- H Anwar Hafid saat jabat Kepala Desa Rantebala Kecamatan Bastem, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, bersama istri Ny. Ir. Sry Nirwanti Bahasoan. (Ist)
Tulisan: Elkana Lengkong, Redaktur Eksekutif
ALASANNEWS, PALU — Di balik perjalanan panjang Dr. H. Anwar Hafid, M.Si., hingga dipercaya memimpin Sulawesi Tengah, tersimpan kisah tentang pengabdian, perjuangan, keluarga, dan cinta yang bermula dari sebuah pertemuan sederhana di tanah rantau.
Kisah itu berawal di Sengkang, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. Saat itu, Anwar Hafid masih menempuh pendidikan di Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) Ujung Pandang dan mengikuti program Kuliah Kerja Nyata (KKN).
Di lokasi yang sama, Anwar bertemu dengan Ir. Sry Nirwanti Bahasoan, mahasiswi Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin (Unhas) yang juga sedang menjalani KKN.
Pertemuan di tengah kegiatan pengabdian tersebut kemudian berkembang menjadi hubungan yang membawa keduanya memasuki perjalanan hidup bersama. Dari tanah rantau itu, terbentuk keluarga yang kelak mendampingi Anwar dalam menapaki berbagai fase kehidupan dan karier pemerintahan.
Pertemuan di Tanah Rantau
Sebelum dikenal sebagai Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid merupakan putra Wosu, Kabupaten Morowali, yang menekuni pendidikan pemerintahan.
Masa KKN di Sengkang menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan hidupnya. Di tengah tugas pengabdian sebagai mahasiswa, ia dipertemukan dengan Sry Nirwanti.
Mengenang awal pertemuan tersebut, Anwar Hafid mengatakan dirinya bertemu dengan sang istri yang memiliki latar keluarga Arab, Jawa, dan Makassar ketika berada di lokasi KKN Sengkang, Wajo, Sulawesi Selatan.
“Saya bertemu istri saya dari keluarga keturunan Arab, Jawa, Makassar, saat di lokasi KKN Sengkang, Wajo, Sulsel,” kata Anwar Hafid kepada Alasannews melalui WhatsApp, Selasa (6/10/2026).
Hubungan tersebut kemudian berlanjut ke jenjang keluarga. Anwar dan Sry dikaruniai dua anak. Putra sulung mereka kini telah berkeluarga dan mendapat amanah sebagai Ketua KONI Sulawesi Tengah, sementara putri bungsu menyelesaikan pendidikan kedokteran di Universitas Trisakti, Jakarta.
Bagi keluarga ini, perjalanan hidup bukan semata tentang pencapaian. Ada kesetiaan, kesederhanaan, dan kebersamaan yang menjadi bagian penting dalam melewati setiap fase.
Menjadi Kepala Desa di Usia Muda
Setelah menyelesaikan pendidikan APDN pada 1991, Anwar Hafid memasuki dunia pemerintahan.
Pada usia 22 tahun, ia dipercaya menjadi Kepala Desa Ranteballa, Kecamatan Bastem, Kabupaten Luwu, untuk periode 1992–1997.
Penugasan tersebut menjadi fase penting dalam membentuk pengalaman sekaligus karakter kepemimpinannya.Ranteballa ketika itu merupakan wilayah pegunungan dengan akses transportasi dan fasilitas dasar yang masih terbatas. Bagi keluarga muda Anwar Hafid, tinggal di daerah pedalaman tentu bukan perkara mudah.
Jauh dari berbagai fasilitas perkotaan, mereka harus beradaptasi dengan kondisi lingkungan sekaligus kehidupan masyarakat yang sederhana. Namun, keadaan tersebut justru membuka ruang bagi Anwar untuk mengenal persoalan warga secara langsung.
Ia tidak hanya memahami masyarakat melalui laporan administrasi pemerintahan, tetapi hadir dan hidup bersama mereka. Dari pengalaman itu, pemahaman terhadap kebutuhan serta persoalan warga semakin terbentuk.
Menembus Belantara demi Melayani Warga
Pada awal 1990-an, akses menuju sejumlah wilayah di Ranteballa masih berupa jalan setapak yang terjal dan dikelilingi hutan.
Untuk menjalankan tugas pemerintahan dan menjangkau masyarakat, Anwar harus menempuh perjalanan dengan berjalan kaki, bahkan menggunakan kuda. Kondisi geografis tersebut menuntut ketekunan serta kesiapan bekerja dalam keterbatasan.
Selama menjalani penugasan di Luwu, mulai dari kepala desa hingga kemudian dipercaya sebagai camat, Anwar dan keluarganya terbiasa dengan kehidupan sederhana.
