Tanah Mori berakhir seiring meletusnya Perang Pasifik. Ketika tentara pendudukan Jepang merangsek masuk ke Kolonodale pada tahun 1942, seluruh jejak administrasi dan fasilitas perwakilan KLM dihancurkan guna memutus mata rantai logistik sekutu.


Menembus Badai Laut Banda Sebagai Gunco


Memasuki era pendudukan Jepang, kapasitas intelektual dan kemampuan administrasi Junus Johan Lengkong membuatnya tetap dipercaya memegang wilayah. Beliau diangkat sebagai Gunco (Kepala Distrik/Wedana) di Wosu (Bungku Barat). Jabatan strategis ini beliau pangkas selama delapan tahun, dengan wilayah tugas yang luas hingga membawahi Kepulauan Manui.


Tantangan alam yang ekstrem hampir merenggut nyawanya saat melakukan perjalanan dinas (tourney) ke wilayah Salabangka dan Kepulauan Manui.


Perahu yang ditumpanginya dihantam ombak besar khas perairan laut dalam yang berbatasan dengan Laut Banda hingga tenggelam. Beruntung, mukjizat berpihak padanya. Junus ditemukan oleh nelayan setempat dalam kondisi selamat dan langsung dievakuasi untuk mendapatkan perawatan medis di Rumah Sakit Luwuk.


Peletak Batu Pertama Birokrasi dan Ironi Catatan Sejarah


Pasca-kemerdekaan Indonesia, komitmen pengabdian Junus tidak surut. Setelah sempat bertugas di Buol, beliau mendaftarkan diri dalam peralihan aparatur menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan ditempatkan di Tomohon, Sulawesi Utara.


Panggilan tugas kembali membawanya ke Sulawesi Tengah ketika daerah tersebut mulai menata administrasi wilayahnya. Junus dipindahkan ke Kabupaten Donggala pada masa kepemimpinan Bupati kedua, Hadji Rajawali Muhammad (H.RM) Pusadan.


Dedikasinya diuji saat dipercaya mengemban amanah sebagai Sekretaris Pemilu Pertama pada tahun 1955 sebuah pesta demokrasi pertama Republik Indonesia yang penuh keterbatasan infrastruktur. Pada momentum bersejarah inilah, tepatnya Mei 1955, penulis artikel ini (Elkana Lengkong) lahir sebagai putra bungsu di Rumah Sakit Palu yang terletak di bilangan Jalan Hasanuddin.


Puncak karier birokrasi Junus Johan Lengkong tercatat pada tahun 1960. Seiring terbentuknya daerah otonom Kabupaten Buol Tolitoli berdasarkan undang-undang baru, H.RM Pusadan ditunjuk menjadi Bupati pertama wilayah tersebut. Sebagai mitra kerja tepercaya, Junus Johan Lengkong diangkat menjadi Sekretaris Daerah (Sekda) pertama Kabupaten Buol Tolitoli. 


Beliau mengabdi dengan loyalitas tanpa batas, melewati masa kepemimpinan H.RM Pusadan hingga bupati kedua, H. Muhammad Kasim Razak. Sebagai Sekda pertama, beliau meletakkan fondasi awal seluruh sistem administrasi, tata kelola pemerintahan, dan pelayanan publik di Buol Tolitoli hingga memasuki masa pensiunnya.


Namun, ada sebuah realitas miris yang membentang di balik dedikasi panjang tersebut. Ketika lembaran-lembaran buku sejarah resmi Kabupaten Buol Tolitoli disusun, nama Junus Johan Lengkong justru alpa dan tidak tercatat sebagai pionir birokrasi yang menemani langkah awal para bupati pertama.


Bagi kami, pihak keluarga dan anak-cucu yang ditinggalkan, apalah arti sebuah goresan tinta di atas kertas formalitas. Cerita-cerita penuturan dari lisan Ayahanda semasa hidupnya yang sempat dijaga erat oleh ingatan mendiang kakak sulung kami, jauh lebih bernilai dan otentik. 


Sejarah sejati tidak dibangun di atas ruang-ruang arsip yang bisa terlupakan, melainkan terpahat pada denyut pembangunan daerah yang dirasakan masyarakat hingga hari ini. Rekam jejak Junus Johan Lengkong adalah cerminan dari dedikasi tanpa batas seorang putra daerah yang menjahit sejarah Sulawesi Tengah—sebuah pembuktian otentik bahwa sejarah nyata tak akan mungkin terhapus begitu saja oleh waktu.

Warisan Abadi dan Filosofi "Biji Mangga"


Kini, waktu telah berlalu, namun pohon kehidupan yang ditanam oleh Junus Johan Lengkong terus tumbuh subur. Garis keturunan beliau yang meliputi anak, cucu, hingga buyut kini telah tersebar luas di seluruh penjuru Nusantara. Mereka berkarya di berbagai bidang dan profesi masing-masing, mengabdi pada masyarakat sesuai dengan talenta dan karunia yang Tuhan berikan.


Di balik kesuksesan keturunannya, ada satu untaian kata bijak penuh makna mendalam dari almarhum Ayahanda yang selalu beliau sampaikan, dirawat dalam memori kolektif keluarga dari anak tertua hingga si bungsu, dan kini tertanam kuat di hati seluruh keturunannya:


"Setiap kali jika kamu makan buah mangga rasa enak, jangan dibeli, tetapi tanam bijinya agar kamu bisa puas dengan memetik di pohon sendiri yang buahnya lebat."


Petuah sederhana namun filosofis ini bukan sekadar tentang bercocok tanam. Ini adalah manifesto hidup tentang kemandirian, kerja keras, dan pentingnya menanam kebaikan serta investasi masa depan. Junus Johan Lengkong telah membuktikannya sepanjang hidup. Beliau menanam "biji-biji" birokrasi, integritas, dan dedikasi di tanah Sulawesi Tengah, agar generasi hari ini dapat memetik buah kemerdekaan dan kemajuan daerah dengan penuh rasa bangga.


*Penulis adalah jurnalis dan putra bungsu almarhum Junus Johan Lengkong)

×
Berita Terbaru Update