Oleh: Elkana Lengkong
Redaktur Eksekutif ALASANNEWS
ALASANNEWS, PALU — Bursa Pemilihan Rektor (Pilrek) Universitas Tadulako (Untad) periode 2027–2031 mulai menjadi perhatian di lingkungan akademik. Sejumlah nama diperkirakan akan meramaikan kontestasi untuk memimpin perguruan tinggi negeri terbesar di Sulawesi Tengah tersebut.
Salah satu figur yang dinilai memiliki peluang kuat ialah Rektor Untad, Prof. Dr. Ir. Amar, S.T., M.T., IPU., ASEAN Eng. Sebagai petahana, ia memiliki pengalaman langsung dalam mengelola universitas sekaligus menjalankan berbagai agenda pengembangan institusi.
Pengalaman tersebut menjadi modal penting menghadapi kontestasi. Kesinambungan program yang telah berjalan dapat menjadi salah satu tawaran, sementara rekam jejak selama memimpin Untad akan menjadi bahan penilaian sivitas akademika.
Di bawah kepemimpinannya, sejumlah agenda diarahkan pada penguatan tata kelola, digitalisasi, internasionalisasi, pengembangan sumber daya manusia, riset, infrastruktur, serta perluasan jejaring kerja sama. Kebijakan itu ditempatkan dalam kerangka menghadapi perubahan pendidikan tinggi yang berlangsung semakin cepat.
Melanjutkan Arah Pengembangan Untad
Pergantian kepemimpinan perguruan tinggi tidak terlepas dari persoalan keberlanjutan program. Kebijakan strategis yang telah dirancang membutuhkan konsistensi agar tidak terhenti ketika terjadi pergantian pemimpin.
Prof. Amar mendorong pengembangan Untad agar tidak hanya berorientasi pada penyelesaian persoalan jangka pendek. Universitas, menurutnya, membutuhkan arah yang jelas dan terukur untuk menjawab tantangan masa depan, terutama di tengah perkembangan teknologi digital.
Transformasi itu mencakup penguatan akademik, peningkatan kualitas sumber daya manusia, pemanfaatan teknologi, pembangunan fasilitas, pengembangan penelitian, hingga perluasan kerja sama internasional.
Semangat tersebut tercermin dalam jargon Dies Natalis ke-45 Untad tahun 2026, yakni KITA: Kolaborasi, Inovasi, Transformasi, dan Adaptasi.
Empat prinsip itu diharapkan tidak berhenti sebagai slogan. Prof. Amar menilai, KITA harus diwujudkan dalam budaya akademik, tata kelola, serta pola kerja seluruh sivitas akademika.
Menurutnya, Untad tidak cukup hanya menjalankan rutinitas kelembagaan. Kampus harus mampu menghadirkan terobosan yang sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, serta kebutuhan masyarakat.
“Rektor Transformasi Digital”
Dalam proses perubahan tersebut, Prof. Amar menyebut dirinya mendapat julukan “Rektor Transformasi Digital” dari kalangan mahasiswa Fakultas Teknik.
Julukan tersebut, menurutnya, menggambarkan pergeseran pengelolaan Untad dari pola konvensional menuju tata kelola berbasis teknologi.
“Kalau awal Untad terbentuk, Rektor pertama Prof. Dr. Mattulada disebut founding father atau bapak pendiri. Di Fakultas Teknik, anak-anak teknik memberikan panggilan kepada saya sebagai Rektor Transformasi Digital. Artinya, Untad yang dahulu terbentuk pada era konvensional kini memasuki era transformasi digital,” kata Prof. Amar kepada Alasanews melalui pesan WhatsApp, Selasa (25/8/2026).
Ia menegaskan, perkembangan teknologi harus diikuti perubahan pola pikir dan budaya akademik. Perguruan tinggi tidak cukup hanya menyediakan perangkat digital, tetapi juga membutuhkan sumber daya manusia yang mampu menggunakannya secara produktif.
“Di era transformasi ini, Untad secara akademik harus memiliki mindset dan culture set yang penuh transformasi. Sebab, Untad merupakan perguruan tinggi yang menghasilkan pola pikir intelektual untuk kemajuan bangsa di era perubahan,” ujarnya.
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa digitalisasi yang didorong Prof. Amar tidak sebatas pengadaan perangkat maupun pembangunan sistem. Perubahan juga menyentuh pola kerja, budaya organisasi, dan kesiapan sivitas akademika menghadapi perkembangan teknologi.