Interaksi intensif dengan warga juga membuatnya semakin dekat dengan budaya lokal. Ia berbaur dalam kehidupan sehari-hari dan membangun komunikasi dengan berbagai lapisan masyarakat.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses yang membentuk cara pandangnya terhadap pelayanan pemerintahan, terutama bagaimana kebutuhan warga di tingkat paling bawah harus dipahami secara langsung.
Dari Desa Gelap Menjadi “Kota Bersinar”
Keterbatasan fasilitas tidak menghentikan upaya pelayanan kepada masyarakat. Ketika melihat Ranteballa belum memiliki penerangan listrik yang memadai, Anwar berinisiatif menghadirkan mesin genset untuk memenuhi kebutuhan penerangan warga.
Upaya itu membawa perubahan bagi kehidupan masyarakat. Ketika malam tiba, desa yang sebelumnya gelap mulai terang. Ranteballa kemudian dikenal dengan sebutan “kota bersinar”.
Persoalan warga tidak berhenti pada kebutuhan penerangan. Pendidikan dan transportasi juga menjadi perhatian.
Ketika luapan sungai menyebabkan jembatan utama terputus dan menghambat anak-anak menuju sekolah, Anwar bersama tokoh masyarakat, termasuk Bapak Ito, menginisiasi pembangunan jembatan gantung secara gotong royong di belakang sekolah.
Jembatan tersebut menjadi akses penting bagi masyarakat untuk kembali menjalankan aktivitas sehari-hari.
Semangat gotong royong juga terlihat dalam pembangunan tugu desa yang dikerjakan secara swadaya bersama masyarakat dalam waktu relatif singkat.
Pengalaman itu menunjukkan bahwa keterbatasan tidak selalu menjadi penghalang. Dalam kondisi tertentu, justru lahir kreativitas, kebersamaan, dan keberanian untuk mencari solusi.
Kepemimpinan Tanpa Sekat
Selama menjalankan tugas di tengah masyarakat, Anwar membangun hubungan dengan berbagai kelompok warga.
Tokoh masyarakat, pemuda, guru, bidan, serta berbagai unsur lainnya menjadi bagian dari lingkungan sosial tempat ia mengabdikan diri.
Hubungan tersebut dibangun dengan menghargai keberagaman. Kehadiran dalam kegiatan sosial dan keagamaan menjadi bagian dari interaksi kemasyarakatan selama menjalankan penugasan.
Di luar tugas pemerintahan, kegiatan pemberdayaan masyarakat juga dilakukan bersama warga, termasuk melalui kegiatan Dasawisma yang berlangsung pada akhir pekan.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa kepemimpinan tidak selalu tumbuh dari ruang kantor. Karakter seorang pemimpin dapat terbentuk melalui kedekatan dengan masyarakat, kesediaan mendengar persoalan warga, serta keberanian untuk hadir ketika dibutuhkan.
Dari Akar Rumput Menuju Puncak Pengabdian
Perjalanan Anwar Hafid dari KKN di Sengkang hingga dipercaya memimpin Sulawesi Tengah tidak berlangsung dalam waktu singkat.
Proses panjang itu dimulai dari pengabdian di tingkat desa, kehidupan sederhana di daerah terpencil, interaksi langsung dengan masyarakat, hingga menapaki berbagai jenjang pemerintahan.
Dari Ranteballa, Anwar melanjutkan pengabdiannya sebagai camat. Kariernya kemudian berkembang hingga dipercaya menjadi Bupati Morowali selama dua periode, anggota DPR RI, dan akhirnya Gubernur Sulawesi Tengah.
Di sepanjang perjalanan tersebut, Sry Nirwanti Bahasoan hadir sebagai pendamping hidup yang turut melewati berbagai fase perjuangan keluarga.
Dari kehidupan sederhana di daerah penugasan hingga perjalanan menuju panggung pemerintahan yang lebih luas, keluarga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan tersebut.
Kisah Anwar Hafid dan Sry Nirwanti menunjukkan bahwa perjalanan besar tidak selalu dimulai dari tempat yang besar.
Semuanya dapat berawal dari sebuah pertemuan sederhana, penugasan di daerah terpencil, serta keberanian menjalankan tanggung jawab dalam segala keterbatasan.
Dari Sengkang, perjalanan itu berlanjut ke Ranteballa. Di sebuah desa di pegunungan, langkah pengabdian bergerak melewati berbagai jenjang pemerintahan hingga tingkat provinsi.
Pada akhirnya, kisah tersebut bukan sekadar perjalanan seorang pejabat menuju puncak karier. Di dalamnya terdapat cerita tentang dua insan yang bertemu di tanah rantau, membangun keluarga, melewati kesederhanaan, dan berjalan bersama dalam berbagai fase kehidupan.
Sebuah perjalanan yang mengajarkan bahwa pengabdian dibangun secara bertahap melalui pengalaman, kesederhanaan, keluarga, kebersamaan, serta keberanian untuk terus hadir di tengah masyarakat.



