Oleh: Elkana Lengkong
Dr. H. Anwar Hafid, M.Si., dan dr. Reny A. Lamadjido, Sp.PK., M.Kes., tepat satu tahun sudah menahkodai Sulawesi Tengah. Dalam waktu yang relatif singkat ini, duet kepemimpinan ini tengah membuktikan tanggung jawabnya melalui program unggulan "Sembilan Berani". Sebuah visi besar untuk mewujudkan Sulteng NAMBASO (Nyaman, Aman, Maju, Bantuan, Adaptif, Solutif, dan Optimis), agar tak ada lagi rakyat yang merasa seperti "tikus mati di lumbung pangan."
Hilirisasi Industri dan Kebangkitan Ekonomi Hijau
Keberhasilan Anwar Hafid dalam mengawal industri nikel di Morowali saat dua periode menjabat Bupati Motowali. Kini dilanjutkan dengan langkah visioner sebagai Gubernur Sulteng di wilayah lain.
Kehadiran kawasan industri Neo Energi Parimo Industrial Estate (NEPIE) di Kecamatan Siniu, Parigi Moutong, menjadi bukti kerja keras Gubernur dalam menciptakan raksasa ekonomi baru yang ramah lingkungan.
Upaya ini mendapat apresiasi dari tokoh senior Partai Golkar Anggota Komisi XI Dapil Sulteng sekaligus Wakil Ketua Banggar DPR-RI, H. Muhidin Said. Ia menekankan bahwa sebagai pemilik potensi nikel terbesar di dunia, Sulteng harus berani menangkap peluang investasi untuk mengalami perubahan.
Belajar dari masa lalu, di mana penolakan terhadap potensi besar seperti PLTA Danau Lindu di era Gubernur HA Azis Lamadjido sempat menyisakan penyesalan saat krisis listrik melanda, kini di bawah arahan Anwar Hafid, ketersediaan energi dan investasi menjadi prioritas utama
Fondasi Kokoh di Tengah Tekanan Fiskal
Gubernur Anwar Hafid menegaskan bahwa tahun pertama adalah fase peletakan fondasi pemerintahan yang responsif dan terbuka. Meski menghadapi tantangan pemotongan anggaran dari pusat, ia memilih untuk tetap tegak.
"Pemerintah tidak boleh lemah. Jika pemerintah loyo, rakyat ikut lemah. Kami memilih tetap bekerja dan memastikan program prioritas tetap berjalan," tegas Anwar. Terbukti, pertumbuhan ekonomi Sulteng tetap bertahan sebagai yang tertinggi kedua secara nasional.
Implementasi Nyata "Sembilan Berani"
Dua pilar utama, Berani Cerdas dan Berani Sehat, telah dirasakan manfaatnya secara langsung oleh masyarakat:
Pendidikan (Berani Cerdas): Pemerintah telah bekerja sama dengan sekitar 400 perguruan tinggi. Melalui sistem transfer langsung ke kampus, mahasiswa penerima manfaat tidak lagi terbebani biaya pendidikan.
"Negara hadir memastikan anak-anak kita tidak putus sekolah," ujar Anwar.
Kesehatan (Berani Sehat): Di saat 111 ribu kepesertaan JKN di Sulteng dinonaktifkan, Gubernur mengambil langkah berani: warga tetap bisa berobat gratis hanya dengan membawa KTP. Prestasi medis pun tercapai dengan suksesnya operasi jantung terbuka pertama di RSUD Undata.
Kemandirian Tenaga Medis: Wakil Gubernur Reny Lamadjido menambahkan, pada 2026 Sulteng akan membuka pendidikan dokter spesialis bekerja sama dengan Universitas Hasanuddin, menjadikan RSUD Undata sebagai pusat pendidikan utama agar putra daerah tidak perlu jauh-jauh menempuh studi spesialis.
Konektivitas dan Pariwisata Dunia
Di bidang infrastruktur, fokus diarahkan pada pembukaan jalur strategis seperti Sausu–Sigi untuk memperlancar distribusi hasil kebun. Tak hanya darat, sektor udara pun melejit. Rencana pembukaan penerbangan langsung dari Tiongkok pada April 2026 serta pengembangan Bandara Mutiara SIS Al-Jufri sebagai embarkasi haji menjadi target nyata.
Dengan persiapan Kota Palu sebagai tuan rumah Fornas 2027, perputaran ekonomi dari sektor perhotelan, UMKM, dan transportasi dipastikan akan meningkat pesat.
Mengawal Mimpi Bersama
Gubernur Anwar Hafid menyadari bahwa perjalanan ini baru dimulai. "Kami sadar kerja ini belum sempurna, tapi fondasi sudah kita letakkan," pungkasnya. Melalui doa dan kebersamaan seluruh elemen masyarakat, visi Sulteng NAMBASO bukan lagi sekadar slogan, melainkan realitas yang sedang dibangun demi kesejahteraan seluruh rakyat Sulawesi Tengah.



