Oleh: Elkana Lengkong
Redaktur Eksekutif
ALASANNEWS, PALU — Perekonomian Sulawesi Tengah menunjukkan sejumlah perkembangan positif sepanjang 2026. Stabilitas harga tetap terjaga, nilai tukar petani meningkat, neraca perdagangan mencatat surplus, sementara aktivitas transportasi udara dan perjalanan wisatawan nusantara turut mengalami pertumbuhan.
Capaian tersebut menjadi bagian dari dinamika pembangunan Sulawesi Tengah di bawah kepemimpinan Gubernur Dr. H. Anwar Hafid, M.Si., yang menjalankan agenda pembangunan melalui 9 Program Berani.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tengah dalam Berita Resmi Statistik yang dirilis Selasa (1/9/2026) mencatat inflasi tahunan atau year-on-year (YoY) Sulteng pada Agustus 2026 sebesar 2,61 persen. Pada saat yang sama, secara bulanan Sulteng mengalami deflasi 0,18 persen.
Inflasi tahunan tersebut masih berada dalam sasaran pengendalian inflasi nasional, yakni 2,5 persen dengan toleransi plus-minus 1 persen.
Gubernur Anwar Hafid menilai perkembangan sejumlah indikator tersebut menunjukkan program pemerintah masih berjalan sesuai arah yang ditetapkan.
"Itu artinya on progress. Program pemerintah pusat maupun provinsi, kabupaten, serta kota di Sulteng masih berjalan in the track (berada di jalur yang benar)," ujar Anwar Hafid kepada Alasannews, Rabu (2/9/2026), melalui pesan singkat WhatsApp.
Inflasi Terkendali, Pangan Menjadi Faktor Penting
Deflasi Agustus 2026 terutama dipengaruhi kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang memberikan andil sebesar 0,21 persen.
Sejumlah komoditas yang berkontribusi terhadap penurunan harga antara lain tomat, bawang merah, cabai rawit, ikan selar, serta emas perhiasan.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa pasokan dan distribusi komoditas menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas harga. Bagi pemerintah daerah, pengendalian pangan tetap menjadi salah satu instrumen utama untuk melindungi daya beli masyarakat.
Namun, perkembangan inflasi tidak seragam di seluruh wilayah.
Kota Palu mencatat inflasi tahunan sebesar 2,73 persen, sedangkan Kabupaten Tolitoli sebesar 2,11 persen. Keduanya masih berada dalam rentang sasaran inflasi.
Di Kabupaten Morowali, inflasi tahunan tercatat 1,22 persen, atau berada di bawah batas bawah sasaran.
Sementara itu, Kabupaten Banggai menghadapi tekanan harga yang lebih tinggi dengan inflasi tahunan mencapai 4,58 persen. Salah satu komoditas yang turut memengaruhi perkembangan harga bulanan di daerah tersebut adalah balok es.
Perbedaan tersebut menunjukkan perlunya kebijakan pengendalian inflasi yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing daerah, terutama dalam memastikan ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi.
Nilai Tukar Petani Menguat
Sinyal positif juga terlihat dari sektor pertanian. BPS mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) Sulawesi Tengah pada Agustus 2026 mencapai 104,18, meningkat 0,98 persen dibandingkan Juli yang berada pada level 103,17.
Kinerja serupa tercermin pada Nilai Tukar Usaha Petani (NTUP). Pada Agustus 2026, NTUP mencapai 107,66, naik 0,53 persen dari posisi Juli sebesar 107,10.
Peningkatan NTP dan NTUP menunjukkan membaiknya posisi tukar petani, baik dalam kaitannya dengan kebutuhan konsumsi rumah tangga maupun biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan produksi.
Bagi Sulawesi Tengah, indikator tersebut memiliki arti strategis. Pertanian masih menjadi salah satu sektor yang menopang aktivitas ekonomi masyarakat, khususnya di wilayah perdesaan.
Ketika penerimaan petani membaik, ruang konsumsi rumah tangga dan aktivitas ekonomi di daerah juga berpotensi ikut meningkat.
Neraca Perdagangan Surplus US$6,782 Miliar
Kinerja kuat juga tercatat pada sektor perdagangan luar negeri.
BPS mencatat neraca perdagangan Sulawesi Tengah sepanjang Januari–Juli 2026 mengalami surplus sebesar US$6.782,00 juta, atau sekitar US$6,782 miliar.
Surplus tersebut menunjukkan nilai ekspor Sulteng jauh lebih besar dibandingkan impor selama periode tersebut.
Kinerja perdagangan luar negeri tidak terlepas dari perkembangan industri pengolahan dan komoditas unggulan Sulawesi Tengah. Aktivitas ekspor menjadi salah satu penopang penting dalam struktur perekonomian daerah.