Memperkuat Jejaring Internasional
Internasionalisasi menjadi salah satu agenda dalam pengembangan Untad. Salah satu langkahnya diwujudkan melalui kemitraan dengan Hainan University, China.
Kerja sama tersebut mencakup pendidikan, penelitian, pertukaran sivitas akademika, serta pengembangan pusat penelitian. Salah satu fasilitas yang dikembangkan ialah Tropical Aquaculture Science and Technology Demonstration Center (TASTDC) di lingkungan Untad.
Prof. Amar menilai kemitraan internasional harus memberikan manfaat nyata bagi institusi. Kerja sama dengan perguruan tinggi luar negeri tidak semestinya berhenti pada penandatanganan nota kesepahaman, melainkan diwujudkan dalam program yang memberi manfaat bagi mahasiswa, dosen, peneliti, dan pengembangan universitas.
Selain kerja sama tersebut, Untad disebut mendapat tawaran pengembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Prof. Amar mengatakan, pengembangan teknologi itu akan dilakukan melalui kerja sama dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Untad menjadi salah satu universitas yang mendapat tawaran untuk mengembangkan program tersebut.
Pembangunan fasilitasnya dijadwalkan mulai Oktober 2026. Pada tahap awal, pihak mitra juga disebut akan menyerahkan 500 unit kendaraan bermotor listrik untuk mendukung kebutuhan operasional kampus.
“Hal ini dengan cepat saya respons sebagai rektor agar mereka tidak mengira kita hanya gertak sambal. Ini saya lakukan guna mempersiapkan Untad menuju World Class University,” kata Prof. Amar.
Langkah itu menjadi bagian dari upaya memperluas jejaring Untad sekaligus membuka ruang pemanfaatan teknologi baru untuk mendukung pendidikan, penelitian, dan pelayanan universitas.
KLiKS sebagai Identitas Akademik
Arah pengembangan Untad juga berkaitan dengan visi Kajian Lingkungan Kebumian Strategis (KLiKS). Konsep tersebut diarahkan menjadi salah satu identitas akademik yang sesuai dengan karakter serta potensi Sulawesi Tengah.
Visi yang diusung adalah:
“Menjadi Perguruan Tinggi Berstandar Internasional yang Unggul, Tangguh, dan Adaptif (UNTAD) dalam Kajian Lingkungan Kebumian Strategis.”
Prof. Amar berpandangan, visi tersebut harus diterjemahkan ke dalam program yang mampu meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, sekaligus daya saing lulusan.
Kekayaan lingkungan dan sumber daya alam Sulawesi Tengah dapat menjadi ruang pengembangan penelitian. Kondisi itu juga membuka peluang bagi Untad untuk memberikan kontribusi lebih besar dalam menjawab berbagai persoalan pembangunan daerah.
Dengan pendekatan tersebut, keunggulan Untad tidak hanya diukur berdasarkan posisi dalam pemeringkatan perguruan tinggi. Lebih jauh, kampus dituntut mampu menghasilkan pengetahuan dan inovasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Menyiapkan Untad Menuju Kelas Dunia
Target menjadi universitas berkelas dunia menjadi bagian dari arah pengembangan yang tengah didorong. Prof. Amar mengakui posisi Untad dalam pemeringkatan perguruan tinggi masih perlu ditingkatkan.
Namun, menurutnya, persiapan menuju standar internasional tidak harus menunggu seluruh indikator pemeringkatan terpenuhi.
“Walaupun Untad sebagai universitas rangking masih di bawah, kita sudah harus mempersiapkan dari saat ini. Secara visi, Untad ke depan tetap terkait kajian yang berstandar internasional dan itu harus dikejar,” ujarnya.
Pembenahan internal karena itu menjadi pekerjaan penting. Sistem digital, fasilitas kelistrikan, dan sarana air bersih disebut sebagai sejumlah kebutuhan yang harus segera dituntaskan.
“Untad sudah harus memiliki konsep penuh lompatan besar. Tahun ini kita sudah harus menyelesaikan sistem digital, sarana listrik, dan sarana air bersih,” katanya.
Ketersediaan infrastruktur dasar menjadi fondasi bagi peningkatan kualitas layanan pendidikan, penelitian, serta aktivitas mahasiswa dan dosen.
Pada saat yang sama, target menuju perguruan tinggi berkelas dunia membutuhkan pembenahan menyeluruh. Kualitas akademik, riset, sumber daya manusia, fasilitas, tata kelola, jejaring internasional, serta kemampuan beradaptasi dengan teknologi harus bergerak dalam arah yang selaras.
Pilrek sebagai Adu Gagasan
Menjelang Pilrek, Prof. Amar berharap kontestasi berlangsung sehat dengan mengedepankan gagasan. Ia mengingatkan agar persaingan tidak berubah menjadi arena saling menjatuhkan.
Menurutnya, setiap kandidat perlu memiliki konsep yang jelas mengenai masa depan Untad. Perbedaan gagasan seharusnya diuji melalui program, kapasitas manajerial, pengalaman akademik, serta strategi menghadapi tantangan pendidikan tinggi.
“Karena itu, dalam Pilrek tahun ini saya kira tentu kita harus menjual ide secara akademis, searah dengan kemajuan zaman dan tentu harus profesional. Hilangkan cara-cara seperti saling menjatuhkan. Ingat, Pilrek ini memilih pemimpin universitas, kampus yang menelorkan para intelektual,” tegasnya.
Pandangan tersebut menempatkan Pilrek bukan sekadar persaingan memperebutkan jabatan rektor. Hasil pemilihan akan menentukan arah kebijakan, prioritas program, dan strategi pengembangan Untad pada periode berikutnya.
Setiap kandidat dengan demikian dituntut menghadirkan gagasan yang realistis, terukur, serta memiliki orientasi jangka panjang.
Petahana dengan Modal Pengalaman
Sebagai petahana, Prof. Amar memiliki pengalaman langsung memahami kondisi internal Untad. Ia juga mengetahui tantangan yang masih dihadapi serta sejumlah program yang membutuhkan penguatan.
Digitalisasi, internasionalisasi, pengembangan AI, riset, pembangunan infrastruktur, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi agenda yang dapat diuji dalam proses Pilrek.
Namun, posisi petahana juga menghadirkan tantangan tersendiri. Kebijakan dan capaian selama masa kepemimpinan akan menjadi bagian dari pertimbangan sivitas akademika dalam menilai kelayakan untuk melanjutkan kepemimpinan.
Untad juga menghadapi tekanan dari luar kampus, mulai dari persaingan antarperguruan tinggi, tuntutan peningkatan mutu, perkembangan teknologi, kebutuhan dunia kerja, akreditasi, pemeringkatan, hingga ekspektasi masyarakat.
Situasi tersebut membutuhkan kepemimpinan yang mampu mempertahankan kesinambungan program sekaligus membuka ruang bagi pembaruan.
Menentukan Arah Untad 2027–2031
Pilrek Untad periode 2027–2031 menjadi momentum penting bagi masa depan universitas. Pergantian kepemimpinan tidak sekadar menentukan siapa yang menduduki kursi rektor, tetapi juga menetapkan prioritas pembangunan institusi dalam beberapa tahun mendatang.
Untad membutuhkan pemimpin yang mampu menjaga program yang telah berjalan sekaligus terbuka terhadap inovasi. Persaingan pendidikan tinggi yang semakin ketat menuntut kampus memiliki kemampuan beradaptasi tanpa kehilangan karakter akademiknya.
Dalam konteks tersebut, pengalaman Prof. Amar sebagai petahana menjadi salah satu modal yang dapat diperhitungkan. Rekam jejaknya akan berhadapan dengan visi dan program kandidat lain yang kemungkinan muncul dalam kontestasi.
Meski demikian, keputusan akhir tetap berada dalam mekanisme Pilrek sesuai ketentuan yang berlaku. Setiap kandidat memiliki ruang yang sama untuk menawarkan visi, program, dan strategi terbaik bagi Untad.
Siapa pun yang terpilih nantinya akan menghadapi pekerjaan besar. Rektor periode 2027–2031 dituntut meningkatkan mutu akademik, memperkuat penelitian, memperluas jejaring internasional, mempercepat digitalisasi, membangun infrastruktur, serta memastikan lulusan memiliki daya saing.
Bagi Prof. Amar, agenda perubahan tidak boleh berjalan lambat. Transformasi harus menjadi pijakan agar Untad mampu menghadapi persaingan pendidikan tinggi yang semakin dinamis.
“Dengan sistem transformasi, Untad sudah harus membenahi diri dengan penuh lompatan besar menuju kualitas perguruan tinggi internasional,” pungkasnya.