Meski demikian, besarnya nilai perdagangan perlu diikuti dengan peningkatan manfaat ekonomi di dalam daerah. Hilirisasi, penciptaan lapangan kerja, penguatan usaha lokal, dan peningkatan pendapatan masyarakat menjadi aspek penting agar aktivitas perdagangan memberikan dampak yang lebih luas.
Dengan demikian, keberhasilan ekspor tidak hanya tercermin dari besarnya surplus, tetapi juga dari kemampuan ekonomi daerah mengubah aktivitas perdagangan menjadi nilai tambah bagi masyarakat.
Transportasi Udara dan Pariwisata Bergerak Naik
Indikator lain terlihat dari peningkatan mobilitas masyarakat.
Perjalanan wisatawan nusantara dengan tujuan kabupaten/kota di Sulawesi Tengah tercatat meningkat 0,90 persen.
Aktivitas transportasi udara juga mengalami pertumbuhan. Frekuensi penerbangan di Sulteng meningkat 2,03 persen, dengan total mencapai 1.358 penerbangan.
Jumlah penumpang pesawat bahkan tumbuh 4,12 persen, mencapai 100.016 orang.
Peningkatan tersebut menunjukkan aktivitas konektivitas antarwilayah semakin bergerak. Bagi Sulawesi Tengah yang memiliki potensi wisata alam, budaya, dan bahari, konektivitas udara menjadi salah satu faktor pendukung untuk memperluas mobilitas wisatawan sekaligus menggerakkan sektor perdagangan dan jasa.
Tantangan Pemerintah: Memastikan Pertumbuhan Lebih Merata
Rangkaian indikator BPS tersebut memberikan gambaran mengenai sejumlah fondasi ekonomi Sulawesi Tengah pada Agustus 2026.
Inflasi tahunan masih terkendali, NTP dan NTUP mengalami penguatan, neraca perdagangan mencatat surplus besar, sedangkan aktivitas penerbangan dan jumlah penumpang menunjukkan pertumbuhan.
Namun, capaian tersebut juga menyisakan pekerjaan rumah.
Tekanan inflasi di Banggai serta rendahnya inflasi Morowali dibandingkan batas sasaran memperlihatkan bahwa kondisi ekonomi antardaerah tidak sepenuhnya seragam. Pemerintah perlu memastikan kebijakan pembangunan mampu menjawab karakteristik dan persoalan masing-masing wilayah.
Penguatan produksi pangan, efisiensi distribusi, peningkatan daya saing usaha masyarakat, perluasan lapangan kerja, serta konektivitas antardaerah menjadi sejumlah agenda yang perlu dikawal secara berkelanjutan.
Anwar Hafid dan Agenda Ekonomi Sulteng
Bagi pemerintahan Anwar Hafid, tantangan utama bukan sekadar mempertahankan indikator makro yang positif, tetapi memastikan dampaknya benar-benar dirasakan masyarakat.
Melalui 9 Program Berani, pemerintah provinsi mengarahkan pembangunan pada sejumlah sektor yang berkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat, termasuk kesehatan, pendidikan, ekonomi, pelayanan publik, dan penguatan kapasitas sumber daya manusia.
Data BPS Agustus 2026 menjadi salah satu gambaran mengenai kondisi ekonomi daerah dalam periode kepemimpinan Anwar Hafid.
Stabilitas harga memberikan ruang bagi masyarakat untuk menjaga daya beli. Penguatan NTP dan NTUP memberikan sinyal positif bagi petani. Sementara surplus perdagangan menunjukkan besarnya aktivitas ekonomi Sulawesi Tengah di pasar internasional.
Di sektor jasa, pertumbuhan penerbangan dan jumlah penumpang membuka peluang bagi pariwisata, perdagangan, serta ekonomi berbasis mobilitas masyarakat.
Tantangan berikutnya adalah memastikan momentum tersebut berkembang menjadi pertumbuhan yang inklusif, merata, dan berkelanjutan.
Keberhasilan pembangunan pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh rendahnya inflasi atau besarnya surplus perdagangan. Ukuran yang lebih penting adalah kemampuan pertumbuhan ekonomi menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, memperkuat posisi petani dan pelaku usaha, serta memperluas kesejahteraan hingga ke seluruh kabupaten dan kota di Sulawesi Tengah.
Dengan fondasi ekonomi yang mulai menunjukkan sejumlah indikator positif, pemerintahan Anwar Hafid kini memiliki ruang untuk memperkuat kebijakan agar pertumbuhan tidak berhenti pada angka statistik, tetapi diterjemahkan menjadi peningkatan kualitas hidup masyarakat Sulteng..


